Tiba-tiba Berpuisi

Oleh: Temu Sutrisno

Sabtu pagi itu cerah, seperti sengaja ditata Tuhan agar percakapan manusia terasa lebih ringan. Di lantai dua kantor perkumpulan profesi, jendela-jendela terbuka lebar. Angin sepoi masuk tanpa permisi, membawa aroma kopi dan sedikit rasa asin dari laut yang jauh di sana.

Om Uchen sudah duduk duluan. Cangkirnya hampir kosong, tapi ia tetap mengaduknya seolah masih ada yang bisa diselamatkan.

“Kalau kopi bisa bicara, mungkin dia sudah minta cerai dari saya,” gumamnya sambil terkekeh sendiri.

Om Uly datang kemudian, langkahnya berat tapi wajahnya hangat. Ia duduk tanpa basa-basi, langsung menyeruput kopi yang baru saja dipesan.

“Pagi-pagi sudah melucu. Tapi serius, ini efisiensi anggaran makin bikin kepala pening. Semua disuruh hemat, tapi kerjaan tambah banyak,” katanya blak-blakan.

Ami, yang paling muda, menyusul dengan tas selempang dan mata yang masih menyimpan sisa begadang. Ia duduk, membuka laptop, lalu menatap dua orang di depannya dengan senyum sopan.

“Efisiensi itu soal prioritas, Om. Tapi kadang yang diprioritaskan bukan yang penting, tapi yang terlihat penting,” katanya hati-hati.

Om Uchen mengangkat alis. “Wah, ini sudah mulai filosofis. Hati-hati, nanti kita semua jadi dosen dadakan.”

Mereka tertawa kecil. Percakapan mengalir dari kebijakan lokal ke isu global. Dari angka-angka anggaran hingga Selat Hormuz yang tak kunjung tenang.

“Kalau jalur itu terganggu terus, efeknya bisa ke mana-mana. Harga naik, distribusi terganggu,” kata Ami.

Om Uly mengangguk. “Semua saling terkait. Dunia ini kecil sekarang. Satu konflik, semua kena imbas.”

“Makanya saya pilih minum kopi saja. Biar dunia berputar, saya tetap di sini,” sahut Om Uchen santai.

Tawa kembali pecah, tapi tak lama. Karena di ambang pintu, seseorang berdiri, dan mengucap salam.

Tonakodi.

Ia datang seperti biasa—tenang, tanpa suara berlebihan. Di tangannya, selembar kertas penuh coretan. Matanya teduh, seperti menyimpan sesuatu yang belum selesai diucapkan. Jenggotnya seliweran tak beraturan di dagunya 

Om Uchen langsung menyambar suasana.

“Tonakodi, berimba komiu ini. Bukannya bawa kudapan, malah selembar kertas di tangan.”

Tonakodi hanya tersenyum.

Om Uly menimpali, “Coretan apa itu, Tonakodi? Jangan-jangan ramalan kupon buntut. Hehehe.”

Ami hanya menatap, sedikit penasaran.

Tonakodi tidak menjawab. Ia melangkah pelan ke tengah ruangan. Angin dari jendela menyentuh kertas di tangannya, membuatnya bergetar halus. Ia menarik napas, lalu—tanpa aba-aba—berbicara.

Namun bukan seperti biasa. Seperti berceloteh, tapi mirip berpuisi.

Mata ini masih kemaruk memandang dunia,

Mulut ini lebih banyak bercerita daripada berdoa,

Aku yang masih terpesona dengan pendengaran penuh kata hina,

Kaki ini belum mampu berjalan menjauhi dosa,

Aku yang bangga tangan menggenggam khilaf tak mampu menyucikan jiwa,

Ya Rabbi, aku sadar tobatku tidak sekuat Adam yang Engkau ciptakan dengan tangan-Mu sendiri,

Kepasrahanku pada-Mu jauh dari Ibrahim yang berzikir di tengah kobaran api membara,

Kesabaranku jauh panggang dari api, tidak seperti teladan Nuh dan Ayub saat Engkau uji,

Keberanianku seperti titik debu di hadapan Musa dan Daud di antara penguasa keji,

Kesederhanaanku layaknya helai bulu domba dibelah tujuh, tidak sebanding kezuhudan Yahya dan Isa,

Ya Ilahi, aku juga tidak bijaksana seperti Sulaiman yang adil dalam segala kuasa,

Sedikit pengetahuan yang Engkau berikan, laiknya uap tanpa sisa saat aku bercermin pada Idris yang ilmunya melingkupi dunia,

Ya Ilahi Rabbi, Tuhan yang Maha Kasih,

Meski aku bukan siapa-siapa, izinkan aku mencintai penghulu para anbiya, Muhammad Al-Mustafa,

Pada saatnya tiba,

Ku ingin mencicipi telaga Al Kautsar, mendapatkan kasih sayang, dan syafaatnya.”

Ia berhenti.

Tidak ada lanjutan.

Seperti kalimat terakhir sengaja dibiarkan menggantung di langit-langit ruangan.

Angin kembali masuk, lebih pelan. Tirai bergerak seperti ikut berzikir. Cahaya pagi menyentuh wajah-wajah yang kini berubah.

Hening.

Om Uchen yang biasanya paling cepat bicara, kini hanya menatap cangkirnya. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia tidak bercanda.

Om Uly menghela napas panjang. “Dalam sekali…” gumamnya, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ami menutup laptopnya perlahan. Ia menatap Tonakodi, matanya berbeda—lebih dalam, lebih mencari.

“Tonakodi… itu bukan sekadar puisi, ya?” tanyanya pelan.

Tonakodi tersenyum tipis. Ia duduk, meletakkan kertas itu di meja.

“Kadang, kata-kata hanya ingin pulang,” jawabnya.

“Pulang ke mana?” tanya Ami.

“Pulang ke hati yang mau mendengar.”

Om Uchen akhirnya angkat bicara, suaranya tidak seceria tadi. “Saya ini suka bercanda, tapi tadi… entah kenapa, rasanya seperti diingatkan.”

Tonakodi menatap lembut. “Humor itu juga rahmat. Tapi sesekali, kita perlu diam agar rahmat lain bisa masuk.”

Om Uly menyandarkan tubuhnya. “Tonakodi, yang komiu bilang tadi… tentang para nabi… itu seperti cermin, ya. Kita ini kecil sekali.”

“Bukan kecil,” jawab Tonakodi pelan, “tapi sering lupa ukuran.”

Ami mengangguk. “Empat sifat itu… jujur, amanah, menyampaikan, cerdas… rasanya sederhana, tapi sulit dijaga.”

Tonakodi menatap keluar jendela. “Karena kita sering mengira itu tujuan. Padahal itu jalan.”

“Bedanya?” tanya Ami.

“Kalau tujuan, kita kejar. Kalau jalan, kita tapaki selangkah demi selangkah. Tanpa sadar pun, kita akan sampai.”

Om Uchen tersenyum kecil. “Berarti selama ini saya salah jalan, ya?”

“Tidak ada jalan yang sia-sia,” jawab Tonakodi. “Selama kita mau kembali.”

Hening lagi. Tapi kali ini bukan hening kosong. Ada sesuatu yang mengendap, seperti kopi yang dibiarkan tanpa diaduk.

Ami membuka suara lagi. “Tonakodi, kenapa berhenti? Puisinya tadi… seperti belum selesai.”

Tonakodi menggeleng pelan. “Yang penting bukan selesai atau tidak. Tapi apakah kita ikut melanjutkannya… dalam hidup.”

Om Uly tertawa kecil, tapi hangat. “Wah, ini bukan Sabtu biasa.”

Om Uchen menambahkan, “Iya. Biasanya kita bahas dunia, sekarang… dunia yang bahas kita.”

Mereka semua tersenyum.

Di luar, matahari naik sedikit lebih tinggi. Suara kendaraan mulai ramai, kehidupan berjalan seperti biasa.

Tapi di lantai dua kantor profesi itu, sesuatu telah berubah. Bukan karena diskusi besar. Bukan karena keputusan penting. Hanya karena seseorang datang, membawa selembar kertas, lalu tiba-tiba berpuisi.

"Ayo ngopi lagi."

Suara Om Uchen memecah suasana. Semua tertawa renyah dan kembali ceria. Satu keberanian yang jarang dimiliki semua orang: menertawakan diri sendiri. ***


Tana Kaili, 18 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan