Memaknai Minal Aidin Walfaizin
Oleh: Temu Sutrisno
Di Indonesia, gema Idulfitri identik dengan satu kalimat yang nyaris menjadi "lagu wajib" saat bersalaman, Minal Aidin Walfaizin. Kalimat ini tertulis di kartu ucapan, terpampang di spanduk, baliho, hingga menjadi pembuka pesan singkat di media sosial.
Namun, ada sebuah fenomena linguistik yang unik di tanah air kita. Banyak orang mengira bahwa arti dari kalimat tersebut adalah "Mohon maaf lahir dan batin". Secara harfiah, pemahaman itu kurang tepat, meski secara sosiologis, penempatan doa tersebut dalam momentum saling memaafkan adalah hal yang sangat indah.
Secara etimologi, Minal Aidin Walfaizin merupakan potongan dari doa yang lebih panjang, yakni Ja'alanallahu minal aidin wal faizin yang artinya "Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan orang-orang yang meraih kemenangan." Memahami makna ini sangat penting agar ucapan yang kita lontarkan tidak sekadar menjadi formalitas lisan, melainkan sebuah pengharapan spiritual yang mendalam.
Jika kita membedah kalimat tersebut, Minal ‘Aidin berarti "termasuk orang-orang yang kembali". Kembali ke mana? Dalam konteks Idulfitri, ini merujuk pada kembalinya manusia kepada kesucian atau fitrahnya, seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa setelah sebulan penuh digembleng di madrasah Ramadan.
Sedangkan Walfaizin berarti "dan orang-orang yang menang". Kemenangan di sini bukanlah kemenangan atas orang lain, melainkan kemenangan melawan hawa nafsu sendiri. Menariknya, ungkapan ini bukanlah ucapan standar yang digunakan di jazirah Arab atau kawasan Timur Tengah secara umum. Di sana lebih sering menggunakan Kullu 'am wa antum bikhair atau Taqabbalallahu Minna waminkum.
Tradisi Minal Aidin Walfaizin justru memiliki akar sejarah dari penyair Andalusia, Shafiyuddin al-Hilli, yang kemudian menyebar ke seluruh dunia Muslim, termasuk Nusantara.
Harapan Menjadi Ahli Surga
Dalam sebuah kajian yang mencerahkan, ulama kharismatik KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, membedah makna ini dengan sudut pandang yang sangat menyentuh. Menurut beliau, Minal Aidin bukan sekadar kembali suci, melainkan doa agar kita kembali menjadi ahli surga.
Gus Baha mengingatkan kita pada sejarah asal-usul manusia. Beliau menjelaskan bahwa moyang manusia, Nabi Adam AS, diciptakan dan ditempatkan pertama kali di surga. Secara "nasab" ruhani, status asli manusia adalah penghuni surga. Namun, karena sebuah peristiwa sejarah dan tugas sebagai khalifah, manusia harus turun ke bumi.
Dalam nalar spiritual Gus Baha, Ramadan adalah wasilah atau perantara agar manusia bisa memulihkan status mulianya. Dengan berpuasa dan beribadah, manusia sedang berusaha "melunasi" kesalahan-kesalahan yang menghalangi jalan pulang ke surga. Jadi, ketika kita mengucap Minal Aidin, kita sebenarnya sedang saling mendoakan, "Semoga kita benar-benar menjadi orang yang kembali pulang ke rumah asal kita, yaitu surga."
Penyelarasan Tradisi dan Syariat
Lantas, apakah salah jika kita menyandingkannya dengan kalimat "Mohon maaf lahir dan batin"? Tentu saja tidak. Budaya Indonesia memiliki kearifan lokal dalam menyerap ajaran agama. Kita menyadari bahwa kesucian di hadapan Tuhan (hablum minallah) yang diraih melalui puasa, tidak akan sempurna tanpa adanya kebersihan hati di antara sesama manusia (hablum minannas).
Dosa kepada Tuhan bisa diampuni dengan taubat nasuha, namun dosa kepada sesama manusia membutuhkan kerelaan dari orang yang disakiti. Di sinilah letak sinkronisasi budaya. Kita berdoa agar kembali suci dan menang (Minal Aidin Walfaizin), dan sebagai syarat sosialnya, kita saling memaafkan satu sama lain.
Pesan yang dibawa oleh Gus Baha memberikan energi baru pada ucapan yang sering kita anggap remeh ini. Jika kita memahami bahwa tujuan akhir adalah kembali ke surga, maka perilaku kita setelah Lebaran seharusnya mencerminkan sifat-sifat ahli surga seperti damai, tidak saling membenci, dan penuh kasih sayang.
Jangan sampai ucapan indah ini hanya menjadi slogan musiman. Bayangkan jika setiap kali kita bersalaman dan berucap Minal Aidin Walfaizin, di dalam hati kita benar-benar berniat untuk memperbaiki diri agar layak menjadi penghuni surga kembali. Tentu Idulfitri tidak akan berlalu begitu saja sebagai rutinitas akhir Ramadan yang dipenuhi kegembiraan, makanan, dan pakaian baru.
Memahami makna Minal Aidin Walfaizin membawa kita pada kesadaran bahwa hidup adalah sebuah perjalanan pulang. Kita sedang menempuh jalan untuk kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian, dan puncaknya, kembali ke surga Allah SWT.
Mari kita jadikan Idulfitri sebagai momentum untuk tidak hanya membersihkan lisan dari kata-kata kasar, tetapi juga membersihkan diri dari dendam, hoaks, fitnah, korupsi, merusak lingkungan, dan perbuatan tercela lainnya. Hanya mereka yang berhati dan berperilaku bersih yang layak disebut sebagai Al-Faizin—orang-orang yang menang dan beruntung. Wallahu'alam bishawab. ***
Tana Kaili, 22 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar