Perang AS-Iran, Media Sosial, dan Etika Digital

Oleh: Temu Sutrisno

​Layar ponsel kini telah menjadi jendela sekaligus medan tempur baru. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Israel, melawan Iran tidak lagi hanya terjadi di pangkalan militer atau selat-selat strategis, melainkan tumpah ruah di beranda informasi platform media sosial. Mulai dari X (dahulu Twitter), Instagram, FB, hingga TikTok, narasi perang berseliweran tanpa henti, menciptakan kebisingan digital yang sering kali menumpulkan nalar dan rasa kemanusiaan.

​Fenomena ini membawa kita pada satu pertanyaan krusial: Di manakah letak etika digital kita ketika konflik bersenjata pecah?

Antara Realitas dan Fabrikasi AI

Ruang informasi tidak lagi hadir secara objektif. Apa yang muncul di lini masa kita sangat bergantung pada preferensi pribadi, riwayat pencarian, dan interaksi sebelumnya. Mereka yang bersimpati pada perjuangan Iran akan disuguhi narasi perlawanan terhadap imperialisme AS serta kekejaman dan kesewenang-wenangan Zionisme Israel. Sementara mereka yang mendukung AS-Israel akan terus menerima informasi mengenai bahaya nuklir dan ancaman keamanan global.

​Kondisi ini menciptakan ruang gema (echo chambers) yang berbahaya. Masyarakat tidak lagi mencari kebenaran, melainkan mencari pembenaran atas apa yang sudah mereka yakini. Akibatnya, informasi menjadi sangat bias. Persaingan narasi ini sering kali mengabaikan fakta lapangan, di mana setiap pihak berusaha memenangkan "perang persepsi" dengan cara apa pun.

​Tantangan etika digital semakin berat dengan kehadiran Kecerdasan Buatan (AI). Saat ini, sulit membedakan mana rekaman asli dari medan tempur dan mana hasil olahan algoritma. Dengan AI, perang digambarkan begitu dramatis dan nyata. Video ledakan yang megah atau foto-foto kerusakan kota bisa diproduksi dalam hitungan detik untuk memicu emosi publik.

​Masalahnya, fabrikasi ini sering kali digunakan untuk tujuan propaganda. Ketika teknologi mampu menciptakan realitas semu yang identik dengan kondisi riil, publik kehilangan kompas untuk menentukan kebenaran. Pengabaian terhadap verifikasi (fact-checking) membuat hoaks menyebar lebih cepat daripada upaya klarifikasi itu sendiri.

Kematian Empati di Ujung Jari

​Etika digital kini sering kali diabaikan demi kecepatan dan sensasi. Tanpa saringan, informasi mentah langsung disebarkan (sharing). Tragisnya, di tengah hiruk-pikuk komentar dan unggahan, nyaris tidak ada akun media sosial yang secara konsisten menyerukan perdamaian. Jika ada, sangat sedikit dibanding akun yang menyebarkan 'kehebatan' perang antara dua kutub yang berseteru. 

​Perang digambarkan secara vulgar. Video serangan drone atau rudal ditonton layaknya adegan film aksi. Di balik layar ponsel, kita sering lupa bahwa di lokasi kejadian, ada anak-anak yang gemetar ketakutan di bawah bunyi sirene, ada ibu yang menjerit kehilangan buah hati, ada lansia dan rakyat sipil yang bergelimpangan menjadi korban sia-sia.

​Empati tampaknya telah mati dalam jemari yang menulis utasan penuh kebencian. Kita terjebak dalam angka-angka statistik korban tanpa pernah merasakan denyut penderitaan manusia di baliknya. Ketika sebuah nyawa manusia hanya dianggap sebagai "kerusakan tambahan" (collateral damage) dalam sebuah narasi politik di media sosial, di situlah kemanusiaan kita sedang runtuh. Kita membunuh kemanusiaan sendiri sebelum kita mati. 

Masyarakat yang Terbelah

​Alih-alih menjadi sarana edukasi dan solidaritas, media sosial justru memperlebar jurang polarisasi. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu ekstrem. Diskusi yang sehat berganti menjadi saling hantam komentar, perundungan digital (cyberbullying), hingga penyebaran narasi kebencian (hate speech).

​Etika berkomunikasi yang menjunjung tinggi penghormatan terhadap martabat manusia seolah lenyap. Di tengah kebisingan ini, mungkin hanya satu atau dua akun yang masih berupaya menjaga hati dan kewarasan digital—mereka yang berani bersuara untuk kemanusiaan di atas kepentingan politik praktis.

​Menghadapi situasi ini, diperlukan reorientasi dalam cara kita berinteraksi di dunia maya. Etika digital bukan sekadar aturan formal, melainkan kesadaran batin untuk bersikap dan melakukan tindakan nyata melalui platform media sosial. Apa yang dapat dilakukan? 

Pertama, ​melakukan verifikasi sebelum berbagi. Pastikan sumber informasi kredibel dan bukan hasil manipulasi AI yang menyesatkan.

Kedua, ​mengedepankan narasi kemanusiaan. Berhenti merayakan kehancuran pihak lain. Fokuslah pada seruan perlindungan warga sipil dan perdamaian, serta ketiga, mengelola emosi. Jangan biarkan algoritma memprovokasi kemarahan kita. Gunakan media sosial untuk membangun dialog, bukan memperuncing konflik.

​Perang di dunia nyata memang pahit. Namun perang narasi tanpa etika di dunia digital, bisa jauh lebih merusak bagi peradaban manusia. Mari kita kembalikan fungsi media sosial sebagai sarana komunikasi dan silaturahmi. Media sosial dijadikan alat pemersatu, bukan sebagai mesin penghancur nurani. Di tengah dentuman rudal dan serangan siber, kewarasan digital adalah benteng terakhir yang harus kita jaga bersama.***




Penulis adalah Wartawan Utama Mercusuar-Trimedia Grup, Peminat Etika Digital

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam