Melempar Pohon Berbuah
Oleh: Temu Sutrisno
Semburat jingga di ufuk timur perlahan berganti menjadi kuning keemasan yang hangat. Di kebun jagung milik Haji Agus, Ahad pagi itu terasa seperti potongan surga yang tertinggal di bumi. Bulir-bulir embun masih bergelantungan di ujung daun jagung yang meruncing, memantulkan cahaya matahari layaknya permata kecil.
Di bawah gubuk bambu yang terletak di tengah kebun, empat pria paruh baya duduk melingkar. Suara gemericik air mengalir tenang di samping gubuk berpadu dengan cericit burung-burung pipit yang beterbangan. Bagi siapa pun yang mendengarnya dengan hati, suara-suara alam itu terdengar seperti simfoni zikir yang mendamaikan jiwa.
"Kalau begini caranya, saya bisa lupa jalan pulang ," ujar Om Uly sambil menyandarkan punggungnya pada tiang bambu. Wajahnya yang tegas tampak melunak karena suasana yang hangat.
"Haji, jagungmu ini bukan cuma bikin kenyang perut, tapi bikin mata segar dan hati nyaman!"
Haji Agus tertawa kecil sambil menuangkan kopi panas ke dalam gelas-gelas kaca. "Alhamdulillah, Om Uly. Tanah ini cuma titipan, kita cuma tukang sapunya saja."
Om Uchen, yang sedari tadi sibuk mengupas kacang rebus, menimpali dengan gaya khasnya.
"Iya, Haji. Tapi tukang sapu yang ini punya stok kopi paling enak se-kecamatan. Itu yang penting!"
Di sudut lingkaran itu, Tonakodi duduk bersila dengan tenang. Sorot matanya teduh, seolah ia sedang membaca rahasia yang tersirat di balik lambaian daun-daun jagung. Ia menyesap kopinya sedikit, membiarkan uap panasnya menyapa wajahnya yang tenang dan jenggotnya yang nongkrong di dagu tidak beraturan.
Keheningan yang damai itu tiba-tiba pecah oleh kegaduhan dari sudut timur kebun. Di sana, sebatang pohon mangga madu berdiri dengan dahan-dahan yang melengkung keberatan beban. Buah-buahnya mulai ranum, tampak menggoda di balik dedaunan hijau.
Beberapa anak-anak terlihat sedang ramai melempari pohon itu dengan batu dan kayu. Brak! Buk! Beberapa batu mengenai dahan, dan sesekali terdengar sorak kegirangan ketika sebuah mangga jatuh berdebum ke tanah. Burung Pipit terbang mengangkasa, menghindari lemparan.
Om Uchen spontan berdiri, memicingkan mata sambil berkacak pinggang. "Eeeh, itu anak-anak! Pohon yang dilempari, kasiang kiapa te dipanjat saja!" teriaknya sambil terkekeh.
"Kalau kalian jatuh karena dilempar balik sama pohonnya, baru tahu rasa!"
Om Uly ikut bangkit, mendekati anak-anak. "Jangan cuma dilempar, nanti rusak dahan-dahannya! Pakai galah kalau mau ambil!"
Anak-anak itu sempat menoleh sebentar, lalu lari berhamburan sambil membawa dua-tiga buah mangga di tangan mereka. Suasana kembali tenang, namun sisa-sisa kegaduhan itu masih terasa di udara.
Tonakodi perlahan meletakkan gelas kopinya. Ia memandang pohon mangga yang baru saja "dianiaya" itu dengan tatapan penuh kasih.
"Biarkan saja," ucap Tonakodi lirih, suaranya lembut namun mengandung wibawa yang membuat Om Uchen dan Om Uly kembali duduk. "Ada kearifan tua di negeri ini yang sedang mereka peragakan tanpa mereka sadari."
"Maksudmu, Tonakodi?" tanya Haji Agus penasaran.
Tonakodi tersenyum tipis. "Pohon yang berbuah lebatlah yang paling banyak dilempari batu. Tak ada orang yang membuang energi untuk melempari pohon yang kering, berduri, apalagi yang tidak membuahkan apa-apa."
Ia menjeda sejenak, membiarkan angin pagi membawa kata-katanya masuk ke sanubari sahabat-sahabatnya.
"Nampaknya manusia sabar dan baik itu sering kali seperti pohon itu," lanjut Tonakodi dengan nada filosofis yang dalam.
"Pohon yang baik, yang berbuah lebat. Dalam perjalanan hidup, akan selalu ada yang datang kepada kita. Ada yang memetik buahnya dengan cara baik lewat apresiasi, belajar darinya, memanjat dengan santun, atau memakai bambu. Mereka mengumpulkan manfaatnya dengan penuh hormat."
"Tapi," Tonakodi menghela napas pendek, "ada sebagian orang yang brutal. Mereka melemparinya dengan batu agar buahnya rontok. Mereka tidak peduli jika lemparan itu melukai kulit pohon atau mematahkan rantingnya, bahkan mematikan, asalkan mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau sekadar ingin melihat buah itu jatuh."
Om Uly terdiam, meresapi setiap kata. Ia teringat masa-masa ketika orangtuanya mengajarkan makna sopan santun dan silaturahmi tanpa menyakiti.
"Begitulah kehidupan," sambung Tonakodi lagi. "Pohon itu dilempari batu, tapi kita bisa lihat, apakah dia membalas dengan melemparkan kembali batu atau kayu? Tidak. Dia tetap merelakan buahnya bagi para pelemparnya. Karya-karyanya, manfaatnya, bahkan keberadaannya tetap menjadi berkah bagi siapa saja, termasuk mereka yang menyakitinya."
Tonakodi menatap Om Uchen yang biasanya penuh canda, kini tampak termenung serius.
"Ya, kita semua, perlu belajar menjadi pohon yang berbuah, meski dilempari tetap memberi arti. Bayangkan jika pohon juga menagih utang napas kita? Berapa banyak oksigen dan angin semilir ini harus kita bayar?" ucap Om Uchen seperti bicara pada diri sendiri.
Tonakodi tersenyum. Menggigit jagung rebus dari tongkolnya.
"Itu jauh lebih mulia daripada menjadi pohon yang tak pernah dilempari karena memang tak pernah memberikan manfaat apa-apa. Jangan pernah berubah menjadi orang tak baik hanya agar berhenti diserang. Sebab, dunia ini merindukan buah dari kebaikan kita, bukan duri dari kemarahan kita."
Haji Agus mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca. "Masya Allah... Jadi, serangan orang itu sebenarnya konfirmasi kalau kita sedang 'berbuah' ya?"
"Benar, Haji," jawab Tonakodi.
"Tinggal bagaimana kita menjaga akar kita agar tetap kuat menghujam ke bumi tawakal, sehingga lemparan batu setajam apa pun tak akan mampu menumbangkan pohon pengabdian kita."
"Benar, setidaknya kita tidak melempar kesalahan ke orang lain," ucap Om Uly.
Ahad pagi itu tak lagi sekadar tentang jagung dan kopi. Di bawah langit yang kian membiru, mereka belajar bahwa menjadi baik adalah pilihan untuk tetap memberi, meski dibalas dengan lemparan batu. Suara air irigasi kembali mendominasi, mengiringi sunyi yang penuh makna di hati mereka masing-masing.
Di sudut timur, pohon mangga itu tetap tegak, diam, dan terus mematangkan buah-buahnya yang tersisa.***
Tana Kaili, 26 April 2026

Komentar
Posting Komentar