Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Temu Sutrisno




Di pelupuk senja yang memerah saga,

aku melihat wajah kakek dan  para patriot bangsa.

Mata mereka menyala, seterang cakrawala,

menembus zaman, 

menembus luka, 

menembus sejarah yang perkasa.


Tangan mereka mengepal menggenggam semangat membara,

menghunus senjata menggelorakan api ksatria.

Mereka tegak berdiri di garis bahaya,

menghadang penjajah yang merampas martabat dan harga diri bangsa.


Mereka gugur tanpa meminta nama,

rebah tanpa menagih jasa,

bahkan tidak sempat menikmati hasil perjuangannya.

Darah mereka mengalir menjadi sungai doa,

menyuburkan tanah air yang kini kita sebut Indonesia.


Namun hari ini, di bawah langit yang sama,

aku menyaksikan wajah negeri yang kadang kehilangan arah dan makna.


Demokrasi sering berhenti pada angka,

lupa bahwa rakyat bukan sekadar suara.

Kapitalisme menjalar dari hulu hingga muara,

mengangkut kekayaan bumi, meninggalkan nestapa.


Di ruang kuasa yang penuh agenda,

oligarki menenun jejaringnya.

Sebagian cendekia berdiri di menara ilmu yang megah rupa,

namun lupa menyalakan pelita bagi mereka yang berjalan dalam gulita.


Di layar-layar yang tak pernah jeda,

sumpah serapah menjadi bahasa.

Caci maki dipuja sebagai kebebasan berbicara,

persaudaraan dikorbankan demi tepuk tangan semata.


Ada yang menjual hutan demi angka,

ada yang menggadaikan laut demi laba,

Ada yang mengeruk tambang dengan dahaga,

Ada yang membungkuk pada bangsa asing dengan bangga,

sementara ibu pertiwi menahan air mata.


Lalu aku bertanya pada jiwa:


Apakah para pejuang dahulu mengorbankan nyawa

agar kita saling mencela?

Apakah mereka menantang maut di medan laga

agar kita kehilangan cinta kepada bangsa?


Tidak.


Seribu kali tidak.


Karena itu aku memilih menjaga nyala.


Aku akan terus bekerja, meski jalan tak selalu mudah diterka.

Aku akan terus berkarya, meski sering disambut curiga.

Aku akan terus menjahit tenun kebangsaan yang koyak di sana-sini adanya,

menyatukan benang-benang yang tercerai oleh nafsu dan kuasa.


Aku ingin mencintai Indonesia seperti petani mencintai ladangnya,

seperti nelayan mencintai lautnya,

seperti ibu memeluk anaknya,

tanpa syarat, tanpa jeda, tanpa pura-pura.


Mencintai bukan berarti menutup mata.

Mencintai adalah keberanian berkata ketika ada yang salah arah.

Mencintai adalah kesediaan berkorban meski tak dipuja.

Mencintai adalah tetap setia ketika yang lain memilih pergi meninggalkannya.


Bila suatu hari rambutku memutih seluruhnya,

aku ingin tetap berdiri di bawah Merah Putih yang berkibar mulia,

lalu berkata kepada generasi penerus bangsa:


"Jangan pernah lelah mencintai Indonesia."


Negeri ini bukan hanya warisan mereka yang telah tiada,

melainkan amanah yang harus dijaga.

Dengan hati yang menyala,

dengan jiwa yang setia,

dengan cinta yang tak pernah usai sepanjang masa,


Aku akan terus mencintai Indonesia.

Hari ini.

Esok hari.

Sampai akhir usia.***



Tana Kaili, 20 Mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati