Rusdy Toana, Mercusuar, dan Perjuangan Pendirian Sulteng

 Oleh: Temu Sutrisno



Generasi muda Sulawesi Tengah mungkin tidak familiar dengan nama-nama seperti KH. Zainal Abidin Betalembah atau Imam Mujahid, H. Ibrahim, Abdullah Nento, Ch. Modjo, H. Rustam Arsyad, AH Tantu, atau Amas Dg Sute dan nama-nama lain dari Gerakan Penuntut Provinsi Sulawesi Tengah (GPPST).

Kalau pun disebut, bukan hanya generasi muda yang tidak mengenalnya. Hanya sebagian kecil masyarakat Sulawesi Tengah yang tahu. Malah, bisa jadi sebagian besar pejabat di Sulawesi Tengah yang menikmati kursi empuk kekuasaan dan pemerintahan tidak tahu mereka dan nama-nama lain yang bahu membahu memperjuangkan pendirian provinsi Sulawesi Tengah.

Demikian halnya nama-nama yang tergabung dalam panitia penuntut dan pembangun Provinsi Sulawesi Tengah (P4ST) seperti L. Mene Lamakarate, Rusdy Toana, Mohamad Lahamy, Ishak Moro, Ahmad Lawira, Djalaludin Lembah, Asmaun Dg Marotja, Ibrahim Madilao, Anwar Khan, MS Patimbang, Ahmad Panyili, dan anggota P4ST lainnya.

Mungkin juga banyak orang tidak mengetahui jika wilayah Sulawesi Tengah dari ujung Buol hingga Banggai Laut merupakan konsep yang disusun Mene Lamakarate bersama Rusdy Toana.

Di hari ulang tahun ke-62 Sulawesi Tengah, izinkan penulis mengenalkan salah satu sosok pejuang pendirian Sulawesi Tengah, almarhum Letnan Kolonel (Veteran) Drs. H. Rusdy Toana.

Nama Rusdy Toana tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang terbentuknya Sulawesi Tengah sebagai sebuah provinsi yang berdiri sendiri. Ia bukan sekadar tokoh lokal, melainkan figur multidimensi yang memadukan peran sebagai pejuang daerah, insan pers, dan pendidik. Dalam lintasan sejarah daerah, Rusdy Toana hadir sebagai “mercusuar” yang memberi arah, baik melalui gerakan politik maupun melalui pena dan gagasan.

Perjuangan pembentukan Sulawesi Tengah sebagai provinsi merupakan bagian penting dari dinamika politik Indonesia pascakemerdekaan. Pada masa itu, wilayah Sulawesi Tengah masih berada dalam struktur administratif yang bergabung dengan Sulawesi Utara. Kondisi ini melahirkan ketimpangan pembangunan serta keterbatasan representasi politik bagi masyarakat di wilayah tengah pulau Sulawesi. Dalam situasi demikian, muncul kesadaran kolektif untuk memperjuangkan otonomi daerah yang lebih luas.

Rusdy Toana berada di garis depan perjuangan tersebut. Ia bukan hanya menjadi peserta dalam arus gerakan, tetapi juga salah satu penggerak utamanya. Dengan kemampuan komunikasi yang kuat dan jaringan sosial yang luas poros Palu-Jogjakarta-Jakarta, ia terlibat aktif dalam upaya diplomasi, konsolidasi masyarakat, serta advokasi politik di tingkat regional dan nasional. Perjuangan ini tidak mudah; membutuhkan kesabaran, strategi, dan keberanian dalam menghadapi berbagai kepentingan yang saling berkelindan.

Namun, yang membedakan Rusdy Toana dari banyak tokoh lain adalah kemampuannya memanfaatkan media sebagai alat perjuangan. Pada 1 September 1962, ia mendirikan Harian Harian Mercusuar, yang berawal dari publikasi sederhana bernama Suara Rakyat. Dari sinilah gagasan, kritik, dan aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah disuarakan secara lebih terstruktur dan luas.

Kehadiran Harian Mercusuar bukan sekadar untuk menyampaikan berita. Ia menjadi instrumen strategis dalam membangun kesadaran publik. Dalam konteks perjuangan pembentukan provinsi, koran ini memainkan peran sebagai medium artikulasi kepentingan daerah. Tulisan-tulisan yang dimuat di dalamnya tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga persuasif dan ideologis. Melalui Mercusuar, Rusdy Toana dan rekan-rekannya mengedukasi masyarakat tentang pentingnya otonomi daerah, sekaligus menekan pemerintah pusat agar memberikan perhatian terhadap aspirasi tersebut.

Pers dalam hal ini berfungsi sebagai kekuatan sosial-politik. Dalam banyak kesempatan, Harian Mercusuar menjadi ruang diskusi publik yang terbuka, tempat bertemunya gagasan dari berbagai kalangan. Di tengah keterbatasan teknologi komunikasi pada masa itu, surat kabar menjadi alat yang sangat efektif untuk membangun opini publik. Rusdy Toana memahami betul kekuatan ini, dan ia memanfaatkannya secara maksimal.

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Harian Mercusuar adalah “corong perjuangan” bagi Sulawesi Tengah. Rusdy Toana dan Mercusuar mengawal proses panjang menuju terbentuknya provinsi, mulai dari tahap perintisan, konsolidasi, hingga realisasi. Bahkan setelah provinsi ini resmi berdiri, Mercusuar tetap memainkan peran penting sebagai pengawas pembangunan daerah. Mercusuar menjadi media yang kritis terhadap kebijakan pemerintah, sekaligus konstruktif dalam menawarkan solusi.

Di luar dunia pers, Rusdy Toana juga dikenal sebagai tokoh pendidikan. Rusdy Toana meyakini bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada struktur politik, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, ia terlibat dalam pendirian sejumlah institusi pendidikan tinggi di Palu seperti Universitas Tadulako, UIN Datokarama, dan Universitas Muhammadiyah. 

Selain ketiga perguruan tinggi tersebut, Rusdy Toana juga menjadi pengajar di Universitas Islam Alkhairaat, karena permintaan khusus dari Guru Tua atau Sayid Idrus bin Salim Aljufri. Malah dalam penuturan Sayid Saggaf bin Muhammad Aljufri, Rusdy Toana pernah berjibaku dalam dakwah bersama Alkhairaat sebagai salah satu sekretaris. Upaya ini menunjukkan visi jangka panjangnya: membangun Sulawesi Tengah tidak hanya dari sisi administratif, tetapi juga dari sisi intelektual dan kultural.

Sebagai tokoh yang aktif dalam Muhammadiyah, Rusdy Toana juga membawa nilai-nilai keislaman dalam setiap kiprahnya. Nilai tersebut tercermin dalam komitmennya terhadap kejujuran, keadilan, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam dunia pers, misalnya, ia menekankan pentingnya kredibilitas dan tanggung jawab moral. Baginya, pers bukan sekadar alat bisnis atau propaganda, tetapi sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Edukasi dan kritik santun dituangkan dalam tajuk rencana dan rubrik omong punya omong, yang terkenal dengan nama Tonakodi 

Karakter serbabisa yang dimiliki Rusdy Toana menjadikannya figur yang sulit tergantikan. Ia mampu menjembatani berbagai bidang—politik, pers, pendidikan, dan keagamaan—dalam satu visi besar: kemajuan Sulawesi Tengah. Dalam konteks ini, ia tidak hanya berperan sebagai aktor sejarah, tetapi juga sebagai arsitek peradaban lokal.

Warisan yang ditinggalkannya pun tidak kecil. Harian Mercusuar tetap eksis sebagai salah satu media berpengaruh di Sulawesi Tengah. Mercusuar menjadi simbol keberlanjutan gagasan dan semangat perjuangan yang pernah dirintis oleh pendirinya. Di sisi lain, keberadaan institusi pendidikan yang turut didirikan terus melahirkan generasi baru yang berkontribusi bagi pembangunan daerah.

Lebih dari itu, keberhasilan pembentukan Provinsi Sulawesi Tengah sendiri merupakan bukti konkret dari perjuangan panjang yang melibatkan banyak pihak, termasuk Rusdy Toana. Para pejuang itu telah meletakkan fondasi bagi sistem pemerintahan yang lebih representatif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Dalam perspektif sejarah, sosok Rusdy Toana dapat dipahami sebagai figur yang mengintegrasikan gagasan dan tindakan. Ia tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mewujudkannya melalui kerja nyata. Dalam dunia yang sering kali terjebak pada retorika, kehadiran tokoh seperti Rusdy Toana menjadi pengingat bahwa perubahan membutuhkan keberanian, ketekunan, dan visi yang jelas.

Kisah Rusdy Toana adalah kisah tentang dedikasi. Dedikasi terhadap daerah, terhadap masyarakat, dan terhadap nilai-nilai yang diyakininya. Ia telah menjadikan pers sebagai mercusuar yang menerangi jalan perjuangan, sekaligus sebagai alat untuk menjaga arah pembangunan.

Di tengah tantangan zaman yang terus berubah, warisan Rusdy Toana tetap relevan. Sebuah pembelajaran bahwa pembangunan daerah membutuhkan sinergi antara kekuatan politik, intelektual, dan moral. Dalam konteks Sulawesi Tengah, nama Rusdy Toana akan selalu dikenang sebagai salah satu pilar utama yang menopang berdirinya provinsi ini—sebuah mercusuar yang cahayanya terus menyala dalam ingatan kolektif masyarakat.

Salam takzim dan doa kami untuk KH. Zainal Abidin Betalembah, H. Rustam Arsyad, H. Ishak Moro, Mene Lamakarate, H. Rusdy Toana beserta seluruh pejuang pendirian Sulawesi Tengah, semoga Allah SWT Tuhan yang Maha Esa meridhai dan menilai ibadah setiap tetes keringat dan helaan napas dalam memperjuangkan pendirian Sulawesi Tengah. 

Maafkan kami generasi muda yang tidak lagi mengingat dan mengenal namamu. Semoga kami dapat melanjutkan cita-cita mulia para pejuang pendirian Sulawesi Tengah, bukan sekadar menikmati tanpa hati. ***


Palu, 13 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan