Keteguhan Utari
Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah
Malam itu angin dari bukit Upajangga turun perlahan, menyisir kain yang membungkus tubuh Utari. Ia berdiri di depan pendapa istana Wirata, memandangi bintang yang bergerak pelan di langit. Udara lembut menyentuh pipinya, tapi hatinya seperti baru saja disentuh luka yang tak kunjung sembuh.
Sejak
Abimanyu tiada, matanya seakan kehilangan cahaya yang dulu selalu
berkobar. Cahaya yang hanya dimiliki oleh wanita yang sedang jatuh cinta dan
dicintai dengan sepenuh jiwa. Tetapi meski cahaya itu meredup, keteguhan
hatinya tak pernah pudar. Ia tetap istri Abimanyu, tetap ibu dari Parikesit,
dan tetap perempuan yang bersumpah menjaga cinta sampai akhir zaman.
Hari itu,
angin bertiup lembut dari arah Kuru. Utari menutup selendangnya, menahan dingin
yang menusuk tulang. “Abimanyu,” bisiknya lirih, “meski kau telah gugur,
cintaku tak sanggup mencari tempat lain untuk berlabuh.”
Ia selalu
mengulang kalimat itu. Kadang hanya dalam hati, kadang berbisik pada malam,
kadang pada bintang yang ia percaya mengawasi jejak para ksatria.
Di masa
mudanya, Abimanyu adalah bunga dari Pandawa. Tampan, gagah, dan berani dengan
cara yang sering membuat prajurit yang lebih tua sekalipun tersipu. Utari,
putri Raja Wirata, jatuh hati kepadanya bukan hanya karena pesona fisiknya,
tapi karena tatapannya: tatapan seorang pemuda yang memandang masa depan dengan
cahaya tanpa ragu.
Mereka
menikah pada suatu malam ketika rembulan bulat sempurna, dan seluruh kerajaan
bersukacita. Tak ada yang mengira kebahagiaan itu akan begitu singkat.
000
Ketika
Baratayuda meletus, Abimanyu yang masih muda itu maju tanpa ragu. Ia masuk ke
dalam formasi Cakrabyuha seorang diri, melawan gelombang prajurit Kurawa yang
ganas. Utari tahu tugas seorang ksatria adalah pengabdian. Tetapi hatinya… hati
seorang istri, selalu memohon agar perang selesai sebelum suaminya sempat
terluka.
"Abimanyu… mengapa dunia begitu cepat merenggutmu
dariku?" bisiknya dalam hati.
Abimanyu telah gugur di Baratayuda. Berita itu datang
seperti petir yang jatuh tanpa ampun, menghantam segala yang ia bangun dalam
dirinya, cinta,
harapan, masa depan.
Utari memegang perutnya yang belum lama melahirkan, seakan
menarik kekuatan dari dalam tubuhnya sendiri.
Di dalam kamar, kecil dan mungil, Parikesit tidur pulas.
Bayi itu menggerakkan bibirnya, seperti sedang tersenyum pada mimpi yang
lembut. Utari melangkah masuk dan duduk di sisi ranjang kecil itu.
“Anakku,” ucapnya pelan, “engkau tidak akan mengenal ayahmu
dengan mata kepala sendiri. Tapi engkau akan mengenal cintanya… lewat cerita
ibumu.”
Ia mengusap pipi bayi itu. Parikesit bergerak, membuka mata
sebentar, lalu kembali terlelap. Senyumnya membuat dada Utari bergetar. Cinta
yang dulu hanya milik Abimanyu kini dialihkan kepada bayi yang tak berdosa,
bayi yang di dalam tubuhnya pernah mendengar suara ayahnya sebelum ajal
menjemput.
Utari memejamkan mata. Dalam gelap yang Ia ciptakan sendiri,
wajah Abimanyu perlahan muncul.
Senyumnya yang lembut, sorot matanya yang penuh keyakinan, suaranya yang
selalu menenangkan.
"Aku tidak akan menikah lagi, Abimanyu. Cintaku cukup satu."
"Utari… hidup itu panjang. Jangan kurung dirimu pada
janji yang belum tentu harus kau pikul."
"Kalau hatiku hanya memilihmu, apakah itu keliru?"
Ia masih ingat perbincangan itu. Saat Abimanyu hendak
berangkat perang. Kecemasan Utari memeluk tubuhnya lebih erat daripada
kain batik yang ia kenakan.
"Kembalilah. Aku sanggup menunggu, tapi jangan
tinggalkan aku selamanya," batinnya memohon waktu itu.
Namun takdir tidak memilih jalan yang lunak.
000
Musim berganti. Parikesit tumbuh, berjalan tertatih
menyusuri lorong istana, lalu belajar berlari. Utari mengawasinya sambil
tersenyum getir. Semakin
besar anaknya, semakin terasa bahwa Abimanyu hanya tinggal kenangan.
Ada hari-hari ketika ia duduk sendirian di pendapa, melihat
langit merah muda. Suara lirih terdengar dari luar istana, para prajurit, rakyat yang datang
memberi hormat, tetua yang memandang Parikesit sebagai harapan masa depan
Pandawa.
“Ratu Utari,” kata salah satu tetua pada suatu pagi. “Anak
ini harus diajari keberanian. Ia adalah keturunan ksatria agung.”
Utari mengangguk. “Aku tahu. Tapi ia juga anak yang harus
mengenal kelembutan.”
Tetua itu menunduk. “Kami memahami. Hanya saja, bila kelak
ia naik tahta, ia harus kuat.”
“Dia akan kuat,” potong Utari lembut. “Karena ia dibesarkan
dengan cinta, bukan ketakutan.”
Tetua itu tersenyum, seakan baru mengerti sesuatu.
Setelah mereka pergi, Utari memandang Parikesit yang sedang
bermain dengan mainan kayu di bawah pohon mangga.
"Abimanyu… aku membesarkan anakmu sendiri. Tanpa keluh,
tanpa mengeluh. Karena aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri."
Ia menghela napas. Betapa sering orang-orang menawarkan
pendampingan, bahkan pernikahan baru. Tapi hatinya bagai perahu yang
ditambatkan pada satu tiang—tiang itu adalah Abimanyu. Ia bergeming, tak
berpaling, tak goyah.
000
Tiga belas tahun berlalu. Parikesit tumbuh menjadi remaja
yang cerdas, tegas, dan jenaka. Wajahnya mengingatkan Utari pada Abimanyu, terutama mata itu, mata
yang penuh semangat.
Suatu sore, Parikesit duduk di samping ibunya, memandangi
hutan di kejauhan.
“Ibu,” katanya, “mengapa Ibu tidak pernah menikah lagi?”
Pertanyaan itu datang dengan lembut, tapi menikam sisi
terdalam hati Utari.
“Karena Ibu bahagia bersamamu,” jawab Utari sambil
tersenyum.
“Tapi kebanyakan orang bilang Ibu masih muda… bahkan ketika
Ayah gugur. Ibu pasti banyak yang menyukai.”
Utari tertawa kecil. “Orang bicara apa saja. Yang penting
hatiku tidak berpaling.”
Parikesit menatapnya serius. “Ibu mencintai Ayah sebesar
itu?”
Utari terdiam. Angin sore berembus, menggoyangkan rambut
Parikesit. Ia ingin menjawab cepat, namun monolog batinnya muncul terlebih
dahulu.
"Bagaimana aku menjelaskan bahwa cinta itu tidak hilang
hanya karena orangnya tiada? Bagaimana menjelaskan bahwa cinta pada Abimanyu
bukan sekadar kisah remaja yang manis, melainkan ikatan jiwa?"
Ia menatap Parikesit dengan mata yang lembut.
“Parikesit,” ujarnya, “cinta Ibu pada Ayahmu bukan cinta
yang meminta balasan. Cinta itu seperti matahari, tetap bersinar meski tertutup awan. Cinta tetap abadi, walau orangnya tidak lagi berada di bumi.”
Parikesit menunduk, tersenyum tipis. “Kalau begitu, aku
harus menjadi putra yang layak bagi Ayah.”
Utari memeluknya. “Engkau sudah jauh lebih dari itu.”
000
Waktu berjalan seperti air yang tak pernah berhenti.
Parikesit kini menginjak dewasa. Tubuhnya tegap, keberaniannya tak diragukan,
dan kebijaksanaannya mulai tampak.
Pandawa melihat masa depan kerajaan dalam dirinya.
Suatu malam, setelah pertemuan dengan para tetua kerajaan,
Parikesit menghampiri ibunya yang sedang duduk di pendapa, menenun kain.
“Ibu,” katanya,
“mereka memintaku bersiap naik tahta dalam waktu dekat.”
Utari berhenti menenun. Hatinya terasa hangat dan pedih
sekaligus.
“Engkau memang sudah waktunya,” ucapnya.
“Namun aku takut.”
“Takut apa, Nak?”
“Takut mengecewakan Ayah.”
Utari tersenyum lembut. “Ayahmu tidak ingin engkau meniru
dirinya. Ia ingin engkau menjadi dirimu sendiri.”
Parikesit terdiam lama. Lalu ia memandang ibunya, mencari
kekuatan dalam mata wanita yang tidak pernah menyerah pada hidup.
“Ibu… terima kasih telah membimbingku.”
Ucapan itu membuat hati Utari runtuh seketika. Ia menutup
mata, membiarkan bulir air jatuh perlahan.
"Abimanyu… lihatlah anakmu. Aku tidak gagal. Aku tidak
pernah berhenti menjaga janji yang kubuat pada dirimu, menjaga warisanmu dengan sepenuh
jiwa."
000
Hari penobatan itu tiba. Parikesit berdiri di hadapan rakyat
Hastina yang memenuhi alun-alun. Gemuruh suara dukungan memenuhi udara. Utari
menyaksikan dari balkon istana, gaunnya berwarna putih dengan selendang
keemasan.
Ketika mahkota diletakkan di kepala Parikesit, Utari
merasakan dada yang selama ini menahan banyak beban perlahan-lahan lega.
Ia tidak menangis, meski air yang panas nyaris jatuh. Hanya ada syukur, bangga, dan rasa cinta yang tak terlukiskan.
Dalam batin,
ia berbicara pada seseorang yang tak lagi bisa memeluknya.
"Abimanyu… anak kita kini menjadi raja. Ia tumbuh
dengan keberanianmu, namun juga dengan kelembutanku. Aku… aku tetap Utarimu
yang dulu, yang mencintaimu tanpa syarat, tanpa batas waktu."
Rakyat bersorak. Parikesit menunduk hormat pada semua
penjuru, kemudian pandangannya berhenti pada sosok ibunya di atas balkon.
Ia mengangkat tangan, memberi salam hormat tertinggi.
Utari merasakan hatinya menghangat, seperti dipeluk cahaya.
000
Ketika malam turun dan pesta usai, Utari kembali duduk di
pendapa. Sendiri, seperti banyak malam sebelumnya. Tapi kali ini ia tidak
merasa kesepian.
Ia memandangi bulan yang bulat sempurna.
“Abimanyu,”
bisiknya, “aku telah menunaikan tugasku.”
Tidak ada suara menjawab. Tapi dalam hatinya yang paling
dalam, Utari merasa Abimanyu memeluknya, lembut, hangat, seperti dulu.
Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia menutup mata tanpa rasa kehilangan. Kini yang tersisa hanyalah keteguhan cinta. Cinta yang tidak mati, tidak pudar, tidak digantikan.
Cinta yang menemukan makna sejatinya:
menjaga, meski
sendiri;
setia, meski yang dicinta telah tiada;
bertahan, meski perubahan menggerus zaman.***
Palu, 26
November 2025

Komentar
Posting Komentar