Panggilan Presiden pun tak Berarti
Oleh: Temu Sutrisno
Sabtu pagi itu langit cerah seperti baru saja mandi tobat. Libur kerja membuat Tonakodi melangkah ringan menuju kediaman Kyai, gurunya dalam mengarungi kehidupan. Rumah sederhana di pojok pesantren itu berdiri teduh di pinggir kampung, dikelilingi pohon mangga yang seolah ikut mengangguk-angguk mendengar angin berzikir.
Ramadan tinggal menghitung hari.
Sejak subuh, hati Tonakodi seperti rebana yang ditabuh perlahan, bergetar lembut namun penuh irama. Ia datang bersama dua sahabatnya, Om Uchen dan Om Uly. Tiga sekawan ini sering dianggap “jamaah khusus” oleh warga, karena ke mana-mana selalu bersama, seperti huruf mim yang tak mau berpisah dari basmalah.
Sampai di kediaman sang Kyai, Tonakodi tampak sumringah. Senyumnya merekah bak delima matang, nyaris membuat Om Uchen berbisik, “Ini orang baru dapat THR duluan atau bagaimana?”
Kyai menyambut mereka dengan senyum tipis yang sarat makna. Wajahnya teduh, matanya jernih seperti sumur yang tak pernah kering.
“Apa gerangan yang membuatmu kelihatan bahagia sekali, Tonakodi?” tanya Kyai pelan. “Macam tidak ada persoalan hidup?”
Tonakodi tertawa ringan. “Persoalan tetap ada, Kyai. Tapi saya sedang libur memikirkannya.”
Om Uly terkekeh. “Itu namanya manajemen stres ala Tonakodi.”
Tonakodi melanjutkan, “Bagaimana saya tidak gembira, Kyai. Hari ini bisa menyerap ilmu dari Kyai. Tidak lama lagi Ramadan. Apa yang lebih istimewa dari bertemu tamu Allah? Kita dipanggil Allah dengan sapaan khusus: ‘Hai orang-orang yang beriman…’ Panggilan dan sapaan dari presiden atau kepala daerah, jelas tidak ada artinya dibanding sapaan Allah menyambut Ramadan.”
Kyai tersenyum lebar. “Ah, macam ustaz juga Tonakodi ini.”
“Hahaha… iya, Kyai,” sahut Om Uchen. “Tonakodi ini kadang seperti anak SD yang lugu, kadang seperti guru, malah kadang seperti filsuf tanpa pengikut.”
“Yang penting bukan pengikut, Om,” balas Tonakodi santai. “Yang penting saya masih ikut jalan yang lurus.”
Mereka duduk melingkar di beranda. Kopi hitam tanpa gula disajikan. “Biar pahitnya terasa,” kata Kyai, “supaya kita ingat bahwa hidup juga begitu. Tapi kalau diminum dengan syukur, pahit pun jadi nikmat. Jangan hanya rasakan pahitnya, resapi ada Allah yang menciptakan kopi hadir dalam kehidupan ini.”
Om Uly menyeruput kopi dan meringis. “Saya ini masih belajar mensyukuri, Kyai. Lidah saya belum sampai maqam itu. Boleh ditambah sedikit gula.”
Kyai tertawa kecil. “Ramadan itu datang untuk melatih lidah, perut, dan hati. Supaya semuanya tahu batas.”
Suasana menjadi hening sejenak, hening yang hangat. Angin pagi berembus pelan, seakan ikut menyimak.
“Bergembira menyambut Ramadan adalah sikap terpuji,” ujar Kyai memulai petuahnya. “Bulan ini penuh berkah, ampunan, dan pahala berlipat ganda. Pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup. Bahkan setan pun dirantai.”
Om Uchen mengangkat tangan. “Kyai, kalau setan dirantai, kenapa masih banyak orang marah-marah saat puasa? Malah banyak juga yang tidak puasa."
Kyai menatapnya sambil tersenyum. “Karena tidak semua setan di luar. Ada yang tinggal nyaman di dalam diri. Makanya puasa ini hanya untuk orang beriman, sesuai panggilan Allah.”
Tonakodi spontan memegang dadanya. “Wah, berarti saya harus rajin-rajin sweeping batin ini.”
“Betul,” kata Kyai. “Ramadan bukan sekadar menahan lapar. Ia adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an. Bulan di mana Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya. Bergembira menyambutnya adalah tanda iman.”
Tonakodi mengangguk-angguk. “Insyaallah Kyai. Kami akan terus menata diri. Mengurangi marah, mengurangi prasangka, bahkan mengurangi mengeluh.”
Kyai melanjutkan, “Persiapan Ramadan itu dimulai sejak Rajab dan Sya’ban. Berdoa agar dipertemukan dengan Ramadan. Meningkatkan ibadah sunnah. Menyambutnya dengan ucapan gembira, bukan dengan mengeluhkan harga bahan pokok.”
“Berarti status media sosial saya yang isinya ‘Aduh, puasa lagi’ harus dihapus, ya Kyai?” tanya Om Uchen.
“Kalau bisa, diganti dengan ‘Marhaban ya Ramadan’. Supaya hatimu ikut menyambut, bukan hanya jarimu yang mengetik.”
Tonakodi terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kyai, saya merasa Ramadan itu seperti undangan istimewa. Semua orang diundang. Tapi yang benar-benar datang dengan hati tunduk dan ikhlas sangat sedikit.”
Kyai memandangnya dengan mata berbinar. “Itulah sebabnya kamu gembira, Tonakodi. Karena kamu melihat Ramadan bukan sebagai beban, tapi sebagai perjumpaan.”
Om Uly menghela napas. “Kadang saya merasa ibadah itu berat, Kyai.”
“Ibadah yang dilakukan dengan berat hati seperti berjalan menyeret kaki,” jawab Kyai. “Sampai juga, tapi lelahnya dua kali. Tapi ibadah dengan sukacita seperti berlari kecil menuju kekasih. Letihnya terasa ringan.”
Tonakodi tersenyum. “Berarti Ramadan ini kita harus berlari kecil ya, Om Uly?”
“Asal jangan lari dari tarawih,” sahut Om Uchen cepat.
Tawa kembali pecah. Namun di balik tawa itu, ada getar yang halus. Getar kesadaran bahwa mereka sedang menunggu bulan agung.
Sebelum pamit, Kyai berkata lembut, “Ingat, kegembiraan menyambut Ramadan lebih baik dari dunia dan seisinya. Karena itu tanda hati masih hidup. Jika hatimu senang bertemu Allah, berarti Allah sedang memanggilmu sebagai kekasih.”
Perjalanan pulang terasa berbeda. Langkah Tonakodi ringan, tapi bukan lagi karena libur kerja. Hatinya seperti telah diberi ruang yang lebih luas.
Om Uchen menepuk bahunya. “Komiu, kalau Ramadan nanti masih segembira ini, saya ikut-ikut saja.”
Tonakodi tersenyum. “Gembira itu menular, Om. Seperti tawa. Seperti cinta.”
Om Uly mengangguk pelan. “Semoga kita bukan hanya gembira di awal, tapi juga istiqamah sampai akhir.”
Ramadan memanggil orang-orang beriman untuk diwisuda menjadi Muttaqin, orang yang bertakwa.
"Om kita mesti bersyukur, tidak semua mahluk dapat naik kelas menjadi hamba. Tidak semua hamba mampu menjadi mukmin, beriman pada Tuhan. Begitu pula orang-orang beriman, tidak semua bisa naik level Muttaqin. Ramadan membuka pintu untuk semua orang beriman naik kelas. Tidak seperti pintu kekuasaan yang hanya terbuka untuk kelompok dan tim suksesnya," cerocos Tonakodi.
Di kejauhan, masjid kampung tampak tenang menanti malam-malam tarawih. Langit siang itu cerah, seolah memberi isyarat, tamu agung sedang dalam perjalanan.
Dalam dada Tonakodi, sebuah doa bergetar lirih.
Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadan, dengan hati yang telah Engkau lapangkan.***

Komentar
Posting Komentar