Munajat Nabi

Oleh: Temu Sutrisno 


Mata ini masih kemaruk memandang dunia,

Mulut ini lebih banyak bercerita daripada berdoa,

Telinga ini masih terpesona dengan pendengaran penuh kata hina,

Kaki ini belum mampu berjalan menjauhi dosa,

Aku yang bangga tangan menggenggam khilaf, tak mampu menyucikan jiwa,

Ya Rabbi, aku sadar tobatku tidak sekuat Adam yang Engkau ciptakan dengan tangan-Mu sendiri, ampuni diri ini,

Kepasrahanku pada-Mu jauh dari Ibrahim yang berzikir di tengah kobaran api membara, lurus, berserah diri, dan tidak menyekutukan-Mu, bimbinglah diriku berserah diri hanya pada-Mu semata,

Kesabaranku jauh panggang dari api, tidak seperti teladan Nuh dan Ayub saat Engkau uji,

Keberanianku seperti titik debu di hadapan Musa dan Daud di antara penguasa keji,

Kesederhanaanku layaknya helai bulu domba dibelah seribu, tidak sebanding kezuhudan Yahya dan Isa,

Ya Ilahi, aku juga tidak bijaksana seperti Sulaiman yang adil dalam segala kuasa,

Sedikit pengetahuan yang Engkau berikan, laiknya uap tanpa sisa saat aku bercermin pada Idris yang ilmunya melingkupi dunia,

Ya Ilahi Rabbi, Tuhan yang Maha Kasih,

Meski aku bukan siapa-siapa, izinkan aku mencintai penghulu para anbiya, Muhammad Al-Mustafa,

Pada saatnya tiba,

Ku ingin mencicipi telaga Al Kautsar, mendapatkan kasih sayang, dan syafaatnya,

Ya Rasulallah, ya Habiballah, sambutlah cintaku, 

Ya Sayyidi, ya Muhammadi, engkau adalah cinta itu sendiri.


Tana Kaili, 18 April 2026



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Pitutur Luhur: Gemi, Nastiti, Ngati-ati

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam