Sumpah Setia Salya

 Oleh: Temu Sutrisno / Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah

 

Senja merayap perlahan di langit Madiraja, menyulam warna jingga pada setiap helai daun yang bergoyang di hutan lengang. Di balik cahaya itu, dunia seperti sedang menahan napas, menunggu sesuatu yang belum sempat disebutkan.

Pada sore seindah itu, Salya melihat seorang perempuan berdiri di tepi sendang. Perempuan itu seolah lahir dari cahaya air, lembut dan teduh. Dialah Dewi Pujawati.

Rambut hitamnya bergulung pelan seperti aliran sungai. Wajahnya bening, memantulkan ketenangan yang meruntuhkan segala gundah. Salya mendekat dengan langkah yang nyaris tak terdengar, namun hatinya berdebur seperti genderang perang.

“Daku tak bermaksud memecah sunyimu, Dewi,” katanya dengan suara yang dipaksa perlahan.

Pujawati menoleh tanpa terburu-buru. “Kesunyian tak pernah pecah karena suara yang datang dari hati. Ia hanya berubah bentuk.”

Sejak kata-kata itu meluncur, hati Salya tak lagi sama. Seolah ada sulur-sulur lembut yang menautkan namanya pada nama Pujawati. Mereka bertemu lagi dan lagi dalam upacara, dalam ruang ilmu, dalam percakapan yang mengalir seperti air sendang yang pertama menyatukan pandangan mereka.

Beberapa purnama sebelumnya, Begawan Bagaspati, yang sangat dihormati dan dicintai Pujawati, menurunkan ilmu kepada Narasoma dengan pengorbanan yang tak terbayangkan. Ia harus menyerahkan nyawa sebagai syarat kesempurnaan ilmu. Dunia Pujawati runtuh. Hatinya meluruh seperti daun yang ditimpa hujan pertama.

Malam itu, di pendapa yang diterangi cahaya lampu minyak, Salya menemukannya duduk seorang diri. Bayangan tubuh Pujawati memanjang di lantai, seperti sedang menanti seseorang yang takkan kembali.

“Puja…” bisik Salya.

Pujawati mengangkat wajah. Air mata menggenang, namun senyumnya kecil seperti cahaya lilin yang masih bertahan melawan angin.

“Salya… mengapa hidup selalu meminta jiwa yang kita cinta untuk menyempurnakan kisah orang lain? Bagaspati pergi, meninggalkan ruang yang tak mampu kututup.”

Salya duduk di sampingnya, jarak mereka hanya sebentang napas. “Pengorbanan adalah perhiasan dunia ksatria. Tetapi duka… duka adalah perhiasan hati manusia. Biarkan aku menanggung sebagian duka itu. Biarkan aku menjadi tempat engkau berteduh, meskipun hujan takkan berhenti.”

Pujawati menunduk, tubuhnya bergetar kecil. “Dan apa yang dapat kau berikan selain kata-kata?”

Salya menghela napas panjang, lalu mengucapkan sumpah yang kelak mengguncang takdirnya sendiri:

“Aku, Salya Mandaraka, bersumpah dengan seluruh hidupku, bahwa namamu akan menjadi nadi terakhir yang berdenyut di dadaku. Aku akan setia, bukan hanya saat dunia ramah, tetapi saat dunia membelahku menjadi serpihan. Jika kematian menjemputku sebelum aku sempat kembali padamu, maka biarlah cintaku menjadi angin yang tak terlihat namun selalu dekat denganmu.”

Pujawati terisak, bukan karena sedih semata, melainkan karena ada cahaya baru yang tiba-tiba menyala di hatinya. Ia menangkup tangan Salya dan berbisik:

“Salya, aku menerima sumpahmu. Di manapun langkahmu, bayanganku akan menyertai.”

Sejak malam itu, cinta mereka bukan lagi sekadar perasaan. Ia menjadi mantra. Menjadi api yang menyala di balik segala kesunyian.

000

Namun Baratayudha datang seperti badai yang sudah lama mengintai cakrawala. Takdir memanggil setiap ksatria untuk memilih pihak, memegang sumpah, dan menapaki jalan yang tak mungkin kembali.

Salya ditunjuk sebagai panglima perang Kurawa. Meski hatinya terbelah, ia tidak menolak. Kehormatan ksatria telah ditanamkan padanya sejak masih kanak-kanak. Ia menghadap Pujawati dengan wajah yang sudah ditingkahi bayang maut.

“Aku harus pergi,” katanya lirih.

Pujawati menatapnya seperti menatap air yang perlahan surut. Tidak ada tangis, tidak ada jeritan. Hanya diam.  Diam yang sangat dalam.

“Jika engkau kembali,” katanya, “carilah aku di pendapa yang dulu menyaksikan sumpahmu. Jika engkau tak kembali… aku akan tetap menunggumu sampai sunyi menelan seluruh suara bumi.”

Salya memegangi tangan kekasihnya. “Puja, jika aku gugur, kau akan mendengar namaku dihembuskan oleh angin sore. Di situlah aku menyembunyikan cintaku.”

Perang pun meledak. Langit penuh asap, tanah penuh jeritan. Salya bertempur dengan keperkasaan yang menggetarkan, namun setiap ayunan senjatanya selalu diiringi satu doa: semoga Pujawati tetap selamat, tetap teduh, tetap menunggu.

Hingga akhirnya ia berhadapan dengan Yudhistira, raja yang ia hormati namun tetap harus dilawan. Pertarungan itu tidak lahir dari kebencian, tetapi dari kewajiban. Tubuh Salya luka di banyak tempat, namun matanya tetap jernih. Di dalamnya, selalu ada bayangan Pujawati.

Ketika senjata Yudhistira menembus pertahanannya, Salya jatuh berlutut. Dunia berputar pelan. Waktu mengembang seperti tirai yang membuka jalan pulang.

Dalam napas terakhirnya, ia bergumam, “Puja… ini akhir sumpahku pada dunia, tapi bukan akhir cintaku padamu.”

Ia tersenyum, lalu diam selamanya.

000

Berita kematian Salya sampai ke Madiraja dengan langkah gontai para utusan. Pujawati mendengarnya sambil memejamkan mata. Tidak ada teriakan, tidak ada air mata yang pecah. Kesunyianlah yang pertama menyelimuti dirinya.

Malam itu, ia kembali ke pendapa tempat Salya bersumpah. Lampu minyak menyala lembut, nyalanya menari-nari seperti sedang mengenang malam yang telah jauh. Pujawati menatap langit.

“Salya… angin sore telah datang. Apakah itu engkau?” bisiknya.

Angin bertiup pelan, menyentuh rambutnya, mengibaskan kain tipis yang melekat di bahunya. Ia merasakan kehangatan yang tidak berasal dari dunia ini, hangat seperti genggaman tangan yang pernah ia kenal.

Tanpa menunggu fajar, Pujawati meninggalkan istana. Ia berjalan menyusuri jalan sunyi, tanpa membawa harta, tanpa membawa nama. Hanya membawa satu janji: bahwa cinta yang telah diucapkan tidak boleh dikhianati oleh kehidupan yang fana.

Orang-orang berkata ia menuju gunung untuk bertapa. Ada pula yang menyebut ia menjelma angin yang mengitari sendang tempat mereka pertama bertemu. Tidak ada yang benar-benar tahu.

Namun jika seseorang datang ke sendang itu pada sore yang hening, kadang mereka melihat dua bayangan di permukaan air: seorang ksatria dan seorang perempuan berwajah teduh, berdiri berdampingan lalu lenyap ketika ombak kecil lewat.

Mungkin itu hanya pantulan. Mungkin hanya ilusi. Atau mungkin, itu cinta yang tidak pernah mati. Cinta yang melampaui darah, perang, dan kematian. Cinta Salya dan Pujawati, cahaya abadi yang tidak padam di balik kabut waktu.***

 

Palu, 24 November 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

Cinta di Antara Angkara

Dewi Themis Menangis