Berhaji Setiap Hari
Oleh: Temu Sutrisno
Haji bukan usai di tanah suci,
bukan selesai setelah kembali pulang,
koper ditutup, zamzam dibagi,
gelar disandang lalu dikenang,
haji adalah jalan mengabdi,
sepanjang hayat terus terbentang.
Di miqat menata hati,
melepas bangga yang sering menjulang,
ihram mengajar arti sejati,
bahwa manusia setara dipandang,
tak ada kaya tak ada tinggi,
semua hamba di hadapan Tuhan.
Ka'bah berdiri di tengah bumi,
menjadi arah seluruh pandangan,
tawaf mengajar hidup berbunyi,
mengelilingi pusat ketuhanan,
jangan harta menjadi kendali,
jangan kuasa jadi tujuan.
Safa dan Marwah saksi abadi,
jejak Hajar penuh keteguhan,
sa'i mengajar mencari rezeki,
dengan ikhtiar dan pengharapan,
bila rezeki belum berpundi,
jangan berpangku dalam keluhan.
Arafah luas membentang sunyi,
tempat manusia menimbang zaman,
wukuf mengajak mengenal diri,
menghitung salah dan kebaikan,
berapa banyak memberi arti,
berapa sering lupa amanah Tuhan.
Di Mina batu mulai terpilih,
menuju jumrah untuk dilontarkan,
bukan sekadar kerikil kecil,
melainkan nafsu yang harus dilawan,
rakus dan dengki dibuang bersih,
agar nurani tetap bertahan.
Rambut gugur dalam tahallul,
tanda hati diperbarui Tuhan,
yang lama luruh bersama debu,
yang baru tumbuh dalam kesadaran,
dendam dibuang jauh dari kalbu,
kasih disemai dalam pergaulan.
Ibrahim memberi teladan teguh,
Ismail hadir dalam kepasrahan,
kurban mengajar berbagi utuh,
bukan menunggu segala kecukupan,
yang dicintai rela ditempuh,
demi kemaslahatan dan kemanusiaan.
Maka hadirkan haji setiap hari,
di kantor, pasar, dan perkampungan,
jujur menjadi pakaian diri,
adil menjadi dasar keputusan,
menolong sesama tanpa pamrih,
merawat damai penuh persaudaraan.
Jika tawaf hidup dalam nurani,
Sa'i tumbuh dalam tindakan,
jika wukuf menjadi refleksi,
Jumrah menjadi wujud perlawanan,
Sungguh haji bukan seremoni,
melainkan akhlak dalam kehidupan.***
Tana Kaili, 26 Mei 2026/9 Zulhijjah 1447

Komentar
Posting Komentar