Allah pun Bersalawat
Oleh: Temu Sutrisno
Minggu pagi, Tonakodi bersama kolega melakukan perjalanan ke luar kota. Perjalanan cukup lumayan jauh, sekira dua ratus kilometer.
Sepanjang perjalanan, gema salawat mengiringi lewat tape mobil yang ditumpangi.
Hingga waktu istirahat tiba, rombongan berhenti di warung makan, sekalian melaksanakan salat Zuhur.
Setelah salat, Tonakodi, Om Uchen, Rian, Ishak, dan Uly ngopi sembari menunggu ikan bakar yang telah dipesan.
Tak ingin sunyi dengan main hape, ngopi diisi diskusi kecil-kecilan. Entah siapa yang memulai, akhirnya diskusi sampai pada tema salawat.
Tonakodi bercerita, pada saat dirinya masih sekolah, setiap puasa ramadan anak-anak di kampungnya memiliki tradisi mengaji pada ustadz atau kyai tertentu.
Sekira empat puluh tahun berlalu, ajaran kyai tentang salawat masih melekat di ingatan Tonakodi.
"Pada waktu itu, kyai bilang bahwa salawat merupakan merupakan ibadah yang istimewa," kata Tonakodi.
Apa istimewanya? Pertama, salawat adalah perintah ibadah Allah kepada manusia, yang juga dilakukan Allah dan para malaikat.
"Allah memerintahkan manusia salat, tapi kita tidak menemukan nash Allah salat. Begitu juga perintah puasa atau yang lainnya, Allah tidak melakukannya," ujar Tonakodi meneruskan ajaran Sang Kyai.
"Tapi perintah salawat dimulai dengan pernyataan, bahwa Allah dan malaikat bersalawat. Sesungguhnya Allah dan malaikat bersalawat pada nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersalawatlah engkau atas nabi. Inilah keistimewaan salawat."
Kedua, salawat sesungguhnya kembali kepada diri orang-orang yang mengamalkannya.
Banyak fadilah atau keutamaan bersalawat. Diantaranya Allah akan memberikan kemudahan urusan bagi orang-orang yang senantiasa membasahi bibirnya dengan salawat.
"Orang-orang yang bersalawat juga dijamin akan mendapatkan syafaat Rasulullah, kelak di yaumil akhir. Salawat sebagai wujud kecintaan pada nabi, akan dibalas kecintaan nabi yang jauh lebih besar."
Allah juga akan mencintai mereka yang mencintai nabinya.
"Masih banyak keutamaan bersalawat," tutur Tonakodi.
"Ketiga, salawat merupakan ibadah yang semua orang bisa melakukan kapan saja dan di mana saja. Ibadah yang sangat mudah, tapi balasannya luar biasa, insya Allah penuh rahmat dan berkah."
Bahkan ibadah paling mendasar seperti salat, wajib bersalawat atas nabi saat tahiyat atau tasyahud.
Allahumma shalli 'ala muhammadin wa 'ala aali muhammadin, kamaa shallayta 'ala ibraahiim wa 'ala aali ibraahiim, innaka hamiidun majiid
"Ya Allah, berikanlah rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberikan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia."
"Bersalawat selain mendapatkan rahmat dan keselamatan dari Allah, meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan syafaat Nabi Muhammad. Pengalaman saya, salawat juga membuat hati menjadi tenang dan damai," sambung Om Uchen.
Salawat juga menjadi pembuka dan penutup doa bersama pujian pada Allah yang maha pengasih dan penyayang.
"Makan...makan," kata Om Uchen, saat ikan bakar telah tersaji di atas meja.
Perbincangan pun terhenti, mereka pun menikmati nasi putih yang masih mengepul ditemani ikan bakar, dabu-dabu, dan cah kangkung.
"Saat perut kosong, ikan segar dibakar, plus dabu-dabu minyak kampung..oww nikmat mana lagi yang mau didustakan," kata Ishak.***
Bumi Sintuvu Maroso, Poso, 19 Januari 2025

Komentar
Posting Komentar