Tidak Sadar Diri

Oleh: Temu Sutrisno

(Gambar hanya pemanis)




Sabtu pagi di taman pinggir lapangan depan kantor wali kota selalu seperti halaman buku yang terbuka pelan. Udara masih basah oleh embun, suara sepatu olahraga bersahut-sahutan, dan aroma kopling -kopi keliling, mengepul dari termos Mangge Rahman, bercampur wangi kue buroncong yang baru diangkat dari cetakan.

Di bangku panjang atau tepatnya undakan turab beton bawah pohon ketapang, lima orang duduk melingkar seperti majelis kecil tanpa undangan resmi. Tonakodi berada di tengah, tenang, bersahaja, dengan tatapan seperti orang yang baru selesai berdamai dengan dirinya sendiri. Kaosnya nyaris tidak berkeringat, karena hanya berjalan santai setengah putaran lapangan.

Om Uchen menyeruput kopi, lalu berdecak. “Pahit betul kopi ini, sepahit utang negara.”

Om Uly tertawa. “Kalau manis, bukan kopi namanya. Itu janji kampanye Om.”

Semua tertawa renyah mendengarnya.

Tonakodi tersenyum tipis. Suaranya lembut seperti air dituangkan ke gelas kaca.

“Kopi memang pahit, Om. Tapi dari pahit kita belajar bahwa hidup tak wajib selalu manis. Tak selamanya kita butuh gula, agar hidup lebih berwarna.”

Ami melirik dengan senyum semringah.

“Nah, mulai sudah ceramah paginya.”

Ryan yang penuh keringat duduk berselonjor santai hanya nyengir.

“Biar saja, Mi. Anggap podcast gratis edisi lapangan.”

Mangge Rahman datang membawa sepiring buroncong. Tonakodi mengambil satu, mencicipi perlahan.

“Buroncong ini seperti manusia,” katanya pelan. “Terlihat sederhana, tapi kalau dibakar terlalu lama bisa gosong oleh amarah sendiri.”

Om Uchen bertepuk tangan. "Luar biasa!”

Ami langsung menimpali tanpa basa-basi.

“Tonakodi, jujur saja. Kadang orang butuh kalimat pendek, bukan khutbah versi jalan pagi.”

Tonakodi tersenyum, tak tersinggung sedikit pun.

“Kejujuranmu itu seperti cabe rawit, Mi. Pedas, tapi menyehatkan.”

Ryan tertawa, menyeruput kopi dengan gaya santai.

“Aku sih cuma menikmati saja. Selama masih ada kopi dan buroncong, hidup aman terkendali.”

Di lapangan, orang-orang masih olahraga. Ada yang senam, lari, dan jalan santai. Selebihnya swafoto untuk media sosial, atau sekadar ngobrol seperti Tonakodi dan karibnya.

Speaker tua memutar lagu mengiringi senam, yang nadanya berdetak tak karuan seperti mimpi anak kos di akhir bulan.

Om Uly menunjuk ke sana. "Dengar itu, speakernya fals sekali.”

Sebelum yang lain berkomentar, Tonakodi lebih dulu berkata lembut,

“Mungkin bukan fals, Om. Hanya sedang mencari nadanya sendiri, seperti kita mencari arah pulang.”

Om Uchen mengangguk sok paham.

“Betul juga, hehehe. Dulu aku juga fals, sebelum ketemu mamanya anak-anak.”

Ami tertawa keras.

“Kalian ini kalau sudah bergabung, membingungkan.”

Hahahaha. Kelimanya terpingkal mendengar cerocos Ami.

Percakapan terhenti sebentar ketika Mangge Rahman menuang kopi tambahan. Asap tipis naik seperti doa yang malas terbang.

Ryan membuka obrolan.

“Tadi aku dengar di berita ada beberapa mantan pejabat negara, mengkritisi pemerintah. Ada juga pengamat, semua dinilai salah. Hanya pendapatnya yang benar. Sepertinya hobi mencari salah orang terus. Mirip juri lomba tanpa peserta.”

Ami langsung menyambar.

“Itu penyakit lama. Orang begitu biasanya lupa berkaca, saat menjabat apa dia bikin. Sepertinya hanya dirinya yang benar.”

Tonakodi meletakkan gelasnya pelan.

“Orang yang sibuk menunjuk noda di baju orang lain, sering lupa melihat lumpur di tangan dan sepatu sendiri. Orang seperti itu, biasanya tidak menghitung etika. Di benaknya hanya prestise dan kepentingan.”

Om Uly mengangguk.

“Tonakodi, komiu ini bikin saya merasa sedang ikut pengajian padahal cuma habis lari dua putaran.”

Om Uchen menimpali, “Tapi benar juga. Kadang kita merasa paling lurus, padahal cuma belum belok.”

Ami menatap Tonakodi.

“Tonakodi, menurutmu orang bisa berubah nggak?”

Tonakodi memandang lapangan yang tak kunjung lengang.

"Suka menunjukkan kesalahan orang lain tadi bisa berdampak jauh lebih dalam daripada sekadar suasana hati orang yang dikritik. Kebiasaan ini dapat membuat orang merasa terasing dari hubungan penting mereka, menciptakan energi negatif di sekitarnya, bahkan memperburuk suasana hati sendiri."

Dengan nada datar, Tonakodi melanjutkan ucapannya.

"Kebiasaan mencari kesalahan orang lain juga menciptakan jarak emosional. Orang-orang di sekitarnya mungkin tetap tersenyum, tapi secara perlahan memilih menjaga jarak. Bukan karena benci, melainkan lelah. Lelah harus selalu siap dikomentari, dinilai, atau dijadikan bahan candaan."

Orang yang gemar menunjuk kesalahan orang lain sering merasa apa yang mereka lakukan itu wajar. Bahkan ada yang menganggap dirinya jujur, kritis, atau peduli. Padahal, kebiasaan ini bisa meninggalkan luka emosional yang tidak selalu terlihat. Kata-kata yang dianggap sepele oleh satu orang, bisa menjadi beban panjang bagi orang lain.

Tiba-tiba Tonakodi menyetel mode serius. Ryan yang biasanya santai, sejenak tertegun lupa menyeruput kopinya.

"Lucunya, kebiasaan ini sering kali bukan karena mereka paling benar, melainkan karena kurangnya kesadaran diri."

"Lalu Tonakodi, apa yang terjadi?" sergah Om Uchen.

"Orang yang kurang sadar diri cenderung lebih fokus melihat ke luar daripada ke dalam. Mereka cepat menunjuk apa yang salah dari orang lain. Kepribadian seperti ini juga sering ditandai dengan minimnya empati. Merasa diri paling benar, hebat, dan merasa lebih dari yang lain itu berbahaya. Itu bibit kesombongan. Siapa beternak kesombongan, ia akan menjadi ternak iblis."

“Manusia itu seperti buroncong. Bentuknya bisa sama, tapi matangnya berbeda-beda. Ada yang cepat, ada yang perlu api lebih lama. Asal bukan api kebencian," sahut Om Uly ikut serius a la Tonakodi.

Ryan bertepuk pelan.

“Aku setuju, tanpa harus mikir berat.”

Tiba-tiba gelas kopi Om Uly tersenggol dan tumpah membentuk genangan kecil.

“Waduh, peta harta karunku bocor,” katanya bergurau.

Ami spontan berkata,“Makanya hati-hati, Om. Dari tadi bercanda terus.”

Semua menoleh ke Tonakodi, menunggu petuah baru. Ia hanya tersenyum.

“Tak apa tumpah, Om. Yang penting bukan hati kita yang bocor oleh kesombongan.”

Hening sejenak. Bahkan burung di pohon ketapang seperti ikut merenung.

Om Uchen memecah suasana,

“Tonakodi, kau ini kalau jual kata-kata, bisa laku sekilo.”

Ami mengangguk.

“Iya, tapi kadang terlalu halus sampai orang lambat paham.”

Tonakodi tertawa kecil.

“Kebenaran itu seperti kopi panas. Kalau langsung diteguk, lidah bisa luka. Maka harus ditiup pelan.”

Ryan berdiri meregangkan badannya yang sedikit tambun.

“Aku cuma tahu satu kebenaran. Kalau duduk terlalu lama, pantat kesemutan.”

Semua tertawa. Suasana kembali ringan seperti daun jatuh di rerumputan.

Matahari makin naik. Penjual buroncong mulai membereskan lapak. Mangge Rahman mendorong gerobak koplingnya pelan meninggalkan taman.

Sebelum berpisah, Ami berkata terus terang,

“Tonakodi, aku suka caramu mengingatkan orang. Tapi jangan sampai kau sendiri lupa diingatkan.”

Tonakodi mengangguk hormat.

“Terima kasih, Mi. Bahkan cermin pun butuh cermin lain. Bahkan Muhammad Ali, Tyson, Zidane, dan Messi juga butuh pelatih untuk mengingatkan dari pinggir ring dan lapangan.”

Om Uly merangkul bahu Tonakodi.

Ryan melambaikan tangan santai.

“Sampai Sabtu depan, selama masih kopi dan buroncong!”

Mereka berjalan meninggalkan bangku taman dengan langkah ringan. Di belakang, lapangan kantor wali kota kembali menjadi biasa. Tanpa mereka, tanpa tawa, tanpa petuah.

Tonakodi menoleh sebentar, lalu berbisik seperti pada dirinya sendiri.

“Semoga kita semua belajar melihat ke dalam sebelum sibuk melihat dan menilai orang di luar. Lebih banyak menghisab diri sendiri sebelum dihisab Tuhan.”

Angin pagi menjawab dengan diam. Obrolan Sabtu itu ditutup oleh aroma kopi yang pelan menghilang di udara kota.***


Palu, 7 Februari 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014