Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan

 Oleh: Temu Sutrisno

 



Usai acara balabe di rumah Om Uchen, Tonakodi dan teman-temannya tidak segera beranjak. Mereka masih berbincang, sekadar untuk menurunkan makanan dan minuman yang diasup setelah baca doa.

Perbincangan yang awalnya seputar kebahagian Om Uchen yang bakal menimang cucu pertamanya, tak terasa bergeser ke persoalan sosial.

Uly menyentil standar kemajuan sebuah daerah. Kemajuan dan kesejahteraan selalu menjadi obralan kandidat saat pemilihan kepala daerah. Faktanya, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan pendapatan, ketimpangan antarwilayah terus menjadi persoalan yang tak kunjung selesai, dari satu pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.

“Tidak akan pernah selesai, kalau standar kemajuan selalu diubah. Di kampung saya, standar kemajuan malah diukur dari drag race. Menurut panitia, drag race menjadi salah satu indikator atau simbol kemajuan daerah. Aneh, tapi menarik didiskusikan,” ujar Uly.

“Bisa saja seperti itu Ka Uly. Tapi itu bukan standar umum. Mungkin hanya pada perkembangan industri otomotif atau sport-tourism,” ujar Ami.

Atau paling tidak, dapat menjadi iven generasi muda berkarya, imbuh Ami.

“Dulu, sudah lama. Saya pernah ikut seminar para ahli perencanaan. Secara umum kemajuan sebuah daerah diukur dari beberapa aspek atau standar seperti IPM, kesejahteraan, dan infrastruktur. Mungkin saja ada yang lain atau ada perubahan standar. Itu yang saya ingat,” kata Tonakodi.

“Iya. Sederhananya daerah maju biasanya dilihat dari IPM, aspek ekonomi, infrastruktur, dan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan,” sambung tuan rumah, Om Uchen.

Jangan-jangan, drag race merupakan standar baru Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kata Uly.

“Entahlah,” tukas Tonakodi.

Sependek pengetahuan saya saat ikut seminar, kemajuan daerah di Negara ini, diukur dari IPM-Indeks Pembangunan Manusia, tutur Tonakodi.

IPM mengukur kemajuan suatu wilayah berdasarkan tiga dimensi utama. Pertama kesehatan. Dimensi ini diukur melalui harapan hidup pada saat lahir. Kedua, pendidikan. Pendidikan diukur melalui rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah, dan ketiga kesejahteraan. Dimensi ini diukur melalui pengeluaran per kapita,” ujar Tonakodi.

Kesejahteraan menjadi potret pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan antar warga, juga pemerataan atau ketimpangan antarwilayah.

“Saya bukan ahli ekonomi, itu sependek ingatan saya waktu ikut seminar. Bagus juga, jika ada waktu dan kesediaan ahli ekomomi menjelaskan hubungan drag race dengan kemajuan daerah,” kata Tonakodi.

“Hingga Februari 2025, tingkat pengangguran daerah ini tiga persen lebih dari jumlah angkatan kerja satu juta enam ratus empat puluh lima ribu orang,” timpal Koh Hai, yang sedari awal perbincangan diam.

Jika dilihat dari data lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan penyerapan tenaga kerja terbesar adalah sektor pertanian. Sebaliknya, sektor perdagangan mengalami penurunan.

“Data ini tidak menyebutkan lapangan kerja secara spesifik di sektor otomotif atau ekonomi kreatif lainnya. Sektor pertanian masih menjadi ujung tombak penyerapan tenaga kerja,” kata Koh Hai, sambil melihat data ekonomi daerah di hapenya.

Sembari mengotak-atik hapenya, Hai menyampaikan data statistik, jika penduduk miskin hingga akhir tahun  sekira 11,04 persen.

“Penduduk miskin sekira  358 ribu orang. Rasio gini juga cukup tinggi, sekira 0,3. Artinya ketimpangan sangat tinggi, meski pertumbuhan ekonomi awal tahun relatif tinggi, mencapai 8,69 persen. Ada anomali perekonomian di daerah kita,” terang Hai.

"Mungkin karena pertumbuhan ekonomi dipicu industri tambang yang padat modal dan teknologi, sehingga perputaran uang lari keluar daerah. Investor jelas bukan orang daerah, pekerja ahli mayoritas dari luar, pajak dan royalti masuk ke pemerintah pusat. Daerah tunggu dana bagi hasil, yang sangat kecil, tidak proporsional sebagai daerah penghasil," imbuh Tonakodi.

“Jadi Koh Hai, bisakah diukur iven olahraga otomotif sebagai tolok ukur kemajuan daerah?” tanya Uly.

“Saya setuju dengan Tonakodi, sebaiknya ini diperbincangkan dengan ahli ekonomi. Kalau perlu diseminarkan, karena kita semua bukan ahli ekonomi. Sama dengan yang menjadikan standar drag race sebagai simbol  kemajuan daerah, mungkin juga bukan ahli ekonomi. Hehehehe,” senyum Hai.

“Tapi kita semua bisa merasakan kalau ekonomi membaik atau tidak, daerah maju atau tidak. Drag race, bisa kita rasakan sekadar hura, hore, atau haru,” celoteh Om Uchen.

"Rasa-rasanya drag race sangat jauh, jika dijadikan standar kemajuan daerah. Paling banter hanya kegiatan hura dan hore. Apa benefit kegiatan itu, dalam frame besar ekonomi daerah?" 

"Nu apa vai hura, hore, ante haru om?" tanya Ami.

"Hehehe. Hura sekadar menyenangkan dalam waktu sesaat. Tak lebih dari hiburan bagi orang atau kelompok tertentu. Tidak berdampak besar terhadap ekonomi daerah."

"Hore, kegiatan ini lekat dengan relasi kekuasaan. Untuk mendekatkan diri, promo, pencitraan, dan tujuan jangka panjang mengangkat kelompok atau nama tertentu menuju status sosial tertentu atau politik kekuasaan di masa depan."

"Haru itu kalau masyarakat terharu, kegiatan berdampak pada kesejahteraan banyak orang. Mampu merenda ekonomi yang compang-camping. Komiu pikir saja, mana yang pas. Hura, hore, atau haru. Hehehe," Om Uchen terkekeh.

Tabe le, Om Uchen saya pamit dulu. Si kecil batelpon, minta dijemput dari sekolah, kata Tonakodi. ***


Palu, 5 Mei 2025



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

ALIRAN STUDI HUKUM KRITIS (CLS)