Gerimis kala Sahur Tiba

Oleh: Temu Sutrisno


​Lantunan wahyu merdu mendarat dari menara

Gerimis tipis membasuh dini hari, isyarat berkah tak terhingga

Di pengujung Ramadan yang kian sunyi

Saat roda ekonomi kian mencekik hari

Saat dunia dibayang-bayangi bara perang abadi

Di antara puing-puing keadilan yang terkoyak sepi

Rintik sahur ini hadir menyeka hati


​Ya,

Apalagi yang luput dari syukur kami?

Sahur sederhana ini adalah kemewahan yang tak lagi terperi

Di bawah temaram bintang, di luasnya pelukan galaksi

Kedamaian

Ketenteraman

Ketenangan

Hanyalah mimpi bagi mereka yang dipaksa iri

Mereka yang merindukan fajar tanpa dentum meriam

Mereka yang dibutakan takhta dan ambisi kelam

Mereka yang rakus merobek rahim alam

Mereka yang menyangka kemewahan adalah puncak kesenangan

Hingga lupa pada senyum tulus lepas dari tekanan


​Gerimis sahur, saat Ramadan mulai berkemas pamitan

Membawa sejuk yang sarat dengan pengharapan

Agar dunia kembali dalam dekap kedamaian

Kusut benang keserakahan segera teruraikan

Alam tetap lestari dalam hijaunya kehidupan


Sahur yang bersahaja ini

Menegaskan hidup tenang adalah semewah-mewahnya kesenangan

Gerimis ini menyadarkan, jangan jadikan kemewahan sebagai tujuan kehidupan

​Rintik itu masih setia mewarnai

Semoga jubah Ramadan tetap melekat di raga, abadi menjadi pakaian hati. ***



​Palu, 11 Maret 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Ombo; Kearifan Lokal Masyarakat Kaili Melestarikan Alam