Kebijaksanaan Sarama
Oleh: Temu Sutrisno/Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah
Sarama, istri Wibisana, ditugaskan menjaga dan merawat Sinta di Alengka. Namun ia bukan wanita yang tunduk pada kekuasaan buta. Sarama adalah perempuan dengan kejernihan hati. Ia dan anaknya,Trijata, menjadi cahaya kecil yang berusaha menyinari gelapnya istana Rahwana.
Ia tahu,
cinta tidak bisa dipaksakan. Ia
tahu, penculikan adalah pelanggaran atas dharma, pelanggaran atas martabat
manusia. Ia tahu,
cinta Sinta telah terpatri pada Rama, dan tidak ada kekuatan dunia yang dapat
memisahkan jiwa yang saling setia.
Pagi itu, Sinta duduk
di bawah pohon di Taman Ashoka
yang merunduk seperti ikut berduka.
Ia meremas jalinan rambutnya sendiri, seakan ingin memastikan bahwa jati
dirinya belum hilang.
Sarama
mendekat sambil membawa semangkuk air bunga. “Minumlah, Dewi,” ujarnya lirih.
Sinta
menggeleng pelan. “Hatiku
terlalu sesak untuk menerima apa pun selain doa.”
Sarama
duduk di sampingnya, melepas napas panjang. “Hari-harimu penuh kecemasan. Tapi jangan biarkan ketakutan
merampas martabatmu. Engkau tetap Dewi Sinta, permaisuri Rama.”
Sinta
menatap Sarama dengan mata berkaca-kaca.
“Apakah engkau tidak takut menjaga perempuan yang dibenci Rahwana? Bukankah ia
bisa menghukummu jika tahu engkau terlalu melindungiku?”
Sarama
tersenyum getir. “Takut itu
wajar, tetapi menutup mata terhadap ketidakadilan lebih menakutkan.”
000
Suatu sore, ketika angin membawa
bau asap dari latihan perang, langkah keras terdengar mendekat. Pintu taman terbuka dengan
gemuruh. Rahwana
masuk, matanya merah menyala seperti bara.
“Sarama!”
suaranya bergemuruh. “Apa yang
kau berikan pada Sinta? Mengapa ia tetap menolak cintaku? Aku telah memberinya
pakaian terbaik, taman terindah, penjaga terbaik!”
Sinta
berdiri, tubuhnya bergetar, namun suaranya tegar. “Apa pun yang kau beri bukan
cinta, hanya keterpaksaan. Cinta tidak lahir di bawah ancaman.”
Rahwana
menggeram. “Rama itu
manusia biasa! Dia tidak mampu melindungimu dari tanganku!”
Sinta
menatapnya tanpa gentar. “Namun
hatiku bukan milikmu. Hati seorang wanita hanya bisa diberikan, bukan
dirampas.”
Sarama
melangkah maju, menunduk sopan namun tegas. “Baginda Rahwana, hamba mohon… jangan cemari kemuliaan istana
dengan perbuatan yang bertentangan dengan dharma.”
Rahwana
menoleh tajam.
“Engkau membelanya? Engkau istri
Wibisana adikku, berani
menentangku?”
Sarama
menjawab dengan suara lembut yang tetap teguh.
“Hamba tidak menentang, Baginda. Hamba hanya mengingatkan bahwa cinta yang
dipaksakan akan membawa kehancuran.”
Rahwana
menatap keduanya, amarahnya bergejolak. Namun setelah beberapa detik, ia membuang napas panjang, memendam
bara yang mendidih.
“Aku
akan membuatmu mencintaiku, Sinta,” katanya sambil menuding, “karena tak ada
wanita yang bisa menolak sang penguasa Alengka.”
Sinta
menjawab lirih namun tajam, “Lebih
baik tubuhku hangus oleh api daripada hatiku berkhianat.”
Rahwana
mendengus dan pergi dalam badai langkah.
Sarama
membantu Sinta duduk kembali, menahan tangis yang sejak tadi ia simpan.
“Dewi… engkau berani, seperti bintang di gelap malam.”
Sinta
menatap Sarama. “Sarama,
engkau pelindungku, seperti
rembulan yang menenangkan.”
000
Beberapa malam berselang, Sarama
datang membawa kabar berat.
“Aku mendengar Rahwana memerintahkan penjaga untuk memperketat pengawasan. Ia
semakin tersulut oleh penolakanmu.”
Sinta
menggigit bibir, menahan cemas.
“Aku takut, Kakang Sarama. Bukan untuk diriku, tapi… aku takut Rama akan
bertarung hingga terluka berat demi aku.”
Sarama
meraih tangan Sinta. “Dewi, cinta
selalu menuntut pengorbanan. Namun cinta Rama bukanlah cinta yang hendak
memaksamu. Ia berperang bukan untuk memiliki, tetapi untuk membebaskan.”
Sinta
memejamkan mata. “Setiap
malam aku mendengar suara pedang, teriakan pasukan raksasa. Apakah perang sudah
dekat?”
Sarama
mengangguk. “Wibisana
telah pergi meninggalkan Alengka. Ia bergabung dengan Rama.”
Sinta
terkejut. “Wibisana
bersedia meninggalkan saudaranya?”
Sarama
tersenyum lirih, bangga sekaligus sedih. “Karena kebenaran dan jalan kebajikan lebih tinggi dari darah.”
000
Beberapa hari kemudian, Rahwana
kembali datang. Kali ini
lebih tenang, tetapi matanya penuh luka dan marah. Ia berdiri di depan Sinta, tapi
ada kegelisahan dalam sorot matanya.
“Sinta,”
katanya, “katakan apa yang harus kulakukan agar engkau mencintaiku. Aku telah
mempertaruhkan segalanya.”
Sinta
mengangkat wajahnya. “Lepaskan
aku.”
Rahwana
terdiam.
“Benarkanlah
perbuatanmu. Kembalikan aku kepada suamiku. Hanya dengan itu engkau akan
menemukan kedamaian.”
Rahwana
menatapnya seakan tertusuk.
“Tidak! Jika aku melepasmu, aku dianggap lemah. Aku dianggap kalah oleh Rama!”
Sarama
menghela napas.
“Mengalah demi kebenaran bukan kekalahan, Baginda. Itu kemenangan tertinggi.”
Rahwana
menatap Sarama dengan sorot tajam namun hampa.
“Kau berbicara seperti Wibisana. Terlalu banyak kebenaran sampai lupa pada
kesetiaan.”
Sarama menunduk. “Kami hanya ingin Baginda
terhindar dari kehancuran.”
Rahwana
mengalihkan pandangannya pada Sinta.
“Jika bukan karena sumpahku pada Brahma bahwa aku tidak akan menyakitimu… dunia
ini sudah lama kubalik!”
Sinta
menjawab, “Janji itu
yang membuatku tetap percaya bahwa sisi baikmu belum sepenuhnya mati.”
Rahwana
terdiam cukup lama, seperti seseorang yang sedang berperang dengan dirinya
sendiri.
Tetapi akhirnya ia berbalik dan pergi.
Sarama
menyentuh bahu Sinta. “Engkau
telah membuatnya melihat cermin dirinya. Itu tidak mudah.”
000
Malam-malam berikutnya penuh
kegelisahan. Dari
kejauhan, Alengka terasa bergetar. Hingga suatu malam, langit dipenuhi cahaya merah. Suara terompet perang menggema.
Sarama berlari ke taman.
“Dewi Sinta! Perang besar pecah. Kumbakarna telah maju ke medan laga. Pasukan
Rama menerjang seperti badai.”
Sinta
merapatkan jarinya di dada.
“Semoga perang ini segera berakhir… tanpa darah tak perlu.”
Sarama
meraih wajah Sinta.
“Rama sedang menuju ke mari. Aku tahu itu. Cintanya bukan cinta yang ragu.”
Keesokan harinya, seekor merpati
putih terbang rendah dan hinggap di dahan tepat di atas mereka. Di kakinya terdapat gulungan daun
lontar.
Sarama
membukanya lalu membacakan:
“Alengka mulai runtuh.
Rama telah mematahkan tombak-tombak raksasa.
Bersabarlah, wahai permaisuri.
Cinta sedang menuju kepadamu.”
Sinta
menangis terisak, memeluk Sarama.
“Terima
kasih… Sarama. Tanpa engkau, aku mungkin telah patah.”
Sarama
membelai rambut Sinta. “Engkau tidak sendiri, Dewi. Perempuan harus saling melindungi,
meski dunia sedang runtuh.”
000
Langit Alengka memerah seperti
senja yang dipaksa terbakar. Suara
runtuhnya benteng bersahutan dengan jeritan pasukan raksasa.
Sinta
berdiri dengan tubuh gemetar namun hati teguh. Sarama di sampingnya, memeluk
bahu Sinta. Tiba-tiba,
angin berhembus — membawa suara yang sangat dikenali Sinta:
“Sinta!”
Ia
menoleh. Sosok Rama
berdiri di balik debu perang, tubuhnya letih, namun sorot matanya terang
seperti cahaya yang kembali menemukan rumahnya.
Sinta
menutup mulutnya, air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Sarama memegang tangannya dan
berbisik,“Pergilah. Cinta menunggumu.”
Sinta
melangkah maju. Setiap
langkah adalah serpihan harapan yang selama ini ia simpan.
Ketika jarak tinggal beberapa langkah, Sinta berucap lirih, “Rama…”
Sang pangeran Ayodhya menunduk, menahan gemuruh emosinya. "Sinta… aku datang.”
Sarama
menatap dari jauh. Ia tahu,
perannya telah selesai. Ia bukan
pahlawan besar, bukan ksatria bercahaya. Namun ia adalah penjaga martabat, pelindung sesama perempuan. Cahaya kecil di tengah gelap Alengka.
Dalam
hati ia berkata, “Tidak semua
pahlawan membawa senjata.Sebagian membawa cinta dan
kebijaksanaan.”***
Palu, 25 November 2025

Komentar
Posting Komentar