Ikhlas dan Iklan

Oleh: Temu Sutrisno

Ahad pagi itu, matahari belum sepenuhnya tinggi. Cahaya keemasan menimpa rerumputan yang masih menyimpan sisa embun. Di taman tengah kota, orang-orang bergerak dalam ritme yang sama. Berlari kecil, berjalan santai, atau sekadar duduk sambil memandangi layar ponsel mereka. Sesekali terdengar tawa ringan dari sekelompok anak muda yang sedang berswafoto, seolah pagi adalah panggung, dan mereka adalah pemeran utamanya.

Tonakodi berjalan pelan, langkahnya terukur, seakan setiap pijakan adalah bagian dari doa yang tak terucap. Sudah dua kali ia mengitari lapangan bersama tiga sahabatnya, Om Uchen, Om Uly, dan Ami. Namun kini, napasnya mulai meminta jeda. Ia menoleh ke arah pohon ketapang kencana di sudut taman. Daunnya rindang, teduhnya seperti pelukan yang dirindukan.

Ia pun duduk di bangku di bawahnya, menegak air mineral. Angin pagi menyapa lembut, membawa aroma tanah basah dan samar-samar… pisang dan ubi yang digoreng dari arah warung mobile di pinggir taman.

“Ah, ini aroma yang bisa bikin penghuni perut berdendang,” gumam Tonakodi sambil tersenyum tipis.

Tak lama, Om Uchen datang dengan langkah setengah terhuyung. “Saya ini bukan capek, Tonakodi. Saya hanya memberi kesempatan pada kaki untuk merenung,” katanya sambil duduk, lalu tertawa sendiri.

Di belakangnya, Om Uly menyusul. “Jangan dengar dia. Dari tadi dia hitung putaran bukan pakai langkah, tapi pakai jumlah orang yang lewat.”

Ami datang terakhir. Nafasnya masih teratur, wajahnya segar. Ia membawa empat gelas kopi plastik dan sebungkus pisang dan ubi goreng.

“Ini, supaya diskusi kita tidak terlalu filosofis tanpa gula,” katanya santun.

Mereka duduk melingkar. Suasana menjadi hangat, bukan hanya karena kopi, tapi juga karena kehadiran yang saling mengisi.

Beberapa saat mereka diam. Hanya suara burung dan riuh rendah manusia di kejauhan.

Ami membuka percakapan. “Tonakodi, saya ingin tanya. Belakangan ini saya sering lihat orang berbagi kebaikan di media sosial. Dari sedekah, bantu orang susah, sampai kegiatan sosial. Ada juga pejabat dan kepala daerah pasang baliho besar dengan tulisan bekerja ikhlas untuk rakyat. Itu sebenarnya masih ikhlas atau sudah jadi… iklan?”

Om Uchen langsung menyela, “Kalau saya bagi-bagi kopi gratis, terus saya foto, itu ikhlas atau promo usaha?"

"Eh, Ami. Ada juga orang merasa berjasa, lalu bilang: kalau bukan karena saya....karena aku dia....atau karena saya dia bisa begitu. Jangan-jangan itu iklan juga, ya?”

“Kalau kopinya enak, saya tidak peduli niatnya apa,” jawab Om Uly datar.

Tonakodi tersenyum, menatap daun ketapang yang bergoyang perlahan.

“Pertanyaan Ami, seperti angin pagi ini. Lembut, tapi bisa menggugurkan daun yang rapuh.”

Ami mengangguk, memperhatikan.

Tonakodi melanjutkan, “Ikhlas dan iklan memang hanya beda sedikit huruf, tapi jaraknya sejauh langit dan bumi dalam niat.”

“Waduh, berat ini. Saya belum sarapan,” celetuk Om Uchen.

Tonakodi tetap tenang. “Ikhlas itu seperti akar pohon. Ia bekerja dalam diam, tak terlihat, tapi memberi hidup. Ia tidak butuh tepuk tangan. Bahkan, ia tak ingin diketahui.”

“Iklan?” tanya Ami.

“Iklan itu seperti bunga yang sengaja ditanam di depan rumah. Indah, mencolok, dan memang ingin dilihat. Tujuannya jelas: menarik perhatian.”

Om Uly menyeruput kopinya. “Berarti kalau kita berbuat baik lalu diceritakan, itu sudah bukan ikhlas?”

“Belum tentu,” jawab Tonakodi pelan. “Yang menentukan bukan tindakan lahirnya, tapi arah hatinya.”

Ami sedikit condong ke depan. “Maksudnya?”

“Jika seseorang berbagi kebaikan untuk menginspirasi, tanpa ada rasa ingin dipuji, bisa jadi itu tetap ikhlas. Tapi jika ada keinginan halus ingin dilihat, dihargai, atau dianggap baik, maka di situlah iklan mulai tumbuh.”

Om Uchen mengangguk serius, lalu berkata, “Jadi… kalau saya upload foto lari pagi biar dibilang sehat, itu iklan?”

“Kalau Om Uchen lari benar-benar karena sehat, lalu orang tahu, itu bonus. Tapi kalau komiu lari karena ingin dipuji sehat, itu iklan,” jawab Tonakodi.

Mereka tertawa kecil.

Angin kembali berhembus. Seorang anak kecil berlari mengejar balon, sementara ibunya sibuk mengambil video.

Ami memandang itu, lalu berkata, “Dunia sekarang seperti memaksa semua hal untuk terlihat. Bahkan kebaikan pun seperti harus dipublikasikan agar dianggap ada.”

Tonakodi mengangguk. “Itulah ujian zaman. Dahulu orang menyembunyikan amal karena takut riya. Sekarang, orang takut amalnya tidak diketahui oleh orang banyak.”

“Padahal,” lanjutnya, “nilai sebuah kebaikan bukan pada berapa banyak yang melihat, tapi pada seberapa dalam ia berakar di hati.”

Om Uly menimpali, “Jadi intinya, ikhlas itu di dalam hati, iklan itu di depan mata?”

Tonakodi tersenyum lebar. “Sederhana, tapi tepat.”

Ami terdiam sejenak. “Lalu bagaimana kita menjaga agar tetap ikhlas di zaman seperti ini?”

Tonakodi menatap langit yang mulai biru sempurna. “Latih hati untuk tidak bergantung pada penilaian manusia. Dan biasakan melakukan sesuatu yang tak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.”

Om Uchen mengangkat tangan. “Saya pernah melakukan itu.”

“Apa itu Om?” tanya Ami.

“Saya makan pisang goreng diam-diam tanpa bagi ke kalian.”

Mereka tertawa lebih keras.

“Bagaimana rasanya?” tanya Tonakodi.

“Tidak seenak kalau dimakan bersama,” jawab Om Uchen jujur.

Tonakodi mengangguk. “Begitu juga dengan kebaikan. Lebih bermakna ketika dilakukan dengan hati yang bersih, bukan dengan panggung yang ramai.”

Matahari kini lebih tinggi. Taman semakin padat. Suara musik senam masih terdengar dan sebagian orang masih olahraga meregangkan badan.

Ami berdiri perlahan. “Terima kasih, Tonakodi. Saya rasa, hari ini saya belajar bahwa menjaga niat itu lebih sulit daripada melakukan kebaikan itu sendiri.”

Tonakodi ikut berdiri. “Itulah perjalanan yang tak pernah selesai.”

Om Uly menepuk pundak Ami. “Yang penting, jangan berhenti berbuat baik.”

Om Uchen menambahkan, “jangan lupa, kalau mau ikhlas… jangan tag saya di setiap postingan.”

Tawa kembali pecah.

Mereka berjalan meninggalkan pohon ketapang kencana, melangkah pelan di antara keramaian. Di tengah dunia yang penuh sorotan, mereka memilih menjadi cahaya yang tak perlu disebut, cukup dirasakan.***


Tana Kaili, 19 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan