Pitutur Luhur: Eling Sangkan Paraning Dumadi

Oleh: Temu Sutrisno 

(Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah)




Eling sangkan paraning dumadi dalam pandangan hidup orang Jawa memiliki makna yang sangat mendalam dan filosofis. 

Secara harfiah, Eling berarti ingat atau sadar. Sangkan berarti asal-usul atau dari mana, dan Paraning Dumadi bermakna tujuan hidup atau ke mana akhir kehidupan berjalan.

Makna dari pitutur ini adalah untuk selalu mengingat dan menyadari asal-usul sebagai manusia dan tujuan hidup di dunia ini. Para leluhur mengingatkan manusia dalam kehidupannya agar tidak melupakan jati diri sebagai ciptaan Tuhan.

Pitutur ini juga mengajak manusia berlaku bijak, selalu ingat bahwa hidup memiliki arah dan tujuan yang harus dicapai.

Dalam konteks spiritual, manusia diingatkan dirinya bukan sekadar mahluk, namun berposisi sebagai hamba Tuhan. Semua ciptaan Tuhan adalah mahluk, tetapi tidak semua mahluk adalah hamba.

Bagi orang Jawa, sangkan paraning dumadi juga menjadi acuan yang membedakan manusia berhasil atau memilih sukses. Dua kata serupa beda makna.

Manusia berhasil, standarnya bersifat material. Ketika mampu menggapai tujuan duniawi, ia memperoleh predikat berhasil. Namun bagi manusia sukses, merekalah yang mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang hamba. Manusia yang sadar dirinya diciptakan bukan sekadar sebagai mahluk, namun hamba yang mengabdi pada Tuhannya. Manusia sukses, tahu jalan pulang setelah kehidupan.

Pitutur luhur eling sangkan paraning dumadi jika ditelisik secara mendalam, dimaksudkan agar manusia ingat, bahwa dirinya berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada-Nya. 

Pitutur ini mengajak setiap manusia harus selalu ingat akan keberadaan Tuhan dan bersyukur atas nikmat yang diberikan.

Makna selanjutnya, manusia dibimbing untuk memiliki tujuan hidup yang harus dicapai. Tujuan hidup ini bisa berbeda-beda untuk setiap orang, tetapi pada dasarnya kita semua memiliki tujuan untuk mencari kebahagiaan dunia dan akhirat. 

Manusia yang menjalankan laku eling sangkan paraning dumadi akan senantiasa menempatkan rahmat dan berkah Tuhan sebagai episentrum kehidupannya. 

Dengan memahami dan mengamalkan pitutur eling sangkan paraning dumadi, manusia diharapkan dapat menjalani hidup dengan lebih bijak dan bermakna, karena semua bakal kembali kepada Yang Maha Pencipta, Sang Murbehing Dumadi, awal dan akhir penciptaan.

Dalam praktiknya, pemahaman terhadap eling sangkan paraning dumadi, mewujud dalam prinsip dan sikap hidup, pertama, Manunggaling Kawula Gusti.

Tujuan utama hidup orang Jawa adalah untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan (Gusti). Ini berarti menjalani hidup dengan kesadaran penuh bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Orang Jawa sejak dini diajarkan, bahwa dirinya adalah hamba dan Allah Tuhan yang Maha Kuasa adalah tuannya. Oleh karena itu, menjalani hidup sesuai ajaran Tuhan adalah sebuah keharusan. Pada puncaknya, hidup orang Jawa yang sukses adalah menyatu dan selaras dengan amar Tuhan.

Bagi sebagian orang, manunggaling kawula gusti merupakan jalan tasawuf yang identik dengan ajaran wahdatul wujud Ibnu Arabi atau hulul Al Halaj. Dalam khasanah spritulaisme Islam Jawa, ajaran ini dinisbahkan pada laku Syekh Siti Jenar.

Kedua, Ngabekti.  Orang Jawa percaya bahwa hidup adalah untuk berbakti kepada Tuhan dan sesama manusia. Ini mencakup menjalankan kewajiban agama, menghormati orang tua, dan berbuat baik kepada sesama. Bakti anak pada orang tua, merupakan langkah menggapai berkah Tuhan dan kunci pembuka pintu surga. 

Ketiga, menerapkan prinsip Urip iku Urup. Orang Jawa diajarkan bahwa hidup adalah untuk memberikan manfaat dan cahaya bagi diri sendiri dan orang lain. Prinsip ini membimbing perjalanan hidup dengan penuh makna dengan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Terakhir, Hamemayu Hayuning Bawana. Prinsip ini diartikan bahwa tujuan hidup orang Jawa adalah untuk menjaga dan memelihara keharmonisan dan keindahan dunia. Memelihara keharmonisan alam dan kesejahteraan lingkungan merupakan bentuk ibadah seorang hamba 

Hamemayu hayuning bawana mengarahkan manusia untuk menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran akan dampak tindakannya terhadap lingkungan dan masyarakat di sekitarnya.

Pada akhirnya eling sangkan paraning dumadi, menjadi kompas bagi setiap manusia bahwa hidup harus dijalani dengan dan untuk Sang Murbehing Dumadi, Allah SWT Tuhan yang Maha Pencipta. Dialah Tuhan yang menjadi penguasa, pembimbing, dan tujuan akhir manusia pulang. 

Jalan pulang dan pintu mana yang dipilih? Allah SWT Tuhan yang Maha Adil nan Bijaksana memberikan kesadaran pada manusia untuk memilihnya. Wallahu alam bishawab. ***



Tana Kaili, 7 Juli 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dewi Themis Menangis

Kedudukan DPRD Menurut UU Nomor 23 Tahun 2014

ALIRAN STUDI HUKUM KRITIS (CLS)