Berkurban Bukan Mengorbankan



Oleh: Temu Sutrisno



Ibrahim menerima perintah Tuhan dengan ketaatan 
Ismail menjawab dengan keteguhan
Hajar mencontohkan kesabaran
Tiga nama, satu pelajaran

Kini zaman berubah haluan
Makna kurban dipenuhi kekeliruan
Banyak orang fasih mengucap ketakwaan
Tetapi gemar menukar nurani dengan kepentingan

Mimbar dipenuhi nasihat kebajikan
Ruang rapat dipenuhi persekongkolan
Pidato menjanjikan kemakmuran
Tetapi anggaran menjadi bancakan

Atas nama pembangunan
Sawah berubah jadi timbunan
Hutan kehilangan pepohonan
Sungai menelan pencemaran

Atas nama investasi dan pertumbuhan
Rakyat diminta memahami keadaan
Mereka diminta rela berkorban
Meski tidak menikmati keuntungan

Yang kaya mendapat kemudahan
Yang kecil menerima beban
Yang kuat memperoleh perlindungan
Yang lemah menjadi tumbal kebijakan

Pejabat mengorbankan rakyat demi mempertahankan kedudukan
Pemimpin mengeksploitasi yang miskin untuk memperpanjang kekuasaan 
Pemburu rente menyingkirkan yang papa untuk mempertebal kekayaan 
Aparat memainkan mereka yang tidak punya pelicin tanpa peduli keadilan 

Lalu semua berdiri dalam barisan
Mengenakan pakaian kesalehan
Mengangkat tangan dalam doa permohonan
Sambil menyembunyikan jejak perampasan

Betapa aneh peradaban
Kurban dipahami sebagai pengorbanan
Bukan menyembelih keserakahan
Melainkan menyembelih kemanusiaan 

Mereka membeli hewan kurban
Dengan harga mahal penuh pujian
Tetapi enggan melepaskan keserakahan
Yang setiap hari memangsa kehidupan

Padahal Tuhan tidak membutuhkan persembahan
untuk menambah kebesaran dan kemuliaan
Dia menghendaki ketakwaan
yang tercermin dalam tindakan

Apa arti kambing dan sapi sembelihan
Jika hak rakyat terus dikorbankan?
Apa arti takbir yang dikumandangkan
Jika kejujuran terus disingkirkan?

Bukankah yang semestinya disembelih adalah ketamakan?
Bukankah yang seharusnya dipotong adalah kesombongan?
Bukankah hakikat yang dikurbankan adalah kerakusan?
Bukan masa depan rakyat dan lingkungan

Setiap musim kurban
Hendaknya mengingat kembali ajaran Tuhan
Bahwa berkurban adalah menundukkan kepentingan
Bukan mengorbankan sesama demi keuntungan

Sejarah selalu memberikan peringatan
Peradaban runtuh bukan karena kekurangan
Melainkan karena manusia kehilangan batas kemanusiaan
Saat pengorbanan dianggap lebih mulia daripada keadilan.***


Tana Kaili, 27 Mei 2026/10 Zulhijjah 1447

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam