Menjaga Hati Fitri
Oleh: Temu Sutrisno
Suara takbir bersahutan dari pengeras suara masjid di seantero kota, saling berkejaran, menciptakan simfoni kemenangan yang menggetarkan dada. Udara malam itu terasa sejuk, membawa aroma opor ayam, karo, goreng-goreng daging sapi, rendang, berpadu dengan ketupat dan burasa yang sedang dimasak dari dapur-dapur rumah warga.
Di halaman rumah Om Uly, kehangatan terasa begitu kental. Di dalam sou-sou (gazebo) kayu, empat pria beda generasi sedang berkumpul, mengelilingi teko berisi kopi jahe dan sepiring pisang goreng hangat, kalopa, dan Mandura ditemani beberapa toples kue kering.
Om Uchen, yang terkenal jenaka, sibuk menata toples-toples kue kering. "Nah, ini dia protokol kesehatan versi lebaran 'Physical Distancing' dari toples, tapi 'Social Bonding' tetap erat," selorohnya sambil menepuk-nepuk setoples nastar.
Tawanya meledak, disusul senyum lebar dari Om Uly, pria paruh baya berkacamata minus dengan tatapan mata yang selalu meneduhkan.
"Komiu ini, Om Uchen. Ada-ada saja analoginya," ujar Om Uly ramah, tangannya meraih secangkir kopi. Ia menatap Ami, pemuda nanondo yang duduk diam di sudut sou-sou, tampak merenung sambil menatap layar ponselnya.
"Kenapa, Ami? Wajahmu muram begitu di malam kemenangan ini?"
Ami mendongak, tersenyum tipis. Ia meletakkan ponselnya dengan sopan.
"Maaf, Om Uly. Bukan muram, hanya sedingin malam ini saja hatiku," jawabnya jujur namun tetap santun.
Ia membenarkan posisi duduknya, menghadap ke tiga seniornya. "Aku baru saja membaca kultum Ramadan tentang membersihkan hati. Rasanya... berat sekali, Om."
Tonakodi yang sejak tadi menyimak dengan tenang, membuka matanya yang jernih. Rambut dan jenggotnya yang mulai memutih, berkilau diterpa cahaya lampu sou-sou. Tutur katanya lembut, selembut angin malam.
"Apa yang terasa berat, Ami? Ramadan ini kan madrasah ruhani kita."
"Itu dia, Tonakodi," sahut Ami cepat. "Kultum itu bilang, kemenangan hakiki adalah mengembalikan manusia kepada fitrah kesucian, bersih dari dosa seperti bayi baru lahir. Tapi, coba lihat realitanya, Tonakodi. Di luar sana, di media sosial, di obrolan sehari-hari, bahkan mungkin besok saat lebaran, justru penyakit hati, sombong, iri, dengki semakin kentara."
Ami menghela napas, lanjutnya, "Kultum itu juga mengutip hadis, kalau hati baik, baiklah seluruh jasad. Tapi aku takut, Tonakodi. Besok, momen lebaran malah jadi ajang pamer baju baru, perhiasan baru, atau pencapaian. Itu kan memicu sombong dan iri. Alih-alih suci, jangan-jangan hati kita makin kotor setelah sebulan ditempa?"
Om Uchen menghentikan aktivitas mengunyah kue. Ia mengangguk-angguk kecil, wajahnya sejenak serius.
"Benar juga kata Ami. Terkadang 'Maaf Lahir Batin' itu cuma formalitas di bibir, di hati masih ada sisa-sisa dendam, 'Toxic Environment' kata anak sekarang," timpalnya.
Om Uly menimpali dengan nada hangat, mencoba merangkul kegelisahan Ami.
"Kita semua manusia, Ami. Perang melawan hawa nafsu itu tidak berhenti ketika Ramadan usai. Justru lebaran adalah ujian pertama pasca madrasah."
Tonakodi tersenyum tipis, tatapannya beralih dari Ami ke langit malam yang pekat.
"Kegelisahan itu adalah tanda bahwa hati hidup. Kita harus kritis pada dirimu sendiri, dan itu langkah pertama menuju tazkiyatun nafs, pensucian jiwa, yang dibahas dalam kultum itu."
Tonakodi memajukan duduknya. "Pikirkanlah hati itu seperti 'raja' bagi tubuh kita, sebagaimana kultum itu mengibaratkannya. Seorang raja harus bijak. Idulfitri adalah momen untuk sang raja menunjukkan kemurahan hatinya. Bukan dengan pamer materi, tapi dengan memberi maaf dan meminta maaf dengan lapang dada."
"Penyakit hati seperti sombong dan iri itu seperti karat di cermin hati," Tonakodi melanjutkan, suaranya mengalun seperti air sungai yang tenang.
"Ramadan adalah proses mengampelas karat itu. Tapi, jika setelah lebaran kita kembali membiarkan karat itu tumbuh dengan perilaku pamer atau menyimpan dendam, maka sia-sialah madrasah satu bulan penuh."
Tonakodi menatap tajam langit, seakan bicara pada bintang. "Kemenangan hakiki bukan tentang seberapa baru baju, seberapa banyak kue di meja, atau seberapa hebat pencapaian kita. Tapi seberapa 'baru' hati kita. Apakah hati lebih lembut? Lebih pemaaf? Lebih peduli pada sesama? Menjaga hati fitri itu adalah tugas kita sepanjang hayat, bukan cuma di malam lebaran."
Suara takbir Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar... terdengar semakin kencang, seolah menegaskan ucapan Tonakodi.
Keheningan melingkupi sou-sou sejenak. Sejenak daun mangga bergesek, bergerak merunduk, seperti merenungkan setiap kata Tonakodi. Kata-kata itu sederhana, tapi menyentuh lubuk hati yang terdalam. Membuat rasa dingin di hati perlahan mencair, digantikan kehangatan yang menjalar.
Om Uchen tiba-tiba berdiri, memecah keheningan dengan tawa khasnya. "Nah, karena hati sudah mulai 'fitri', mari kita 'fitri'-kan juga perut kita. Siapa yang mau pisang goreng lagi sebelum dingin?" selorohnya, mengundang tawa dari Kodi, Uly, dan Ami.
"Atau Om Uly pe rendang atau opor ayam kampung so boleh keluar? Tapi jangan lupa le, sekalian burasanya."
Semua tertawa. "Siap," sahut Om Uly.
Om Uly segera masuk rumah, untuk mengeluarkan menu pesanan Om Uchen.
Di sou-sou itu, di bawah langit malam lebaran yang benderang oleh takbir, empat pria itu larut dalam kebersamaan yang tulus. Mereka tahu, esok hari adalah awal perjuangan yang sesungguhnya. Perjuangan untuk terus menjaga hati tetap fitri, bersih dari kotoran nafsu, demi meraih kemenangan yang hakiki. Ramadan memang akan berlalu, tapi madrasah itu akan terus membekas dalam setiap tarikan napas mereka. ***
Tana Kaili, 20 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar