Postingan

Penghianat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno     Dulu Mereka yang dekat kompeni Menjunjung gulden di kepala Melahap roti Memuja keju daripada ketela Pribumi menyebutnya penghianat bangsa Dulu Mereka yang sok jagoan Menakut-nakuti warga Mereka yang menenteng senjata Mengabdi pada bangsa manca Pribumi menyebutnya penghianat bangsa Kini Mereka yang bergembira dolar berkuasa Mereka yang mengeruk untung dari rupiah yang terpuruk Mereka yang kehilangan ruh swadesi Diberi mahkota Dielu-elukan sebagai anak bangsa yang sukses berkarya Kini Mereka yang menakut-nakuti warga Mereka yang menenteng senjata Mereka yang mengabdi pada kepentingan perut Mendapat sebutan terhormat sebagai pejabat Negara Dulu dan kini, apa bedanya? Gulden Dolar Roti Keju Penghianat Ah, itu dulu Kini Pengusaha Penguasa Berdiri di singgasana Bergandengan tangan Mengoplos nafsu Menikmati korupsi menggurita Kini Saat ekonomi bergolak Saat PHK melonjak Kemiskinan me...

Dendang Pagi Hari

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Selamat pagi angin  Selamat pagi awan Hari ini Rasanya kau begitu perkasa Menghalangi mentari Menghalau penat bumi Dia yang tak pernah mengeluh Saat tangan jahil manusia Menggerayangi  Merudapaksa Menggali Membakar salju yang mengering Menggelontorkan lautan menikam permukiman nelayan  Selamat pagi angin Selamat pagi awan Selamat berdendang  Dalam denting sendok dan piring Tarian lidah rancak menelan rasa Saat mucikari turut menjual diri  Saat Politisi berebut simpati Saat pengusaha saling sikut berebut kesempatan setor upeti Teruslah berdendang Mumpung mentari kelelahan  Rapuh mengejar bayangan sendiri Selamat pagi angin Selamat pagi awan Hari ini Drama telah membuka topeng pelakonnya Di tengah ladang yang kian gersang  Pejabat berteriak anggaran dikebiri  Bukankah selama ini mereka berpesta dengan kroni? Ah, mungkin saja mereka takut tak ada lagi yang bisa dikorupsi  Di panggung tanpa penonton penari oligarki penin...

Cinta Selamanya

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno  Dalam pelukanmu, Ku genggam erat cinta Dengan cintamu, aku merasa bahagia Kita berdua, satu hati, satu jiwa Menghadapi hari, dengan gelora asmara  Setia menua bersama, kita berdua Menghadapi semua, dengan cinta sepanjang masa  Tidak ada yang bisa memisahkan kita Kita akan selalu bersama, hingga akhir dunia Kita telah melewati banyak jalan Bahagia dan sedih, kita rasakan Kita tetap bersama tak terpisahkan prasangka Menghadapi semua, dengan romantika indah berwarna  Setia menua bersama, kita berdua Menghadapi semua, dengan cinta sepanjang masa Tidak ada yang bisa memisahkan kita Kita akan selalu bersama, hingga akhir dunia. Tana Kaili, 8 Februari 2025

Satu Mulut Dua Telinga

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Senja di Pantai Kayamanya, Tonakodi menghabiskan waktu bersama teman-teman seprofesinya duduk santai, berdiskusi menyambut Maghrib tiba. Om Uly, Ryan, Ishaq, Simson, dan Ipul asyik berbincang dengan Marco. Bahasannya tidak main-main, mulai dari kondisi ekonomi nasional, global, dan daerah. "Wah ini bisa jadi tema menarik untuk diseminarkan," batin Tonakodi. Bagaimana tidak. Perbincangan dimulai dari kenaikan suku bunga FED, Bank Sentral Amerika, penurunan suku bunga BI, hingga pengaruhnya pada perputaran ekonomi di daerah. Perbincangan juga menyerempet naik turunnya harga saham, perusahaan-perusahaan ternama, khususnya yang sedikit banyak punya afiliasi usaha dengan bos-bos di Amerika. Sore itu, Tonakodi yang biasanya aktif dalam kongko-kongko bersama koleganya, lebih banyak diam. Sesekali menimpali percakapan. Ia banyak mendengar, dan tangannya menulis di sebuah buku kecil lusuh yang selalu dibawa kemana-mana. Buku kecil itu sering menarik perhatian teman...

Bangkitlah dari Kesunyian

Gambar
 Oleh: Temu Sutrisno  Ku kepak sayap Terbang membumbung ke angkasa Ku lihat hutan meranggas gundul ditelan mangsa Ku dengar gunung berteriak digali dirudapaksa   Di bawah sana Tangan ringkih anak negeri Gemetar berharap serpihan sisa Para cukong menepuk paha Menari bersuka ria   Ku menyelam dalam lautan Kepala terantuk pagar Lautan di kapling seperti halaman Ku lihat nelayan Menghela napas kehabisan daya Para garong tertawa kencing mengangkang   Ku susuri perut bumi Dalam gelap jutaan mayat protes dalam nyanyi sunyi Tanah, lautan, udara tergadai Jutaan rakyat terjerat utang yang tak kunjung selesai   Dalam gelora asa Ku ajak mereka bangkit melawan para bandit Jangan biarkan tirani menguasai negeri Dalam bisu berkepanjangan mereka berujar:   "Ajaklah yang berhasrat hidup, angkat tonggak kibarkan bendera, tabuh genderang dan menarilah. Jangan biarkan mereka bangga menghirup kentut sendiri. Sadarkan mereka, jangan tersenyum dalam derita, dininabobokan jan...

Allah pun Bersalawat

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno Minggu pagi, Tonakodi bersama kolega melakukan perjalanan ke luar kota. Perjalanan cukup lumayan jauh, sekira dua ratus kilometer. Sepanjang perjalanan, gema salawat mengiringi lewat tape mobil yang ditumpangi. Hingga waktu istirahat tiba, rombongan berhenti di warung makan, sekalian melaksanakan salat Zuhur. Setelah salat, Tonakodi, Om Uchen, Rian, Ishak, dan Uly ngopi sembari menunggu ikan bakar yang telah dipesan. Tak ingin sunyi dengan main hape, ngopi diisi diskusi kecil-kecilan. Entah siapa yang memulai, akhirnya diskusi sampai pada tema salawat. Tonakodi bercerita, pada saat dirinya masih sekolah, setiap puasa ramadan anak-anak di kampungnya memiliki tradisi mengaji pada ustadz atau kyai tertentu. Sekira empat puluh tahun berlalu, ajaran kyai tentang salawat masih melekat di ingatan Tonakodi. "Pada waktu itu, kyai bilang bahwa salawat merupakan merupakan ibadah yang istimewa," kata Tonakodi. Apa istimewanya? Pertama, salawat adalah perintah ibadah A...

Air Kehidupan

Gambar
Oleh: Temu Sutrisno   Di Dego-dego taman kantor perkumpulan, Tonakodi seperti hari-hari biasa menemani kawan-kawan sekumpulan berbincang. Kali ini temanya agak lari dari profesi yang mereka geluti. Namun tidak jauh-jauh dari fenomena kehidupan. Seliweran kabar di beberapa media, seorang anak tega menghabisi orang tuanya. Penyebabnya mudah diduga, pengaruh barang haram Narkoba. Pak Bas, yang paling senior di antara mereka yang berkumpul hari itu mengungkapkan kekhawatirannya terhadap masa depan bangsa. “Jika hal seperti ini terus berkembang, Narkoba di mana-mana, anak-anak muda terpengaruh, mau seperti apa bangsa ini ke depan?” Pak Bas memulai pembicaraan. “Butuh keseriusan aparat dan kerja sama seluruh masyarakat untuk memberantas. Tidak ada jalan lain, Narkoba mesti menjadi common enemy , musuh bersama,” Om Uchen menimpali. “Bagaimana itu Tonakodi?” Ami memancing Tonakodi turut bicara. “Nakana, so betul Om Uchen bilang. Cocok sudah itu. Tapi ngomong-ngomong, bagaim...