Pilihan Terbaik
Oleh: Temu Sutrisno
Sore itu matahari turun perlahan di balik deretan pohon kelapa, menyisakan cahaya keemasan yang menimpa hamparan kebun milik Haji Agus. Jagung-jagung tumbuh tegak, daun-daunnya berdesir halus disentuh angin. Di sisi lain, kambing-kambing bergerak santai dalam pagar kayu, sebagian mengunyah rumput, sebagian lagi meloncat kecil seolah ikut menikmati senja.
Di bawah pohon mangga, empat orang duduk melingkar di atas tikar pandan. Di tengah mereka, nampan sederhana berisi jagung rebus mengepul, ditemani teko kopi hitam dan teh hangat.
Tonakodi memegang cangkir teh, meniupnya pelan sebelum menyesap. Wajahnya tenang, seperti seseorang yang tidak sedang mengejar apa pun. Di sampingnya, Om Uchen sudah lebih dulu menyesap kopi hitam dengan wajah penuh kenikmatan.
“Ah… kopi begini ini,” kata Om Uchen sambil mengangkat cangkirnya, “lebih setia daripada mantan. Pahitnya jelas, tidak pura-pura manis.”
Om Uly tertawa pendek. “Komiu ini, Uchen… bicara mantan terus. Jangan-jangan masih ada harapan terpendam.”
“Kalau takdirnya begitu, kenapa tidak?” sahut Om Uchen cepat. “Tapi kalau bukan, ya sudah… saya tidak mau memaksa takdir. Saya ini orang beriman,” tambahnya sambil tersenyum nakal.
Ami, yang duduk paling muda di antara mereka, tersenyum tipis. “Kadang kita bilang begitu, Om. Tapi jujur saja, sering kali kita tetap berharap yang sesuai keinginan kita. Banyak orang juga berpikiran begitu.”
Haji Agus yang baru datang dari arah kandang kambing ikut duduk sambil tertawa kecil. “Betul itu, Mi. Saya dulu berharap jagung saya langsung besar dalam seminggu. Ternyata Tuhan tidak setuju,” katanya sambil mengambil jagung rebus.
Mereka semua tertawa.
Tonakodi hanya tersenyum. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu mengambil setongkol jagung.
“Sering kali,” katanya pelan, “pilihan Tuhan untuk kita tidak seperti yang kita inginkan. Baru belakangan kita tahu… itu yang terbaik.”
Angin sore berhembus sedikit lebih kuat, membuat daun jagung bergesekan seperti bisikan panjang.
Ami menatap Tonakodi. “Tapi, Tonakodi… bagaimana kalau yang terjadi justru menyakitkan? Gagal, ditolak, kehilangan… masa itu juga terbaik?”
Tonakodi tidak langsung menjawab. Ia menggigit jagungnya perlahan, lalu menatap ke arah ladang.
“Lihat jagung ini,” katanya. “Sebelum dia jadi seperti ini, dia harus dikubur dulu di tanah. Gelap, basah, sendirian. Kalau biji itu bisa bicara, mungkin dia mengira itu akhir hidupnya.”
Om Uchen mengangguk cepat. “Betul! Kalau saya jadi jagung, saya sudah protes, ‘Kenapa saya dikubur? Saya ini mau jadi camilan, bukan mayat!’”
Semua tertawa lagi.
Tonakodi melanjutkan, “Tapi justru dari situ dia tumbuh. Sesuatu yang terasa seperti akhir, ternyata awal.”
Om Uly bersandar, menatap langit yang mulai memerah. “Masalahnya, waktu fase ‘dikubur’ itu, tidak tahu kalau itu awal.”
“Itu sebabnya,” jawab Tonakodi lembut, “iman itu bukan soal mengerti. Tapi percaya.”
Ami menarik napas panjang. “Berarti kita harus menerima saja semua yang terjadi?”
“Bukan sekadar menerima,” kata Tonakodi. “Tapi memahami bahwa kehendak Allah tidak selalu sejalan dengan keinginan kita, dan justru di situlah letak kasih sayang-Nya. Kita hanya diminta berusaha sekuat tenaga kita, menjalani semua rencana. Pada akhirnya Allah yang menentukan semuanya.”
Haji Agus mengangguk-angguk sambil mengunyah. “Saya ini dulu pernah rugi besar,” katanya. “Panen gagal, kambing sakit. Saya marah, kecewa. Tapi kalau itu tidak terjadi, saya tidak akan belajar cara merawat kebun seperti sekarang.”
Om Uchen menyela, “Kita juga tidak dapat jagung gratis hari ini, Ji.”
“Ah, itu bonus saja,” jawab Haji Agus sambil tertawa lepas.
Ami terlihat berpikir. “Jadi… semua yang tertunda, gagal, atau menyakitkan… itu sebenarnya arah yang ditunjukkan Tuhan?”
Tonakodi menatapnya. “Sering kali begitu. Hanya saja, kita belum sampai pada titik untuk memahaminya.”
Senja makin dalam. Cahaya berubah menjadi jingga tua, hampir merah.
Om Uly berkata pelan, “Saya dulu pernah sangat ingin sesuatu. Sudah saya rencanakan matang-matang. Tapi gagal total. Saya tentu saja kecewa sekali waktu itu. Sekarang kalau saya lihat ke belakang… kalau itu berhasil, mungkin saja hidup saya justru hancur. Selalu ada hikmah di balik perjalanan hidup.”
“Nah!” seru Om Uchen. “Itu yang saya bilang. Kadang Tuhan itu seperti orang tua yang melarang kita makan permen terus. Kita marah, padahal kalau dituruti, gigi kita habis.”
“Komiu ini selalu contoh makanan,” kata Om Uly sambil geleng-geleng kepala.
Tonakodi tersenyum. “Manusia sering mengira dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Padahal pengetahuannya terbatas. Sedangkan Tuhan… tidak pernah keliru.”
Ami menunduk sedikit. “Tapi tetap sulit le, Tonakodi. Percaya saat belum mengerti itu… berat.”
“Memang,” jawab Tonakodi. “Karena kita ingin kepastian. Padahal hidup ini bukan soal kepastian, tapi perjalanan.”
Ia kembali menikmati tehnya yang mulai hangat.
“Belajarlah percaya, meski belum mengerti. Bersabar, meski hati masih bertanya-tanya,” lanjutnya pelan.
Haji Agus menatap kebunnya dengan bangga. “Kalau saya tidak sabar, mungkin saya sudah tinggalkan semua ini sejak dulu.”
Om Uchen mengangkat cangkirnya. “Untuk kesabaran! untuk jagung yang tidak protes saat ditanam!”
Mereka kembali tertawa.
Langit kini hampir gelap. Cahaya jingga di ujung petang perlahan menghilang. Suara jangkrik mulai terdengar dari sela-sela kebun.
Ami memandang satu per satu wajah di depannya. Ada kehangatan yang sulit dijelaskan. Ia lalu berkata, “Jadi pada akhirnya… kita akan mengerti?”
Tonakodi mengangguk pelan. “Pada waktunya, kita akan melihat bahwa pilihan-Nya bukan sekadar berbeda… tetapi jauh lebih tepat, lebih indah, dan lebih membawa berkah daripada yang pernah kita rencanakan.”
Angin senja berkejaran dengan angin malam yang mulai turun perlahan. Sayup-sayup terdengar suara azan dari musala kampung, tak jauh dari kebun Haji Agus.
Om Uly berdiri, meregangkan badan. “Kalau begitu, kita lanjut setelah salat. Siapa tahu ada kambing panggang dari Haji Agus.”
Om Uchen ikut berdiri. “Lanjut makan? Tentu saja itu lebih baik.”
Haji Agus tertawa keras. “Ambil saja itu jagungnya. Sudah dibungkus masing-masing satu kantongan. Hehehe.”
Ami tersenyum, kali ini lebih ringan.
Tonakodi menatap langit yang kini gelap.
“Percayalah,” katanya lirih, lebih seperti doa daripada nasihat, “Allah tidak pernah keliru memilihkan jalan untuk hamba-Nya.”
Di tengah kebun yang sederhana itu, di antara jagung yang tumbuh dan kambing yang tenang, kalimat itu terasa cukup, bahkan lebih dari cukup.
Keempat sahabat segera meninggalkan rumah kebun Haji Agus. Mereka bergegas menuju musala, sembari menenteng rezeki sore itu, dari kebun jagung. ***
Tana Kaili, 22 April 2026

Komentar
Posting Komentar