Suara Hati yang Fana
Oleh: Temu Sutrisno
Di negeri yang riuh oleh kata-kata, aku yang fana kehilangan makna doa.
Mata ini kenyang menyaksikan dunia, namun lapar melihat kebenaran tegak menjadi raja.
Lidah ini mudah memuji manusia, namun kelu saat menyebut nama-Mu dalam segala suasana.
Ya Rabbi, aku hidup di zaman ketika dosa tak lagi disembunyikan, tetapi dipertontonkan dan dirayakan.
Ya Ilahi, dari kegaduhan hiruk pikuk tanpa arti, aku berjalan di lorong bayang-bayang diri terus mencari-Mu,
Namun sering tersesat pada “aku” itu sendiri.
Aku malu, mengaku beriman, namun sering terjebak dalam kompromi yang tak Engkau ridhai.
Di zaman ketika benar dan salah diperdagangkan, sungguh aku takut menjadi bagian dari kebisuan ini.
Di tengah dunia yang bising ini, aku takut kehilangan suara hati.
Di tengah kekuasaan gemerlap, aku takut kehilangan keberpihakan pada kebajikan yang nyata.
Di tengah ilmu yang melimpah, aku takut kehilangan hikmah.
Maka jika aku tak mampu menjadi besar, jadikan aku jujur dan terus mengabdi pada jalan yang diajarkan para nabi.
Jika aku tak mampu mengubah dunia, jangan biarkan dunia mengubah arah sujudku pada-Mu.
Saat kelak aku kembali, jangan Engkau tanya seberapa banyak kata yang ku ucap, seberapa sering lidah memuji, tapi seberapa jujur aku berdiri.
Jika aku datang dengan luka dan dosa,. Jangan tolak aku, sebab aku datang dengan harapan terakhir: cinta-Mu.
Kelak, saat semua sunyi, saat nama tak lagi berarti, aku hanya ingin satu:
Diakui sebagai umat Muhammad dan hamba-Mu, meski datang dengan amal yang terkoyak.
Ya Allahu ya Rabbi,
Dengan bertawasul pada Rasul yang agung, jangan palingkan wajah-Mu,
Di antara segala yang hilang, aku ingin cinta-Mu tetap tinggal.***
Tana Kaili, 25 April 2026

Komentar
Posting Komentar