Mewaspadai Alarm Karhutla Avolua
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, bukan sekadar peristiwa kebakaran biasa. Ini adalah alarm keras bagi semua pihak—pemerintah, aparat, dan terutama masyarakat—tentang rapuhnya kesiapsiagaan kita menghadapi ancaman kebakaran di tengah ketidakpastian cuaca di Sulteng. Di antara mendung dan hujan tak menentu, sering cuaca berubah panas secara ekstrem.
Api yang hingga kini belum sepenuhnya padam, bahkan telah mendekati permukiman warga, masjid, dan sekolah, menunjukkan betapa cepatnya kebakaran dapat berubah menjadi bencana kemanusiaan. Jarak titik api yang hanya sekira 200 meter dari rumah warga, seharusnya cukup untuk membuat kita semua waspada dan tidak menganggap enteng persoalan ini.
Upaya pemadaman yang dilakukan oleh petugas gabungan bersama masyarakat patut diapresiasi. Namun, kejadian ini juga mengungkap fakta penting: pencegahan masih jauh lebih lemah dibandingkan penanganan. Padahal, pemerintah kecamatan dan desa telah berulang kali menyampaikan imbauan serta larangan pembakaran lahan, baik melalui edaran resmi maupun sosialisasi di ruang-ruang publik.
Fakta bahwa kebakaran tetap terjadi mengindikasikan masih adanya perilaku abai terhadap risiko penggunaan api dalam membuka atau membersihkan lahan. Kebiasaan lama ini, jika terus dipertahankan, akan selalu menjadi sumber bencana baru, terutama di wilayah yang secara geografis rawan dan memiliki kawasan hutan serta perkebunan yang luas.
Dampak karhutla bukan hanya soal hangusnya puluhan hektare hutan dan kebun produktif. Lebih dari itu, ia mengancam keselamatan jiwa, merusak lingkungan, mengganggu aktivitas pendidikan dan ibadah, serta berpotensi menimbulkan konflik sosial akibat kerugian yang dialami warga.
Karhutla Avolua harus menjadi momentum evaluasi bersama. Penegakan aturan tidak boleh sekadar imbauan, tetapi harus disertai pengawasan dan kesadaran kolektif. Tanpa perubahan perilaku dan kepatuhan bersama, alarm ini akan terus berbunyi—dan suatu saat bisa datang terlambat untuk kita semua. Bahkan potensi Karhutla bisa muncul di belahan wilayah Sulteng lainnya.TMU

Komentar
Posting Komentar