Perbedaan yang Menyejukkan
Oleh: Temu Sutrisno
Langit di ufuk timur masih menyisakan rona jingga tipis yang malu-malu. Sisa embun subuh menggelayut di pucuk-pucuk daun angsana di halaman masjid. Di teras samping yang beralaskan ubin sejuk, Tonakodi duduk bersila, menyandarkan punggungnya pada tiang beton yang kokoh. Di sampingnya, Om Uchen sedang sibuk membetulkan letak sarung samarnya, sementara Om Uly menyelonjorkan kaki sambil sesekali memijat betisnya sendiri.
Suasana tenang. Hanya ada suara sapu lidi marbot yang menyapu halaman dan deru pelan kendaraan yang mulai melintas di kejauhan.
"Tadi itu, kalau dipikir-pikir, hebat ya kita," buka Om Uly sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang masih utuh dan putih. "Ibadahnya sama, Tuhannya sama, tapi kalau sudah urusan hilal, kok ya bisa kayak nonton pertandingan bola yang wasitnya ada dua."
Om Uchen terkekeh, suara tawa seraknya memecah kesunyian. "Ah, kau ini, Uly. Jangan disamakan dengan bola. Kalau bola kan ada VAR, nah kalau hilal ini, VAR-nya ya mata dan hitungan. Masalahnya, yang satu pakai kacamata hitam, yang satu pakai teropong bintang."
Tonakodi tersenyum tipis. Ia merogoh saku bajunya, mengeluarkan sebuah ponsel pintar yang layarnya sudah sedikit retak di pojok atas. "Sini, mendekat sedikit. Kebetulan semalam saya menyimpan potongan video ceramah Sang Kyai. Beliau bicara soal ini, tapi rasanya seperti menyiramkan air es di tengah hari bolong. Sejuk sekali."
Ketiganya melingkar. Layar ponsel itu menampilkan sosok setengah baya dengan wajah yang teduh dan berpenampilan sederhana, bicara dengan nada yang sangat tenang. Video itu berjudul: Perbedaan yang Menyejukkan.
Di layar itu, Sang Kyai tidak langsung menghakimi mana yang benar. Beliau memulai dengan cara yang sangat elegan. Bukan dari "siapa yang benar", melainkan dari "bagaimana cara mereka sampai pada kesimpulan itu".
"Coba dengar ini," bisik Tonakodi saat Sang Kyai mulai memberikan analogi abad 21.
"Tahun 2001 baru saja berjalan," ujar Sang Kyai dalam video, "tetapi kita sudah menyebutnya abad 21. Secara hitungan matematika, itu sah. Belum sempurna seratus tahun, tetapi sudah masuk kategori abad baru. Begitu pula hilal menurut metode hisab. Selama sudah di atas ufuk, meski setengah derajat secara perhitungan sudah ada. Bulan baru sudah dimulai."
Om Uchen manggut-manggut. "Logis juga ya. Secara matematis memang sudah 'ketuk pintu' itu bulannya."
"Tapi tunggu," sela Tonakodi sambil menaikkan volume ponselnya. "Ini bagian untuk kaum rukyat."
Sang Kyai kemudian menggunakan analogi yang sangat khas pesantren, analogi tentang seorang tamu.
"Kalau ada tamu sudah di depan pintu, tapi kita tidak tahu, kita belum wajib memuliakannya. Kewajiban itu muncul ketika kita melihat atau mengetahui kedatangannya secara nyata. Hilal juga begitu. Secara hakikat mungkin sudah ada. Tetapi selama belum terlihat, secara hukum kita masih berada pada bukan yang lama."
Om Uly menepuk dahinya pelan. "Nah! Itu dia! Saya kan orangnya apa adanya, Tonakodi. Kalau mata belum lihat itu lengkungan tipis kayak alis tahun 90-an, ya saya anggap belum ada. Ternyata ada penjelasan fiqihnya, bukan cuma sekadar keras kepala."
Tonakodi mematikan layar ponselnya. Ia menatap kedua sahabatnya itu dengan pandangan yang dalam, namun penuh kelembutan.
"Kyai ingin kita paham perbedaan antara hakikat dan hukum," ujar Tonakodi pelan. "Beliau memberi contoh soal najis. Kalau ada najis di baju tapi kita tidak tahu sama sekali, secara hakikat baju itu memang kotor. Tapi secara hukum, salat kita tetap sah. Islam itu memudahkan, bukan mempersulit dengan sesuatu yang di luar jangkauan pengetahuan kita saat itu."
Om Uchen menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang tampak lega. "Artinya, perbedaan rukyat dan hisab ini bukan fenomena baru karena orang sekarang hobi berdebat, ya? Ini hanya pengulangan dari khilaf yang sudah hidup berabad-abad dalam mazhab."
"Betul, Om Uchen," sahut Tonakodi. "Dulu para imam mazhab juga berdebat, tapi mereka tidak saling unjuk gigi siapa yang paling suci. Mereka unjuk ilmu."
Om Uly, yang biasanya paling blak-blakan, kali ini tampak lebih tenang. "Yang paling menenangkan dari penjelasan Kyai tadi bukan cuma soal dalilnya, berimba Tonakodi, boleh begitu to? Tapi adabnya. Beliau bicara tanpa nada meremehkan yang beda."
Tonakodi mengangguk setuju. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap ke arah halaman masjid yang mulai diterpa sinar matahari.
"Itulah inti sari dari ilmu, Om. Beliau tidak sedang membela satu pihak. Beliau sedang mengajari kita cara melihat perbedaan tanpa kehilangan rasa hormat. Bahwa orang yang berbeda dengan kita belum tentu salah. Bisa jadi ia hanya sedang berjalan di jalur metodologi yang berbeda. Dalam tradisi ulama kita, itu bukan ancaman. Itu kekayaan."
"Tapi Om Uchen," celetuk Om Uly kembali ke watak aslinya, "biar pun metodenya beda, kalau urusan menu buka puasa, kita semua mazhabnya sama kan? Mazhab Es buah wa gorengan-iyah?"
Tawa pecah di teras masjid itu. Om Uchen terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya, sementara Tonakodi hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum satirenya yang khas.
"Itulah satu-satunya kesepakatan yang tidak butuh sidang isbat, Om Uly," pungkas Tonakodi.
Matahari makin meninggi. Perbedaan yang tadinya terasa seperti kerikil di dalam sepatu, kini terasa seperti warna-warni pelangi yang menghiasi langit pagi di teras masjid itu. Mereka bangkit, bersalaman, dan melangkah pulang dengan hati yang jauh lebih lapang daripada saat mereka datang.***
Palu, 18 Februari 2026

Komentar
Posting Komentar