Doa untuk Negeri

Oleh: Temu Sutrisno

Tuhan…

malam ini kami menyalakan sunyi, di antara napas bumi yang letih menanggung bunyi.

Kami datang dengan hati gemetar,dengan mata basah,membawa nama-nama yang patah di jalan sejarah.

Duhai Ilahi,

Jauhkan negeri ini dari hati yang kehilangan nurani, dari tangan yang menadah janji lalu menumpahkan dusta setiap hari.

Embunkan kasih pada tanah yang retak nan pedih, pada laut yang menangis lirih, pada hutan yang ditebang tanpa rasa sedih.

Tuhan…

kami mendengar tangis ibu di dapur yang kehilangan asap, kami mendengar langkah buruh yang pulang dengan punggung gelap.

Kami saksikan cangkul petani yang tak lagi terpakai, sampan nelayan tersangkut jaring sendiri,  ilalang tercerabut dari padang gembala sepi.

Tuhan, kami mengetuk langit-Mu dengan doa yang berulang-ulang, seperti gamelan angin di pegunungan, seperti kidung tua dalam bayang-bayang.

Jadikan pemimpin negeri selembut hujan di sejuk pagi, bukan badai yang mencabik janji, bukan petir yang membakar budi.

Kami ingin para pemimpin menundukkan kepala sebelum menengadah kuasa, sadar kekuasaan tanpa cinta adalah api yang membakar rumah sendiri.

Jangan biarkan negeri ini tumbuh tanpa pekerti,  jangan biarkan anak-anak kehilangan mimpi, oleh mereka yang rakus mengingkari sumpah di hadapan kitab suci.

Kami ingin sawah tetap hijau, laut tetap biru, hutan tetap memeluk burung-burung yang pulang membawa benih.

Tuhan,

jika hati kami mulai mengeras,jatuhkan salju ke dalam jiwa, jika lidah kami mulai dusta,bangunkan malu di pelupuk mata.

Jika amarah mulai menyala, dinginkan dengan cahaya-Mu, jika rakus mulai berkuasa, patahkan dengan kasih-Mu.

Bila malam terasa panjang, nyalakan harapan di setiap pintu, agar setiap jiwa tetap percaya bahwa esok masih punya matahari.

Negeri ini bukan ladang rebutan kuasa, melainkan halaman panjang tempat anak-anak menanam asa.

Tuhan,

Biarkan murai turun ke kali, air mengalir membasuh batu,  jika rakyat menjaga hati, damai negeri kan bersatu.

Tuhan,

Kami ingin negeri ini, senantiasa dalam ridha-Mu. ***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam