Hati yang Jujur

Oleh: Temu Sutrisno 

Jumat pagi itu turun dengan lembut. Hujan rintik menyentuh seng-seng tua di sebuah warung kopi kecil di pinggir masjid. Aroma tanah basah bercampur dengan harum kopi yang baru diseduh. Di sudut warkop sederhana itu, empat orang duduk mengitari meja kayu yang sudah sedikit mengelupas catnya.

Tonakodi menggenggam cangkir teh hangat. Uapnya naik perlahan, seolah mengikuti ritme napasnya yang tenang. Wajahnya teduh, matanya dalam, seperti menyimpan banyak perjalanan batin. Di sebelahnya, Om Uchen sudah menyeruput kopi hitamnya dengan gaya santai, sementara Om Uly dan Ustaz Ishaq menikmati kopi susu ditemani sepiring nasi kuning yang masih hangat.

“Ah, beginilah hidup yang nikmat,” kata Om Uchen sambil tersenyum lebar. “Hujan rintik, kopi hitam, utang belum jatuh tempo.”

Om Uly terkekeh kecil. “Kalau utangnya sudah jatuh tempo, hujan pun terasa seperti tagihan.”

Semua tertawa pelan.  Tonakodi tersenyum tipis, seolah mendengarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar percakapan.

Beberapa saat kemudian, Om Uchen menghela napas panjang. “Tapi serius, saya ini kadang heran. Banyak pejabat itu, kenapa ya susah sekali jujur? Begitu ada tekanan dari atasan, langsung goyah. Padahal sudah tahu salah.”

Ustaz Ishaq mengangguk pelan, tapi belum bicara. Ia menunggu.

Om Uchen melanjutkan, kali ini dengan nada setengah bercanda, setengah getir. “Disuruh kumpul dana kegiatan yang tidak ada anggarannya, ya tetap ‘siap, Pak!’ Padahal di hati kecilnya sudah tahu, ini bukan lagi gotong royong… ini gotong royong menuju masalah.”

Om Uly menyeka tangannya, lalu menatap meja sejenak sebelum berbicara. “Itu karena hatinya tidak jujur. Bukan cuma kepada orang lain, tapi kepada diri sendiri. Ada rasa takut. Takut dianggap tidak loyal. Takut dimarahi. Takut kehilangan posisi.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih pelan, “Padahal satu kata ‘tidak’ yang jujur, kadang lebih menyelamatkan daripada seribu ‘iya’ yang terpaksa.”

Hujan di luar masih turun, seperti memberi jeda bagi kata-kata yang baru saja lahir.

“Masalahnya,” kata Om Uchen lagi, “orang-orang itu sering bilang, ‘ini kan cuma sedikit, cuma bantu-bantu saja.’ Lama-lama jadi kebiasaan. Dari sukarela, jadi terpaksa. Dari kecil, jadi besar. Dari biasa, jadi... ya, pungli itu.”

"Lucunya, hampir setiap instansi menggelorakan zona integritas, zona bebas korupsi, tanpa Pungli dan sejenisnya. Acara seremonialnya juga besar-besaran," kata Om Uly.

Tonakodi akhirnya mengangkat wajahnya. Ia menatap keluar, ke arah halaman masjid yang basah oleh hujan. Suaranya pelan, tapi jelas.

“Jujur dan hadapilah masalah. Kejujuran, integritas tidak bergantung pada seremoni, tapi hati.”

Semua terdiam. Kalimat itu sederhana, tapi seperti jatuh tepat di tempat yang paling dalam.

Tonakodi melanjutkan, “Kejujuran mungkin tidak selalu membuat jalan terasa mudah. Bahkan sering kali terasa lebih berat. Tapi selalu membawa kita ke arah yang benar dan Insyaallah berkah.”

Ia mengusap pinggir cangkir tehnya, lalu berkata lagi, “Masalah bukan untuk dihindari. Masalah seperti bayangan. Semakin kita lari, semakin ia mengejar. Tapi saat kita berbalik dan menghadapinya, kita akan tahu… ia tidak sebesar yang kita bayangkan.”

Om Uly mengangguk pelan. Ustaz Ishaq mulai tersenyum.

“Dalam agama,” ujar Ustaz Ishaq kemudian, “Allah memerintahkan kita untuk bersama orang-orang yang jujur. Dan Rasulullah mengajarkan, kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.”

Ia menatap satu per satu wajah di meja itu. “Sebaliknya, dusta membawa kepada keburukan, dan keburukan menyeret ke dalam kehancuran. Jadi ini bukan sekadar soal benar atau salah secara administratif, tapi soal keselamatan jiwa.”

Om Uchen menghela napas, kali ini tanpa candaan. “Berarti masalahnya bukan cuma sistem, tapi hati ya…”

Tonakodi tersenyum. “Sistem bisa diperbaiki. Tapi hati… harus disadari.”

Hening kembali turun, ditemani suara rintik hujan yang belum juga reda.

“Kadang,” lanjut Tonakodi, “orang tidak jujur bukan karena tidak tahu kebenaran, tapi karena takut kehilangan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah benar-benar ia miliki.”

Om Uly menatapnya, seolah menemukan sesuatu dalam kalimat itu.

“Jabatan, kenyamanan, pengakuan,” tambah Tonakodi. “Semua itu sementara. Tapi ketenangan hati, ketenangan jiwa… itu yang abadi, sampai pada saat Allah memanggil hamba-Nya dengan kasih sayang 'Wahai jiwa-jiwa yang tenang'. Semoga kejujuran mengantarkan kita semua dalam kasih sayang Allah."

Ustaz Ishaq mengangguk mantap. Ketenangan itu tidak akan datang dari jalan yang bengkok.”

Tonakodi kembali menatap cangkir tehnya yang kini mulai mendingin. “Dari kejujuran lahir ketenangan. Dari keberanian menghadapi masalah tumbuh kedewasaan.”

Ia mengangkat pandangannya, kali ini lebih tegas.

“Jadilah pribadi yang tegak. Bukan karena hidup tanpa masalah, tapi karena berani menghadapinya dengan hati yang jujur.”

Di luar, hujan mulai mereda. Sinar pagi perlahan menembus awan, jatuh di halaman masjid yang basah. Seperti harapan yang datang setelah keberanian untuk jujur.

Om Uchen tiba-tiba tersenyum lagi. “Baiklah… mulai hari ini, kalau ada yang minta aneh-aneh, saya bilang saja: ‘Maaf tidak bisa, saya lagi latihan jujur.’”

Semua tertawa.

Di antara tawa itu, ada sesuatu yang berubah pelan, tapi pasti. Bercermin pada hati. Seperti hujan yang jatuh satu-satu, namun mampu menyuburkan tanah yang lama kering.***


Tana Kaili, 24 April 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam

Di Kampungku, Drag Race jadi Ukuran Kemajuan