Keyboard Warrior; “Budaya Marah-marah" di Media Sosial

Oleh: Temu Sutrisno/Sekretaris PWI Sulawesi Tengah 




Pernah menemukan unggahan di media sosial yang isinya penuh kebencian, kemarahan, caci-maki, dan cercaan? Tanpa angin, tanpa hujan, tiba-tiba unggahan semacam itu melintas di beranda kita. Kadang ditujukan pada tokoh publik, kadang pada kelompok tertentu, bahkan tak jarang menyerang individu yang sama sekali tidak kita kenal. Kita mungkin heran, sekaligus lelah. Fenomena inilah yang belakangan dikenal sebagai keyboard warrior, orang-orang yang menjadikan papan ketik sebagai senjata untuk melampiaskan amarah di ruang digital.

Fenomena marah-marah di media sosial sejatinya bukan hal baru, namun intensitas dan skalanya meningkat seiring dengan masifnya penggunaan platform digital. Media sosial memberi ruang ekspresi yang luas, cepat, dan nyaris tanpa batas. Dalam kondisi tertentu, ruang ini berubah menjadi arena pelampiasan emosi negatif. Kemarahan, kekecewaan, rasa tidak adil, hingga luka batin yang tidak terselesaikan menemukan jalannya melalui kolom komentar, unggahan, dan thread panjang yang sarat emosi.

Salah satu faktor utama yang mendorong munculnya keyboard warrior adalah anonimitas dan invisibilitas. Jarak antar pengguna media sosial dan identitas samaran atau akun tanpa wajah membuat seseorang merasa aman untuk berkata lebih keras, lebih kasar, dan lebih berani dibandingkan ketika berhadapan langsung di dunia nyata. Rasa “tidak terlihat” ini menurunkan empati dan tanggung jawab moral, seolah kata-kata tidak lagi memiliki konsekuensi nyata.

Selain itu, media sosial miskin petunjuk non-verbal. Tidak ada ekspresi wajah, intonasi suara, atau bahasa tubuh yang membantu kita memahami maksud lawan bicara. Akibatnya, pesan yang sebenarnya netral bisa ditafsirkan sebagai serangan, memicu kesalahpahaman, lalu berujung pada kemarahan. Dalam ruang digital, emosi sering kali membesar karena tidak ada rem sosial yang biasanya hadir dalam interaksi tatap muka.

Fenomena doomscrolling juga berperan besar. Kebiasaan terus-menerus menggulir berita negatif tentang konflik, krisis, ketidakadilan, dan kegagalan, membuat pikiran dibanjiri rasa cemas dan marah. Tanpa disadari, akumulasi emosi ini mencari jalan keluar. Media sosial, yang selalu ada di genggaman, menjadi sasaran empuk untuk meluapkannya.

Bagi sebagian orang, marah di media sosial adalah bentuk pelampiasan emosi. Rasa frustrasi karena masalah politik, hukum, ekonomi, pekerjaan, relasi, atau tekanan hidup lainnya dialihkan ke ruang digital. Alih-alih menyelesaikan akar persoalan, kemarahan diekspresikan kepada layar dan orang asing, yang dinilai aman dan mudah dilakukan. Dalam konteks ini, keyboard warrior bukan sekadar pelaku, tetapi juga individu yang sedang terluka.

Masalahnya, kemarahan di media sosial tidak berdiri sendiri. Ia membentuk apa yang disebut sebagai “budaya kemarahan”. Konten marah cenderung mendapatkan lebih banyak perhatian: like, share, komentar, dan algoritma yang menganggapnya menarik. Mekanisme platform secara tidak langsung memberi insentif pada ekspresi negatif. Semakin keras dan provokatif sebuah unggahan, semakin besar peluangnya viral. Inilah lingkaran setan yang sulit diputus.

Dampaknya terasa luas. Muncul komunitas-komunitas marah-marah di beragam platform media sosial, yang berisi keluhan, sindiran, dan makian kolektif. Di satu sisi, komunitas ini memberi rasa validasi dan dukungan emosional: “Saya tidak sendirian.” Namun di sisi lain,  menormalisasi kemarahan sebagai identitas bersama. Kemarahan menjadi perekat sosial, bukan lagi refleksi kritis yang sehat.

Budaya ini juga memperparah polarisasi. Setiap isu dibingkai dalam logika “kami versus mereka”. Dialog berubah menjadi debat kusir tak berkesudahan, bahkan saling serang. Ruang publik digital yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan justru dipenuhi pertentangan emosional. Bagi banyak pengguna, paparan konstan terhadap kemarahan memicu kelelahan mental seperti perasaan lelah, sinis, bahkan putus asa terhadap kondisi sosial.

Tak heran jika istilah-istilah baru seperti doomscrolling muncul untuk menggambarkan kecanduan pada konten negatif. Ini menjadi penanda bahwa masalahnya bukan sekadar perilaku individu, melainkan fenomena kultural yang lebih luas.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Dari sisi individu, langkah pertama adalah membatasi waktu di media sosial, terutama saat emosi sedang tidak stabil. Menjauh sejenak dari layar dapat mencegah respons impulsif yang berujung penyesalan. Mengalihkan energi ke aktivitas positif seperti olahraga, menulis jurnal, membaca, atau silaturahmi dan berbincang dengan orang tepercaya. Hal tersebut jauh lebih menyehatkan secara mental.

Penggunaan bahasa santun juga penting. Marah tidak harus identik dengan kasar. Kritik bisa disampaikan tanpa mencaci. Di sinilah kedewasaan digital diuji. Selain itu, refleksi diri menjadi kunci apakah kemarahan ini benar-benar tentang isu yang kita hadapi, atau sebenarnya berasal dari masalah pribadi yang belum terselesaikan?

Media sosial dapat menjadi ruang belajar, berbagi, dan berempati, atau sebaliknya menjadi medan tempur emosi. Budaya marah tidak lahir begitu saja. Namun dibentuk oleh pilihan-pilihan kecil kita. Dengan kesadaran dan kendali diri, kita bisa memilih untuk tidak menjadi keyboard warrior, atau warga digital yang lebih bijak dan manusiawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014