Pencurian Nama Israel: Sejarah Kelam Zionisme di Palestina

Oleh: Temu Sutrisno


Dalam panggung sejarah peradaban manusia, narasi sering kali jauh lebih mematikan daripada senjata. Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena mengerikan, sebuah entitas politik modern yang lahir dari rahim kolonialisme Eropa, namun berhasil membungkus dirinya dengan jubah sakralitas kitab suci. Itulah proyek Israel modern, sebuah karya pembajakan nama yang paling sukses dalam sejarah, yang mampu menyulap ambisi teritorial menjadi dogma agama yang tak boleh digugat.

​Banyak orang di luar sana, terutama dari kelompok religius tertentu, masih terjebak dalam ilusi sejarah yang akut. Mereka memuja sebuah negara di Timur Tengah secara membabi buta karena mengira negara yang baru lahir pada tahun 1948 itu adalah kelanjutan langsung dari Bani Israel tiga ribu tahun lalu. Padahal, jika kita mengupas lapisan demi lapisan sejarahnya, yang kita temukan bukanlah petunjuk langit, melainkan strategi aneksasi dan branding politik tingkat tinggi yang licin dan manipulatif.

​Fakta sejarah mencatat bahwa menjelang proklamasi kemerdekaannya pada Mei 1948, para elite Zionis yang ironisnya mayoritas adalah tokoh sekuler-ateis, sempat terlibat perdebatan panas mengenai nama negara yang akan dibentuk. Usulan yang muncul beragam, mulai dari Zion, Yudea, hingga Herzliya.

​Namun, pilihan akhirnya jatuh pada nama Israel. Ini adalah langkah yang sangat kalkulatif. Dengan mencatut nama kuno tersebut, proyek perluasan wilayah modern ini secara otomatis merampas legitimasi historis dan sentimen religius umat beragama di seluruh dunia. Penggunaan nama Israel menciptakan ilusi kontinuitas; seolah-olah David Ben-Gurion adalah penerus langsung Raja Daud, padahal ideologi yang dibawanya adalah nasionalisme sekuler-ateisme Eropa abad ke-19.

​Mitos Kemurnian Darah

​Pencurian nama ini sukses besar menjadi tameng ilusi. Publik awam dicuci otaknya, untuk percaya bahwa populasi negara tersebut adalah seratus persen ras murni keturunan nabi-nabi masa lalu yang bangkit kembali. Namun, sains dan sejarah berkata lain. Setelah ribuan tahun mengembara, menetap, dan berasimilasi di daratan Eropa Timur (Yahudi Ashkenazi) hingga Afrika Utara dan Yaman (Yahudi Sephardic/Mizrahi), percampuran genetik adalah fakta biologis yang mutlak.

​Ikatan yang menyatukan mereka di tanah Palestina hari ini bukanlah kemurnian DNA silsilah masa lalu, melainkan agenda ideologi Zionisme politik. Namun, dengan memakai nama Israel, setiap kritik terhadap kebijakan kolonial mereka segera dipelintir menjadi serangan terhadap "umat pilihan Tuhan". Nama suci itu menjadi perisai gaib yang memaksa dunia untuk tutup mata atas segala kebrutalan dan kejahatan perang yang dilakukan.

​Efek dari pembajakan identitas ini melahirkan fenomena geopolitik yang absurd, terutama di negara-negara Barat. Kelompok fanatik keagamaan rela menggelontorkan dana triliunan dan dukungan senjata tanpa syarat karena merasa sedang menggenapi ramalan akhir zaman.

​Saking butanya pemujaan ini, kita sering melihat realitas yang menyedihkan. Para peziarah religius dari Barat sering terekam kamera sedang diludahi dan dihinakan oleh kelompok ekstremis di jalanan Kota Tua Yerusalem. Namun, anehnya, mereka seolah-olah rela menelan ludah itu, membuang harga diri, dan tetap setia memuja entitas politik tersebut. Bagi mereka, entitas ini adalah simbol iman yang maksum atau tidak pernah salah. Di titik ini, logika telah mati dan digantikan oleh fanatisme buta yang dipicu oleh pencatutan nama suci.

​Akar Zionisme: Dari Eropa ke Palestina

​Untuk memahami bagaimana pembajakan ini terjadi, kita harus melihat akar Zionisme. Gerakan ini bukan lahir dari gerakan spiritualitas di Yerusalem, melainkan respons terhadap antisemitisme di Eropa pada akhir abad ke-19. Theodor Herzl, melalui bukunya Der Judenstaat (1896), memformulasikan ide negara Yahudi sebagai solusi atas persekusi yang mereka alami di tanah Eropa.

​Melalui Kongres Zionis pertama di Basel (1897), gerakan ini mulai terorganisir. Zionis mengincar Palestina bukan murni karena alasan religius. Pada awalnya kaum Zionis sempat memilih wilayah di Uganda atau Argentina. Namun akhirnya Palestina dipilih karena nilai jual narasinya yang paling kuat untuk menarik simpati Yahudi diaspora dan dukungan kaum Kristen Zionis di Inggris.

​Dukungan internasional ini menguat melalui Deklarasi Balfour 1917, di mana Inggris menjanjikan rumah nasional bagi Yahudi di tanah yang saat itu dihuni oleh mayoritas penduduk Arab Palestina. Di sinilah letak dosa asal, menjanjikan tanah milik sebuah bangsa kepada bangsa lain yang datang dari benua yang berbeda.

​Narasi Holocaust dan Mandat Inggris

​Isu Holocaust selama Perang Dunia II di Eropa yang masih diragukan kebenarannya, menjadi katalisator yang mempercepat proyek ini. Isu ini diframing sedemikian rupa, sebagai alat kampanye Zionisme. Mengerikan, meskipun isu itu  dikampanyekan terjadi di Eropa dan dilakukan oleh bangsa Eropa, rakyat Palestina yang harus membayar harganya dengan tanah dan darah mereka. Isu penindasan di masa lalu digunakan sebagai pembenaran untuk melakukan penindasan baru.

​Selama masa Mandat Inggris (1920-1948), gelombang imigrasi (Aliyah) dilakukan secara sistematis. Mereka membeli tanah, mendirikan permukiman bersenjata, dan menciptakan ketegangan dengan penduduk lokal. Puncaknya, pada 14 Mei 1948, sehari sebelum mandat Inggris berakhir, David Ben-Gurion memproklamasikan berdirinya Israel. Proklamasi ini bukan hanya deklarasi kemerdekaan, melainkan lonceng kematian bagi kedaulatan bangsa Palestina, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai Nakba atau malapetaka.

​Senjata Penipuan Massal

​Sejarah telah membuktikan secara nyata bahwa membajak sebuah nama kuno dari dalam kitab suci adalah senjata penipuan massal yang jauh lebih ampuh daripada hulu ledak nuklir. Dengan sekadar memakai name tag "Israel", gerakan Zionisme berhasil menyulap ambisi kolonialisme menjadi sebuah dogma agama yang seolah-olah suci.

​Dunia harus mulai berani membedakan antara entitas politik modern yang haus kekuasaan dengan identitas spiritual yang ada dalam kitab suci. Selama masih ada yang dapat dibodohi dan terjebak dalam romantisme nama yang dicuri, selama itu pula kita akan terus menjadi saksi atas ketidakadilan yang dipoles dengan ayat-ayat Tuhan. Zionisme bukanlah kelanjutan dari nubuat para nabi. Zionisme Israel adalah anak kandung kolonialisme yang memakai topeng nabi untuk menjarah tanah yang bukan miliknya. Sebuah perilaku biadab yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan. ***


Tana Kaili, 15 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam