Pitutur Luhur: Melik Nggendong Lali
Oleh: Temu Sutrisno
(Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah)
Dalam perjalanan hidup orang Jawa, banyak sekali ungkapan yang mengandung nasihat mendalam. Salah satu yang cukup dikenal adalah Melik Nggendong Lali. Ungkapan ini memang sudah jarang terdengar di zaman sekarang, tetapi bukan berarti maknanya hilang. Justru di tengah kehidupan modern yang serba cepat, falsafah ini terasa semakin penting untuk diingat kembali.
Secara harfiah, kata melik berarti keinginan yang sangat kuat untuk memiliki sesuatu. Keinginan itu bukan sekadar ingin, tetapi sudah mengarah pada rasa tamak dan tidak mau melepaskan. Kata nggendong berarti membawa atau memikul dengan erat, seolah-olah sesuatu itu sudah menyatu dengan diri. Sedangkan lali berarti lupa. Jika tiga kata ini disatukan, maknanya menjadi sebuah peringatan: ketika manusia terlalu besar hasratnya untuk memiliki sesuatu dan terus “menggendong” keinginan itu, maka ia bisa kehilangan kejernihan pikiran dan akhirnya lupa pada banyak hal penting dalam hidupnya.
Orang tua Jawa dahulu sering menggunakan ungkapan ini untuk menasihati anak cucunya. Mereka paham bahwa keinginan adalah bagian dari sifat manusia, tetapi keinginan yang tidak terkendali bisa berubah menjadi sumber petaka. Seseorang yang dikuasai oleh melik akan sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Akal sehat yang seharusnya menjadi penuntun perlahan tersingkir oleh dorongan nafsu.
Ungkapan Melik Nggendong Lali kembali muncul sebagai bahan renungan bersama. Perlu dibuka lagi memori lama, menggali maknanya agar tidak hanya menjadi kata-kata kosong. Ternyata, semakin ditelisik, semakin terasa betapa dalam pesan yang terkandung di dalamnya.
Ketika seseorang sudah terkena melik, banyak hal bisa terlupakan. Ia bisa lupa pada sumpah jabatannya, lupa pada tanggung jawab terhadap keluarga, bahkan lupa bahwa setiap manusia sejatinya memikul amanah sebagai wakil Tuhan di bumi. Pada titik inilah seseorang bisa menjadi gelap mata. Ia tidak lagi mendengar suara hati, tidak lagi peduli pada nilai kebenaran, yang ada hanya bagaimana cara memuaskan keinginannya.
Falsafah ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi pejabat atau orang yang memiliki kedudukan tinggi. Dalam kehidupan sehari-hari, kita semua bisa terjebak pada keadaan melik nggendong lali. Seorang pedagang bisa lupa kejujuran karena tergoda keuntungan besar. Seorang pegawai bisa lupa tugasnya karena mengejar kenyamanan pribadi. Bahkan dalam lingkup keluarga, orang tua bisa lupa pada kewajibannya mendidik anak karena sibuk mengejar harta.
Budaya Jawa selalu mengajarkan keseimbangan. Keinginan boleh ada, tetapi harus dikendalikan oleh akal budi dan budi pekerti. Orang Jawa mengenal konsep eling lan waspada—ingat dan selalu berhati-hati. Ingat pada asal-usul, ingat pada tujuan hidup, dan waspada terhadap godaan dunia. Di sinilah letak keindahan falsafah Melik Nggendong Lali: ia bukan larangan untuk memiliki keinginan, melainkan pengingat agar keinginan tidak menguasai diri.
Jika kita menengok keadaan bangsa saat ini, pesan leluhur itu terasa sangat relevan. Banyak peristiwa yang menunjukkan bagaimana manusia mudah tergelincir karena tidak mampu mengendalikan melik. Korupsi, penyalahgunaan wewenang, perebutan jabatan dengan segala cara—semuanya berawal dari keinginan yang digendong terlalu erat hingga melahirkan kelupaan.
Dalam dunia peradilan misalnya, amanah seharusnya menjadi pegangan utama. Namun ketika melik hadir dalam bentuk godaan materi atau kekuasaan, integritas bisa runtuh. Orang lupa bahwa jabatan hanyalah titipan, bukan milik abadi. Di sinilah falsafah lama itu seakan berbicara kembali, mengingatkan agar insan peradilan dan siapa pun yang memegang amanah tidak terjebak pada lingkaran melik nggendong lali.
Dapat dibayangkan, andai nasihat ini kembali diajarkan sejak kecil, mungkin wajah masyarakat kita akan berbeda. Anak-anak tidak hanya diajari mengejar cita-cita setinggi langit, tetapi juga diajari cara menata keinginan. Mereka perlu mengerti bahwa keberhasilan bukan sekadar memiliki banyak hal, melainkan mampu menjaga diri agar tetap ingat pada nilai kebaikan.
Pendidikan, kesenian, dan kebudayaan memiliki peran penting untuk menghidupkan kembali pesan semacam ini. Melalui tembang, cerita rakyat, maupun pertunjukan tradisi, nilai Melik Nggendong Lali bisa disampaikan dengan cara yang lebih menyentuh, agar generasi muda tidak asing dengan kebijaksanaan leluhurnya.
Tiga kata sederhana seakan mengajak kita untuk terus bercermin. Setiap kali keinginan datang begitu kuat, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah aku sedang menggendong melik hingga mulai melupakan banyak hal? Pertanyaan itu penting agar langkah kita tidak tersesat.
Falsafah Melik Nggendong Lali memang lahir dari budaya Jawa, tetapi maknanya bersifat universal. Semua manusia, dari latar belakang apa pun, menghadapi pergulatan yang sama antara keinginan dan kesadaran. Selama manusia masih hidup berdampingan dengan hawa nafsu, selama itu pula pesan ini tidak akan pernah lekang oleh waktu.
Semoga kita semua mampu menjaga keseimbangan antara memiliki dan mengingat, antara mengejar dan menyadari, antara keinginan dan kebutuhan. Sejatinya hidup yang baik bukan ditentukan oleh seberapa banyak yang kita genggam, melainkan seberapa kuat kita tetap eling—tetap ingat pada kebenaran di tengah godaan dunia. Senantiasa eling pada Tuhan Yang Maha Memberi, Tuhan Yang Maha Kasih dan Maha Memiliki. Wallahu'alam bishawab. ***
Tana Kaili, 9 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar