Was-was Ekonomi Global

Infografis: Antara

Dunia kembali menahan napas. Eskalasi konflik bersenjata antara Israel dan Iran yang pecah pada Sabtu (28/2/2026) bukan sekadar riak geopolitik biasa. Ini adalah alarm keras bagi stabilitas global yang kini berada di titik nadir. Ketika mesin perang mulai menderu di Timur Tengah, dampaknya tidak berhenti pada dentuman rudal di medan tempur, melainkan merambat cepat ke dapur-dapur warga di seluruh belahan bumi melalui ancaman kelumpuhan ekonomi.

​Fokus perhatian kini tertuju pada satu titik sempit namun mematikan: Selat Hormuz. Jalur yang secara geografis menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini adalah "nadi leher" bagi perdagangan energi dunia. Data mencatat bahwa sepanjang 2025, sekitar 14 juta barel minyak per hari—sepertiga dari total ekspor minyak mentah dunia, bergantung pada kelancaran arus di selat ini. Belum lagi 20 persen pasokan gas alam cair (LNG) global yang mayoritas berasal dari Qatar.

​Bayangkan jika "keran" ini ditutup. Dengan posisi Iran yang secara strategis mengendalikan pulau-pulau di sekitar selat tersebut, ancaman blokade bukan sekadar gertakan sambal. Jika Selat Hormuz terganggu, kita tidak hanya bicara soal kenaikan harga BBM, tetapi juga lonjakan inflasi global yang tak terkendali. China, sebagai penerima separuh dari aliran minyak tersebut, akan mengalami guncangan industri yang hebat, yang pada gilirannya akan memicu efek domino pada rantai pasok global, termasuk Indonesia.

Selat Hormuz merupakan ​urat nadi ekonomi global. Statistik mencatat 14 juta barel minyak mentah per hari yang melintasi Hormuz. Total nilai perdagangan non-migas di kawasan tersebut mencapai 1,2 Triliun USD. Total ​20 persen pengiriman kontainer global bergantung pada jalur ini.

​Di atas hitung-hitungan angka dan triliunan dollar perdagangan, ada harga yang jauh lebih mahal: kemanusiaan. Perang, dengan alasan apa pun, selalu menyisakan luka yang dalam dan korban jiwa yang tak berdosa. Menjadikan stabilitas ekonomi sebagai taruhan dalam ambisi kekuasaan adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab.

​Masyarakat internasional tidak boleh tinggal diam atau lebih buruk turut memperkeruh suasana. Dukungan militer yang saling silang hanya akan memperpanjang nafas konflik. Upaya diplomatik harus dilakukan dengan urgensi yang setara dengan kondisi darurat. Gencatan senjata bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk mencegah kehancuran ekonomi dan tragedi kemanusiaan yang lebih luas.

​Kita harus sadar bahwa di era yang saling terhubung ini, tidak ada negara yang benar-benar menang dalam perang. Saat Selat Hormuz tersumbat, seluruh dunia akan ikut merasakan sesaknya. Sudah saatnya ego geopolitik ditundukkan demi keselamatan warga dunia dan keberlangsungan ekonomi global yang kian rapuh.

Sudah saatnya kita berhenti bersikap naif. Perang tidak pernah menghasilkan pemenang sejati. Perang hanya menyisakan puing dan tangis. Kita menuntut akal sehat untuk kembali bertahta di meja diplomasi. Hentikan retorika perang, tarik mundur pasukan dari garis api, buang jauh-jauh rudal dan nuklir yang mengancam nyawa. Tak ada kepentingan nasional manapun yang lebih berharga daripada keselamatan umat manusia. TMU

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam