Memaknai Pers sebagai Mitra Strategis
Oleh: Temu Sutrisno
![]() |
Pernyataan itu membuat saya merenung. Ada kekhawatiran,
sedih, dan sedikit senang namun getir.
Senang, karena mereka ternyata masih ingat ada pers,
di tengah gelombang besar digital dengan anak emasnya, media sosial. Di zaman
ketika orang lebih percaya pada video pendek berdurasi 12 detik ketimbang
laporan investigasi 12 halaman, ingatan sekecil apa pun pada pers patut
disyukuri, seperti menemukan uang dua ribu di saku celana yang baru dicuci.
Sedih, karena pernyataan itu tidak sesuai fakta.
Banyak pejabat tidak bisa membedakan media pers, media sosial, dan media “seakan-akan” pers. Pemerintah tidak sepenuhnya menunjukkan keberpihakan pada pers seperti amanah
Pasal 28 UUD NRI 1945 yang menjunjung tinggi kebebasan dan hak informasi publik
yang menjadi fungsi pers.
Pemerintah juga belum serius menempatkan pers sebagai
bagian utuh upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Program literasi media lebih
sering berbentuk spanduk foto pejabat tersenyum. Atau foto dan video sekian
detik di platform media sosial.
Lucunya, saat netizen ramai menyoroti pejabat
bersangkutan atau pemerintahan di media sosial, buru-buru mencari media pers
sebagai tempat klarifikasi. Pers dianggap sebagai sapu pembersih sampah
informasi di media sosial. Aneh, lucu,
dan ada
kegetiran, saat ada media pers seperti kerbau dicucuk hidungnya. Media bersedia diperlakukan demikian.
Khawatir, karena mitra strategis tidak berdiri sama
tinggi. Tidak ada kesetaraan dalam kemitraan. Pers berdiri pada posisi lemah,
dengan banyaknya media yang diikat dengan sistem partisan, kontrak iklan pemerintah, atau sekadar
sebungkus nasi kotak saat konferensi pers.
Kata mitra strategis terdengar gagah, seperti
judul proposal proyek yang tebalnya lebih dari buku UU Pers beserta pejelasannya.
Namun dalam praktik, kemitraan itu sering mirip hubungan antara pemilik kucing
dan kucingnya: dianggap mitra saat lucu, dibuang saat mencakar.
Bayangkan sebuah konferensi pers. Pejabat datang
terlambat satu jam, bicara lima menit, lalu menolak pertanyaan karena “harus
rapat penting”. Wartawan diminta menulis berita lengkap, berimbang, dan
mendalam. Jika beritanya kritis, si wartawan tiba-tiba tidak lagi dianggap
mitra.
Kemitraan macam apa ini? Mungkin kemitraan versi paket
internet: saat kuota habis, hubungan langsung melambat.
Lebih menyedihkan
lagi ketika pers disamakan dengan buzzer, kreator konten, atau influencer.
Di mata sebagian pejabat, wartawan ideal adalah yang bisa mengetik cepat,
memuji lebih cepat, dan bertanya paling lambat. Fungsi kontrol dianggap
gangguan sinyal, sementara pujian dianggap konten edukatif.
Padahal, pers bukan pengeras suara kantor humas. Pers
adalah alarm kebakaran. Memang berisik, tapi justru karena ada yang terbakar.
Di ruang-ruang rapat pemerintah, istilah kemitraan
sering diterjemahkan menjadi “tolong bantu naikkan citra kami”. Wartawan diundang seperti tamu hajatan, diberi kopi, kue lapis, dan rilis yang sudah ditulis rapi, tinggal ganti nama media dan kode wartawan saja.
Beberapa pejabat bahkan sudah menyiapkan judul berita.
Tinggal wartawan yang belum siap kehilangan harga diri.
Saya pernah bertanya kepada seorang kawan humas,
mengapa rilisnya selalu berisi kata “luar biasa”, “spektakuler”, “hebat”, dan “terobosan bersejarah”. Ia menjawab polos, “Biar
enak dibaca pimpinan.”
Jadi yang ingin dibahagiakan bukan publik, melainkan
atasan. Pers diminta menjadi bantal empuk kekuasaan, bukan kaca pembesar bagi
kenyataan.
Sementara itu, di sudut lain, banyak wartawan harus berjibaku
dengan gaji yang jauh darinya kata cukup. Mereka dituntut idealis, tapi
dompetnya realistis. Di tengah situasi itu, godaan menjadi “mitra yang patuh”
tentu lebih menggoda daripada menjadi “mitra yang jujur”.
Masalah bertambah ruwet ketika media sosial dianggap
sama dengan pers. Seorang selebgram yang mengulas jalan berlubang dianggap
setara dengan liputan mendalam tentang korupsi anggaran perbaikan jalan.
Bedanya hanya satu, yang
pertama dapat like, yang kedua dapat somasi.
Pejabat lebih senang diwawancarai kreator konten
karena pertanyaannya ringan: “Apa makanan favorit Bapak?” Wartawan yang bertanya
besaran anggaran makan minum
justru dicurigai sebagai oposisi ilegal.
Akhirnya, publik dibanjiri informasi manis seperti teh
kemasan, sementara berita pahit seperti jamu disembunyikan di rak belakang.
Pers pelan-pelan digeser dari ruang utama demokrasi ke
pojok gudang algoritma. Namun ironisnya, setiap HPN, pers kembali dipanggil ke
panggung, dipuji sebagai pilar keempat, difoto bersama, lalu setelah itu
dilupakan seperti spanduk bekas kampanye.
Maka, memaknai pers sebagai mitra strategis seharusnya
dimulai dari keberanian mendengar hal yang tidak menyenangkan. Kemitraan bukan
berarti pers harus ikut tepuk tangan saat pemerintah keliru menghitung
anggaran, atau pura-pura buta saat proyek publik berubah menjadi proyek
keluarga.
Pers yang sehat adalah pers yang kadang bikin kening
berkerut, bukan yang selalu bikin pejabat mengantuk karena terlalu banyak pujian.
Pemerintah perlu membedakan antara kritik dan
kebencian, antara liputan investigasi dan nyinyiran, antara jurnalisme dan
konten promosi diskon tanggal kembar. Tanpa itu, istilah mitra strategis hanya
akan menjadi slogan kering tanpa muatan.
Bagi pers sendiri, kemitraan juga bukan alasan untuk
menanggalkan independensi. Wartawan bukan staf tambahan protokol, dan kantor
redaksi bukan cabang dinas komunikasi.
Di ujung renungan ini, saya membayangkan sebuah
kemitraan yang setara, pejabat
yang siap ditanya sulit, wartawan yang siap menulis jujur, dan publik yang siap
membaca utuh. Mungkin terdengar utopis, tapi demokrasi memang lahir dari mimpi
yang keras kepala.
Selama itu belum terwujud, setiap kali mendengar kata mitra
strategis, saya akan tersenyum seperti orang yang ditawari investasi
bodong: sopan, tapi tetap memegang dompet erat-erat meski hanya berisi uang makan siang.
Pers adalah cermin. Kita tahu, tidak semua orang berani berteman lama
dengan cermin.
Selamat Hari Pers Nasional. Semoga kemitraan kita
tidak seperti janji di baliho. Indah
saat dicetak, pudar saat hujan pertama turun dan mentari membumbung tinggi.***
Palu, 10 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar