Doa Orang Tua
Oleh: Temu Sutrisno
Sabtu pagi di Palu selalu punya cara sendiri untuk merayu penghuninya agar melambat. Matahari naik dengan malu-malu, menyebarkan kehangatan yang pas di kulit, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah yang kering.
Di sou-sou, gazebo kayu sederhana milik Om Uly, asap kopi hitam mengepul tipis, menari-nari di antara tawa yang pecah sesekali.
Suasana Idulfitri memang belum sepenuhnya berlalu. Stoples berisi kue dan kacang bawang masih bertengger manis di meja kayu.
Tonakodi, yang sejak tadi lebih banyak menyimak, menyesap kopinya pelan. Wajahnya yang tenang memancarkan wibawa yang lembut. Ia meletakkan cangkirnya, lalu menatap satu per satu sahabatnya.
"Tadi malam, aku bermimpi," ucap Tonakodi pelan. Suaranya yang rendah seketika membuat riuh di gazebo itu mereda.
"Aku bertemu almarhum Bapak. Di mimpi itu, aku merasa kembali jadi remaja, masih pakai celana pendek, duduk di bawah pohon mangga depan rumah."
Ami, anak muda yang biasanya kritis namun selalu tahu cara menempatkan rasa hormat, memajukan duduknya. "Mimpi yang indah, Tonakodi. Apa yang Beliau katakan?"
Tonakodi tersenyum tipis. "Beliau cuma mengelus kepalaku dan bilang: 'Nak, hidup itu sederhana. Kalau ada keinginan yang belum kau dapatkan, syukurilah apa yang sudah ada di tanganmu. Tidak semua keinginan kita dikabulkan Allah, karena Allah tidak memberi apa yang kita mau, tapi apa yang kita butuhkan.'"
Suasana menjadi hening sejenak. Kata-kata itu terasa seperti air dingin yang menyiram tenggorokan kering di tengah cuaca Palu yang terkenal panas.
"Wah, kalau Bapakmu lembut begitu, beda jauh sama Bapakku dulu," celetuk Om Uchen memecah keheningan dengan gaya khasnya yang jenaka. Ia adalah bumbu penyedap dalam setiap pertemuan.
"Bapakku itu tentara. Disiplinnya minta ampun!" lanjut Om Uchen sambil memeragakan posisi hormat yang kaku, membuat Om Uly terkekeh.
"Waktu kecil, kalau aku bangun kesiangan lambat salat subuh, suara beliau menggelegar. Seperti komandan memimpin apel pagi. 'Siap, Grak!' di samping telinga. Kami dididik mandiri. Mau makan? Ambil sendiri. Mau baju rapi? Setrika sendiri. Zaman itu pakai setrika arang yang beratnya kayak dosa."
"Tapi itulah yang bikin Om Uchen jadi 'tahan banting' sekarang, kan?" Ami menimpali sambil tersenyum. "Walau kadang 'bantingannya' agak miring sedikit."
"Hahaha. Kurang garam komiu, Ami!" tawa Om Uchen meledak, diikuti yang lain.
"Tapi benar, Mi. Hikmahnya, sekarang aku tidak kagetan kalau hidup lagi susah. Karena dulu, disiplin dan mandiri sudah jadi sarapan pagi."
Om Uly yang sejak tadi sibuk mengaduk kopi, ikut menyambung. "Orang tua kita itu, mau dia tentara, petani, guru atau apa saja profesinya, tujuannya cuma satu. Orang tua ingin anaknya baik. Ingin kita bahagia, dan hidupnya berkah. Cara mereka mendidik mungkin berbeda, ada yang keras, ada yang lembut, tapi intinya sama."
Ustaz Ishaq, yang duduk bersila dengan tenang, mengangguk setuju. "Dalam agama kita, ada rahasia besar di balik itu semua. Ridhallahi fi ridhal walidain. Keridaan Allah itu letaknya pada keridaan orang tua."
Ishaq menatap Tonakodi dan Om Uchen bergantian. "Tuhan itu sangat romantis dengan cara-Nya sendiri. Terkadang, doa-doa orang tua kita adalah perisai yang tidak kita sadari. Mungkin kita luput dari musibah kemarin bukan karena kita hebat, tapi karena orang tua kita sedang menengadahkan tangan di sepertiga malam untuk kita."
Ami terdiam, tampak merenung. "Tapi Ustaz, bagaimana kalau kita merasa sudah berusaha keras, sudah minta restu orang tua, tapi hidup rasanya masih begini-begini saja? Belum bisa seperti orang-orang di media sosial?"
Tonakodi kembali bicara, suaranya seperti embun pagi. "Ami, kembali ke pesan Bapakku tadi. Sederhana itu bukan berarti kekurangan. Sederhana itu adalah kemampuan untuk merasa cukup."
Ia menunjuk ke arah piring-piring di meja. "Kita punya kopi, punya sahabat untuk bicara, punya napas yang lega. Bukankah itu kekayaan? Banyak orang punya gedung tinggi tapi tidak bisa tidur nyenyak. Banyak orang punya mobil mewah tapi tidak punya waktu untuk duduk di sou-sou seperti ini. Seperti pesan almarhum, syukuri yang ada, semoga Allah melipatgandakan nikmatnya."
"La'in syakartum la'azidannakum, wala'in kafartum inna 'adzabi lasyadid." Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. Ayat ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas karunia yang diberikan Allah dalam kadar dan situasi apapun," ujar Ustaz Ishaq.
"Betul itu," sambung Om Uchen dengan nada yang kali ini lebih serius tapi tetap ada selipan humor. "Banyak orang merasa memiliki segalanya, tapi ada penyakit. Akhirnya mau makan saja pilih-pilih, takut ini takut itu, jangan-jangan penyakitnya kambuh. Mending sederhana tapi setiap Sabtu bisa ngumpul ngeledek Om Uly, kan?"
Om Uly melempar kacang ke arah Om Uchen sambil tertawa.
Matahari mulai meninggi, bayangan sou-sou mulai memendek. Obrolan itu perlahan mencapai muaranya. Tonakodi menutup sesi pagi itu dengan sebuah kesimpulan yang merasuk ke relung hati.
"Seperti ustaz Ishaq sampaikan, ridha orang tua adalah pintu masuk menuju ridha Tuhan," ucap Tonakodi.
"Tuhan tidak pernah tutup telinga. Dia akan menyahuti setiap doa orang tua untuk kebaikan anaknya. Tugas kita hanya satu, menjadi anak yang layak didoakan."
Ami mengangguk pelan, tampak mendapatkan jawaban atas pertanyaan jiwanya sebagai anak muda yang terus belajar menyelami dunia. "Jangan pernah berpaling dari orang tua dan meninggalkan Tuhan dalam semua suasana."
Sabtu pagi itu bukan sekadar ritual minum kopi. Di gazebo sederhana Om Uly, mereka belajar bahwa hidup tidak perlu rumit. Bahwa di balik kedisiplinan seorang tentara seperti ayah Om Uchen, atau kelembutan seorang ayah seperti orang tua Tonakodi, tersimpan satu doa yang sama, agar anak-anak mereka selamat dunia dan akhirat.
"Sudah, sudah. Jangan terlalu serius," goda Om Uchen lagi. "Habiskan kopinya. Sehabis ini, siapa yang traktir makan siang? Ingat, kata Tonakodi, hidup itu sederhana. Kalau lapar, ya makan. Dan lebih nikmat lagi kalau yang siap bayar!"
Tawa kembali pecah, memenuhi sudut-sudut halaman, terbang bersama angin menuju langit yang biru bersih. Hidup memang sederhana, jika hati tahu ke mana harus pulang mencari jawaban setiap persoalan. ***
Tana Kaili, 27 Maret 2026

Komentar
Posting Komentar