Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Pitutur Luhur: Kaduk Wani Kurang Tata

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  ( Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah ) Kaduk wani kurang tata. Pitutur luhur Jawa sebagai salah satu acuan berinteraksi sosial.  Bisa jadi generasi milenial dan Gen-Z, asing dengan pitutur luhur ini. Malah sebagian generasi sebelumnya juga tidak sepenuhnya memahami, karena benturan budaya telah menggeser pedoman perilaku ke nilai global (yang seakan-akan) dipandang lebih moderen. Kaduk wani kurang tata, jika diterjemahkan secara bebas kurang lebih bermakna terlalu berani, tapi kurang tata krama atau dalam makna seirama, terlalu berani tanpa mempertimbangkan sopan santun dan aturan.  Pitutur ini senada dengan bahasa yang lebih sederhana, wong kang tanpa unggah-ungguh . Leluhur masyarakat Jawa masa silam, melalu pitutur ini ingin mengingatkan pada siapapun dalam interaksi sosial tidak hanya mengandalkan keberanian, tetapi juga memerhatikan tata krama, norma sosial, dan aturan yang berlaku.  Jika ditelisik lebih dalam, p...

Pitutur Luhur: Ambeg Utama Andhap Asor

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  (Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah) Jawa dikenal dengan nilai-nilai kearifan lokal tinggi, yang meliputi berbagai aspek kehidupan seperti adat, ritual, spiritual, hingga karya seni. Kearifan lokal Jawa ini memberikan nilai-nilai penting untuk panduan kehidupan sehari-hari. Kearifan lokal atau local wisdom atau biasa juga disebut local genius adalah satu istilah untuk nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal, yang tetap bertahan, dan relevan sepanjang zaman.  Kearifan lokal dasarnya adalah pengetahuan dan kecerdasan lokal, bersumber dari nilai nilai agama, adat istiadat, petuah moyang budaya setempat yang beradaptasi dengan perkembangan, sehingga tak lekang oleh waktu.  Salah satu bentuk kearifan Jawa yang masih relevan dengan perkembangan zaman adalah pitutur Ambeg Utama Andhap Asor, yang menjadi panduan etika pergaulan masyarakat Jawa. Ambeg Utama Andhap Asor, jika diterjemahkan secara harfiah kurang...

Pitutur Luhur: Sapa Salah Seleh

Gambar
  Oleh: Temu Sutrisno  (Wakil Sekretaris Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah) "Wong kang bener mesti jejer, sapa salah (bakal) seleh." Pitutur luhur tersebut, hampir pasti diketahui oleh mayoritas masyarakat Jawa. Para leluhur telah meletakkan pondasi etik, bahwa orang Jawa harus mampu membedakan hal yang benar dan salah, mana tindakan yang patut dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan. Kebenaran dan kesalahan seperti minyak dan air, jelas pembatas yang memisahkannya. Wong kang bener mesti jejer, sapa salah (bakal) seleh. Jika diterjemahkan: barang siapa berbuat baik dengan benar niscaya dia akan tegak. Barang siapa berbuat salah dengan cara apa pun pasti dia akan runtuh. Dalam kehidupan sosial, pitutur sapa salah seleh, menjadi ruh budaya jujur bagi masyarakat Jawa. Jika ditelisik dengan kondisi kekinian, pitutur sapa salah seleh, setidaknya memiliki beberapa makna etik, sikap kehati-hatian, dan keadilan. Pertama, sebagai tuntunan etik. Sapa salah seleh, dimakn...