Pitutur Luhur: Kaduk Wani Kurang Tata
Oleh: Temu Sutrisno ( Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ) Kaduk wani kurang tata. Pitutur luhur Jawa sebagai salah satu acuan berinteraksi sosial. Bisa jadi generasi milenial dan Gen-Z, asing dengan pitutur luhur ini. Malah sebagian generasi sebelumnya juga tidak sepenuhnya memahami, karena benturan budaya telah menggeser pedoman perilaku ke nilai global (yang seakan-akan) dipandang lebih moderen. Kaduk wani kurang tata, jika diterjemahkan secara bebas kurang lebih bermakna terlalu berani, tapi kurang tata krama atau dalam makna seirama, terlalu berani tanpa mempertimbangkan sopan santun dan aturan. Pitutur ini senada dengan bahasa yang lebih sederhana, wong kang tanpa unggah-ungguh . Leluhur masyarakat Jawa masa silam, melalu pitutur ini ingin mengingatkan pada siapapun dalam interaksi sosial tidak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga memerhatikan tata krama, norma sosial, dan aturan yang berlaku. Jika ditelisik lebih dalam, p...