Notifikasi


Oleh: Temu Sutrisno

Angin sepoi merayap masuk melalui jendela besar di lantai dua kantor perkumpulan profesi itu. Di samping bangunan, taman kecil yang habis dibabat pemerintah, meninggalkan tiga pohon bunga. 

Tiga rumpun bunga bergoyang pelan tertiup angin, seolah sedang berzikir menyambut mendung yang mulai menggelayut di langit kota. Aroma kopi robusta yang diseduh Om Uly menyeruak, membaur dengan sisa-sisa ketenangan setelah salat Jumat.

Tonakodi duduk tenang di kursi ujung ruangan. Di hadapannya, Om Uchen sedang sibuk mengelap layar ponselnya yang mengkilap, sementara Ami, pemuda progresif, masih asyik menggulir jempolnya di atas layar datar itu dengan kecepatan tinggi.

"Canggih memang zaman sekarang," celetuk Om Uchen sambil terkekeh. "Tadi di masjid, pas khatib lagi baca khutbah, HP di kantong saya getar. Ada notifikasi diskon barang elektronik. Bayangkan, malaikat mungkin geleng-geleng lihat saya malah kepikiran harga diskon maksimal."

Om Uly yang baru saja meletakkan cangkir kopi menyahut dengan tawa khasnya yang apa adanya. "Untung cuma getar, Om Uchen. Kalau bunyinya lagu koplo, bisa-bisa kacau."

Ami mendongak, matanya masih sedikit berbinar karena cahaya ponsel. "Tapi memang susah lepas, Om. Dunia sekarang ada di genggaman. Kita bisa tahu apa yang terjadi di kutub utara sampai ke dasar laut cuma lewat notifikasi. Rasanya kalau tidak pegang HP, kita ketinggalan kereta kehidupan."

Tonakodi tersenyum tipis. Ia menyeruput kopinya perlahan, membiarkan uap panasnya menyentuh wajahnya yang tenang, mengepul di bawah jenggotnya yang tidak rapi, semburat putih. 

"Ketinggalan kereta itu biasa, Ami. Yang gawat itu kalau kita merasa sudah memegang dunia, tapi lupa jadwal keberangkatan kita sendiri."

Ami mengerutkan kening penasaran. "Maksud Tonakodi, soal khutbah tadi ya? Tentang kematian?"

"Iya," jawab Tonakodi lembut. "Khatib tadi bicara hal yang sangat krusial. Di zaman ini, kita hidup dalam 'budaya pemberitahuan'. Mau makan ada notifikasi, mau belanja ada pengingat, bahkan mau tidur pun kita sibuk mengecek apa yang terlewat. Kita merasa berkuasa karena merasa tahu segalanya lebih awal."

Tonakodi terdiam sejenak, matanya menatap mendung di luar yang kian pekat.

"Namun, ada satu hal yang teknologinya belum ditemukan dan tak akan pernah ada. Notifikasi Ajal. Bayangkan jika Malaikat Izrail punya akun resmi dan mengirim pesan 'Fulan! Sepuluh menit lagi saya sampai di depan pintu'. Kira-kira, apa yang akan kau lakukan dengan HP-mu, Ami?"

Om Uchen terbahak, namun tawanya terdengar agak getir. "Mungkin Ami dan kita semua langsung uninstall semua aplikasi medsos dan ganti jadi aplikasi zikir digital, Tonakodi."

Ami tersenyum kecut. "Jujur Om Uchen, itu menakutkan. Kita terbiasa bersiap karena ada peringatan. Kalau tidak ada peringatan, rasanya sistem hidup kita lumpuh."

"Itulah masalahnya," lanjut Tonakodi dengan nada bicara yang mengalir seperti air. "Teknologi digital memberikan kita ilusi kepastian. Kita merasa bisa menjadwalkan masa depan. Padahal, dalam surah Al-A'raf ayat 34, sudah jelas: Setiap umat mempunyai ajal. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat pula meminta percepatan. Seperti yang disampaikan khatib tadi."

Tonakodi memandang ponsel Ami yang tergeletak di meja. "Gawai itu bisa memberitahumu kapan hujan turun, kapan paketmu sampai, atau siapa yang menyukai fotomu. Tapi ia lumpuh total di depan takdir. Ajal tidak butuh koneksi internet, tidak butuh sinyal 5G, dan tidak peduli apakah bateraimu sedang penuh atau sedang lowbat."

Om Uly menghela napas panjang, bersandar pada kursi. "Benar juga. Saya sering lihat orang kecelakaan atau meninggal mendadak, tangannya masih memegang ponsel. Seolah-olah mereka sedang menunggu pesan yang tak kunjung tiba, padahal 'pesan' yang sesungguhnya sudah sampai melalui napas terakhir."

"Dunia digital ini sering membuat kita merasa abadi," tambah Tonakodi lagi, kali ini dengan sedikit bumbu humor sufistiknya. "Orang-orang sibuk membangun personal branding di dunia maya, memoles profil supaya terlihat hidup dan bermakna untuk menarik follower. Padahal di mata Tuhan, profil kita itu bukan ditentukan oleh berapa banyak follower, tapi oleh berapa banyak follow kita kepada perintah-Nya."

Om Uly menatap Om Uchen yang masih memegang ponselnya. "Hati-hati, Om Uchen. Jangan sampai kau lebih sibuk meng-update status daripada meng-update tobat."

Om Uchen tersedak kopinya. "Waduh, Uly ini kalau menyindir suka pakai gaya stand-up comedy sufi. Pedas tapi benar."

Ami terdiam cukup lama. Ia menatap taman kecil di samping kantor itu. Angin semakin kencang, dan rintik hujan mulai turun satu-satu. Ia menyadari betapa rapuhnya segalanya. Teknologi yang  dipuja-puji manusia sebagai puncak peradaban, ternyata hanyalah mainan kecil di hadapan keagungan maut yang pasti.

"Jadi, Tonakodi," tanya Ami dengan suara lebih rendah, "Bagaimana cara kita hidup di antara notifikasi dunia yang berisik ini?"

Tonakodi meletakkan cangkirnya yang sudah kosong. "Jadikan setiap detak jantungmu sebagai notifikasi. Setiap kali jantungmu berdenyut, itu adalah pesan dari Tuhan: 'Kita masih diberi waktu'. Jangan menunggu gawai berbunyi untuk ingat Tuhan. Setiap tarikan napas adalah kesyukuran. Sebab, ketika 'panggilan' yang satu itu datang, tidak ada tombol decline atau silent mode."

Tonakofi bangkit, merapikan bajunya yang bersahaja. "Ayo, hujan sudah mulai deras. Mari kita syukuri hujan ini. Setidaknya hujan memberi tanda lewat mendung, tidak seperti ajal yang seringkali datang saat langit sedang cerah-cerahnya."

Mereka berempat terdiam sejenak, mendengarkan suara hujan yang jatuh menghantam lantai taman. 

Di atas meja, ponsel Ami menyala, menampilkan notifikasi berita terbaru. Namun kali ini, Ami tidak segera meraihnya. Ia membiarkan cahaya layar itu meredup dengan sendirinya, kalah oleh kehangatan perbincangan dan kesadaran akan hakikat yang lebih besar.

Lantai dua kantor itu menjadi saksi, bahwa seberapa pun cepatnya kemajuan digital berlari, akan selalu tertatih dan akhirnya lumpuh di hadapan garis finis yang bernama ajal. Sebuah kepastian yang tak memerlukan pemberitahuan, namun menuntut kesiapan.***


Tana Kaili, 10 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan